Home » Opini » Attaturk yang Iri Hati

Attaturk yang Iri Hati

 

 

http://www.agricultureguide.org/wp-content/uploads/2009/05/mustafa-kemal-ataturk-resimleri-11.jpg
http://www.agricultureguide.org/wp-content/uploads/2009/05/mustafa-kemal-ataturk-resimleri-11.jpg

Seorangkawan dari Turki bercerita tentang Mustafa Kemal Attaturk kepada saya. Dalam perkenalan kami yang baru 2-3 jam itu, saya bertanya, “Saya kira Turki juga pernah memiliki diktator, no?”. Ia menjawab: “Ya, tapi kamu akan tahu bedanya ia dengan diktator-diktator lain di Eropa.”

“Jika kamu ke Jerman, Fa” katanya, “kamu tak akan menemukan foto Adolf  Hitler di hotel manapun. Tapi jika kamu pergi ke Turki, kamu tak akan menemukan satu hotel pun yang tidak menggantung poster Attaturk.”

Kawan saya itu benar, saya kira. Jules Archer, seorang wartawan Amerika yang menulis biografi-biografi singkat diktator di dunia, menjelaskan pula bahwa setelah Attaturk mangkat, rakyat Turki mulai melihat berbagai macam hal yang dilakukannya secara lebih terbuka. Turki, untuk pertama kalinya, dapat menunjukkan wajahnya ke dunia. Kendati demikian, modernisasi akan selalu meminta ideologi yang berlawanan untuk ditumbangkan.

Ya, ia menggulingkan Sultan. Ia juga mengubah aksara Arab ke aksara gubahannya sendiri, melepaskan jilbab-jilbab dari kepala wanita Turki, dan yang paling parah, mengganti adzan dengan bahasa Turki. Kekejaman yang dia lakukan terhadap lawan-lawan politiknya mau tak mau mesti dimasukkan dalam daftar kesewenang-wenangannya yang mutlak.

Satu hal yang perlu digarisbawahi atas segala tindakannya, adalah kenyataan bahwa ia menganggap Islam sebagai faktor penghambat modernisme. Islam, dalam benaknya, akan selalu berkaitan dengan feodalisme, dan feodalisme akan melulu membikin rakyat sengsara. Mendadak, ia menjadi seorang tokoh militer yang tampak “anti-Islam”.

Saya tak tahu kenapa Attaturk tidak mencari wajah Islam “yang lain” yang pernah dikenalnya. Tindakannya yang mendiskreditkan Islam seolah menganggap bahwa agama yang satu ini mutlak bertentangan dengan segala kemajuan. Pola pikirnya dapat dengan mudah digambarkan seperti ini: modern itu Eropa, Eropa itu sekuler, sekuler itu menentang fanatisme agama dan perannya dalam pemerintahan. Maka, Turki harus menjadi sekuler.

Turki, dengan kata lain, pernah iri hati terhadap Eropa.

Namun, peradaban selalu mempunyai puncak kejayaannya sendiri. Dengan banyak daerah jajahan, pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20, Eropa praktis dapat dibilang berkuasa atas penduduk dunia. Refleksi dari semua itu akan menganggap suatu masyarakat yang modern, beradab, dan maju, pasti ada di Eropa.

Attaturk mungkin lupa, bahwa ratusan tahun sebelumnya, orang-orang Eropa sendiri pernah merasakan hal yang sama. Sepanjang abad pertengahan, dengan kemajuan dunia Islam (Spanyol, Baghdad, dan Afrika Utara) yang begitu pesat, muncul pula kekaguman bangsa Eropa atas mereka. Namun, kekaguman ini tak pernah diungkapkan secara eksplisit dalam literatur-literatur mereka. Pasalnya, Eropa tengah berada dalam kungkungan gereja.

Dengan kekuasaan yang hampir tidak terbatas, gereja berhak menentukan segala aspek dalam kehidupan masyarakat, terlebih dalam kehidupan beragama. Intelektual-intelektual yang lahir pada abad-abad ini turut menyelaraskan pengetahuan mereka tentang filsafat dan lain-lain ke dalam norma-norma Kristen. Sehingga, apa pun yang dipandang sebagai selain Kristen, akan dianggap pula sebagai kesesatan.

Thomas Aquinas dan Peter the Venerable adalah dua tokoh yang terus-menerus menyuarakan hal itu. Berbeda dengan Attaturk yang ketika ia melihat “yang lebih baik” dan kemudian mengikutinya, Aquinas dan Peter berusaha untuk mencari pembenaran bahwa kebudayaan yang selain Kristen itu (baca: Islam dan Asia Barat) tidak lebih baik dari pada kebudayaan mereka sendiri. Pedro de Alfonso, salah seorang intelektual Eropa pada abad ke-12, bahkan pernah menulis sebuah ringkasan mengenai Islam dan penolakan atasnya.

Mitos-mitos tentang Islam pun berkembang. Montgomey Watt, penulis Islam dan Peradaban Dunia, mencatat setidaknya ada empat tuduhan yang dilontarkan para intelektual abad pertengahan kepada Islam, yaitu: (1) Islam adalah agama palsu dan pemutarbalikan kebanaran, (2) agama kekerasan dan pedang, (3) agama kenikmatan diri, dan (4) Muhammad sebagai anti Kristus. Melalui mitos-mitos yang dicobalanggengkan ini, seperti yang ditulis Watt, orang-orang Kristen Eropa secara bertahap mencapai kesadaran diri mereka. Lambat laun mereka mulai mafhum atas keterbatasan diri dalam ranah teknologi, ilmu pengetahuan, dan kesenian.

Dari sinilah, menurut Watt, kesadaran diri Eropa dan keinginan mereka untuk lebih maju muncul. Tak salah jika Watt menulis juga bahwa bangsa Eropa memiliki hutang yang amat besar atas keirihatian mereka tersebut.

Memang banyak terjadi perubahan pada dunia Islam sejak Perang Salib hingga abad pencerahan di Eropa. Kekhalifahan Ottoman yang berjalan berabad-abad dan mengalami masa kemundurannya, kemudian dijuluki sebagai The Sick Old Man. Penjelajahan besar-besaran dilakukan Eropa dan koloni-koloni di belahan dunia yang lain bermunculan. Namun, semua orang kiranya tak akan melupakan bahwa pernah ada kejayaan peradaban Islam di masa lalu.

Agak mengherankan jika Attaturk tidak mencari “wajah Islam” yang lain, yang pernah jaya. Sungguh sayang ia buru-buru mengambil kesimpulan bahwa dekadensi akan selalu bersandingan dengan agama. Maka, jika Turki lewat Mustafa Kemal Attaturk beratus-ratus tahun setelahnya memiliki rasa iri terhadap orang Eropa atas kemajuannya, sejarah telah dilupakan sebagai aspek dimana masyarakat (atau sebuah bangsa) mesti belajar. (Aufannuha Ihsani)

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …