Home » Opini » Agama dan Kematian

Agama dan Kematian

Seorang Kristen taat yang Ex-Yahudi ditanya oleh Bill Maher, “Apakah kamu yakin kalau kamu nanti mati, kamu akan bertemu dengan Yesus Kristus?”

“Tentu saja. Kalaupun itu tempatnya di tempat sampah sekalipun, saya yakin dan saya akan sangat senang karena saya akan bersama Yesus,” tutur Ex-Yahudi ini.

Tiba-tiba Bill Maher nyletuk, “kenapa Anda tidak bunuh diri saja kalau begitu?”

Si Ex-Yahudi ini pun terdiam, bingung menjawabnya.

Ini adalah salah satu adegan di film dokumenter Religulous. Film yang intinya ngomong gini: “Ngapain repot-repot beragama, wong agama itu justru berbahaya bagi manusia, kok.”

Melihat film ini saya bukannya tersinggung, tapi malah tertawa (ini serius, bung!) karena saya merasa ditantang oleh Bill Maher (pembawa acara di film dokumenter ini) untuk semakin mempelajari lagi agama saya.

Saya bukannya mau meresensi film ini, saya cuma mau mencoba memaknai apa yang coba dikritisi Bill Maher lewat film yang mesti Anda tonton kalau Anda merasa beragama.

Karakter Bill Maher mirip-mirip dengan Karen Amstrong (penulis History of God) yang tidak sedang mempersoalkan keberadaan Tuhan, namun mencoba kritis agama-agama yang kini hadir melengkapi hidup manusia. Uniknya, keduanya mengaku sebagai Atheis yang taat dan sama-sama DO (Drop Out) dari Kristen Katholik.

Keberadaan Tuhan bagi Maher dan Amstrong tidak perlu dipertanyakan lagi karena hal itu merupakan esensi kebutuhan bawah sadar manusia. “Tuhan” yang dimaksud mereka adalah proyeksi manusia, jadi wujud “Dia” bisa apapun bagi setiap manusia.

Barangkali dulu manusia primitif memandang pohon besar bisa melindungi dirinya dari hujan, maka disembahlah pohon itu. Melihat hutan bisa memenuhi kebutuhan mereka, disembahlah hutan, sampai kemudian era peradaban sampai pada titik di mana matahari disembah. Yang unik  era pengagungan matahari terjadi di hampir seluruh kebudayaan yang tercatat dalam sejarah manusia.

Sampai kemudian Ibrahim dengan revolusioner memunculkan konspesi “Tuhan” yang abstrak yang tidak akan bisa dijamah oleh rasional manusia. Tuhan keberadaannya ada di langit, kenapa langit? Langit dipilih karena merupakan simbol yang tidak akan bisa digapai oleh manusia karena makna universalnya yang terlalu luas.

Semakin universal simbolnya maka probabilitas untuk dimaknai menjadi apapun menjadi sangat fleksibel dan akan bertahan cukup lama. Namun kejeniusan Ibrahim tidak hanya itu, ia meletakkan kebenaran adanya Tuhan ada di hati masing-masing manusia.

Sangat abstrak mungkin bagi Anda?

Tentu saja. Sekarang lebih mudah untuk bicara Islam, Kristen, dan Yahudi daripada agamanya Ibrahim, tapi jangan lupa, induk kesemuanya ini ada pada pemikiran briliant seorang Ibrahim. Bahkan, ketiga agama modern itu lahir dari keturunan Ibrahim pula. Putra Ibrahim, Ishak merupakan Mbah buyutnya Musa dan Isa (Yesus), sedangkan Ismail merupakan Mbah buyutnya Muhammad.

Jadi, tidak salah kalau filsuf yang mengembalikan esensi ketuhanan manusia itu ada pada sosok Ibrahim bukan? Jauh lebih luar biasa daripada seorang Plato, Socretes, dan Aristoteles sekalipun.

Lalu kenapa manusia butuh Tuhan?

Jawabannya simple: mati.

Yup, karena ada kematian maka manusia butuh Tuhan. Karena Tuhan terlalu abstrak untuk dipikirkan maka manusia membutuhkan hukum, syariat, atau jalan untuk bisa mendekatkan dirinya pada Tuhan.

Kematian benar-benar merupakan sosok paling mengerikan bagi semua yang hidup. Karena kematian bukan merupakan pengalaman berulang yang bisa diteliti secara empiris. Mati merupakan pengalaman yang diyakini akan tiba namun manusia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya, makanya manusia takut.

Ini seperti halnya bayi yang baru lahir di dunia. Bayi menangis meraung-raung karena ia menemukan pengalaman baru yang mengerikan. Dulu ia berenang di air ketuban di rahim ibunya dengan nyaman, tapi kemudian ia keluar di dunia yang tidak bisa dipahaminya, tidak bisa diprediksinya, karena masa 9 bulan di rahim ia tidak menemukan tempat untuk mempelajari dunia yang akan dihadapinya nanti. Semuanya baru, berbeda, dan tidak sama dengan perkiraannya.

Shock si bayi yang ditandai dengan menangis ini sama seperti halnya shock-nya manusia yang mati. Ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya nanti, apa yang menunggunya, dan dunia macam apa yang akan dia tinggali berikutnya.

Nah, disilah agama mulai bermain. Makanya, sampai kapanpun Bill Maher ingin “menyadarkan” seluruh umat manusia untuk “jangan beragama” ia tidak akan berhasil sebelum ia bisa menjelaskan lebih dulu dengan pasti apa itu kematian.

Toh, ketika si Ex-Yahudi tadi ditanyai Bill Maher, “Kenapa tidak bunuh diri saja?” lalu ia diam saja itu tanda bahwa—bahkan—orang yang secara spiritual merasa kuat sekalipun tetap saja akan menghindari kematian. (Syafawi Ahmad Khadafi)

“Semua orang memuji-muji surga, tapi tidak ada yang mau pergi ke sana sekarang juga.”

James Baldwin Penulis, Aktor

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …