Home » Opini » Cerita Maba FIK Tentang Kronologis Aksi Balik Badan

Cerita Maba FIK Tentang Kronologis Aksi Balik Badan

Maba balik badan saat UKM Unstrat tampil
Beberapa maba masih curi-curi pandang saat dikoordinir untuk balik badan saat UKM Unstrat tampil

Bila orientasi Studi dan pengenalan kampus (OSPEK) bermaksud mengenalkan kampus pada mahasiwa baru (maba), alhamdulillah, saya sudah kenal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sejak kelas 4 SD. Bahkan mungkin, saya lebih dahulu kenal UNY dibanding kakak-kakak pemandu OSPEK, bahkan dibanding kakak-kakak tingkat.

Hari itu hari ke dua OSPEK, agenda selama sehari penuh adalah display (pertunjukan) dari semua unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di UNY. UKM adalah wahana berorganisasi untuk mahasiswa di tataran universitas, jadi semua mahasiswa tanpa pandang fakultas bisa masuk ke sana. Mahasiswa FIK boleh gabung UKM paduan suara, mahasiswa Fakultas Teknik  boleh gabung UKM Karate, semacam itulah.

UKM-UKM mulai tampil satu per satu. Setiap ada penampilan yang mengagumkan kami, pemandu akan menyuruh kami untuk memberi salam bersama-sama, sebagai bentuk penghargaan. Kebanyakan salam disampaikan pada UKM-UKM yang identik dengan fakultas tertentu. Semisal Koperasi Mahasiswa (Kopma) UNY yang diambut riuh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi. Atau FBS yang selalu bergemuruh ketika aksi teatrikal tampil. FIK tentu saja menyambut hangat UKM yang berbau olahraga.

Namun ada satu kejadian yang saya kurang suka hari itu.

Saat itu Unit Kegatan Kerohanian Islam (UKKI) tampil. Saya merasa heran karena maba FIK diperintahkan menyambutnya dengan luar biasa. “Waduh, penyambutan macam ini berbau SARA, dan itu tidak bagus,” saya membatin. Apakah pemandu tidak terpikir akan perasaan maba FIK yang bukan muslim? Beragama dan bermoral itu bagus, tapi menghargai umat beragama lain, saya kira itu tak kalah penting.

Tidak berhenti sampai di situ saja, maba FT pun melakukan hal yang sama, dan sepertinya FISE dan FIP turut menyambut UKKI dengan luar biasa. Baiklah, sejauh ini saya masih menganggap itu normal, karena mayoritas maba itu memang beragama Islam.

Jikalau di atas berbicara tentang menghargai yang menurut saya berlebih dan mengandung SARA, sekarang saatnya saya menceritakan sikap-sikap tidak menghargai yang terjadi saat display UKM hari itu.

Yang pertama adalah sikap yang identik dengan agama yang dibawa oleh Fakultas Teknik (FT) ketika mereka serentak berucap “astaghfirullah saat display berlangsung. Istigfar berjamaah dan berlindung pada payung besar FT yang seakan-akan seisi FT memohonkan ampun untuk sesuatu. Jargon itu keluar untuk yang pertama kalinya ketika display UKM Kamasetra yang mengusung seni budaya. Dalam pentas Kamasetra memang ada adegan perkelahian, cocok jika maba FT mengeluarkan jargon mereka. Semua maba saya rasa terkesima juga dengan jargon FT untuk pertama kalinya keluar. Menghibur, mengkritik, serta sangat menyalurkan aspirasi.

Akan tetapi jargon tersebut menjadi sering dilontarkan setiap ada pertunjukan seni dari beberapa UKM. Saya pikir, ada yang aneh di sini. Contoh, saat UKM marching band tampil. Di sana ada tarian yang dilakukan berpasangan perempuan-laki-laki. FT kembali mengeluarkan jargonnya. Saya tidak tahu apa motif mereka: untuk lucu-lucuankah? (karena banyak banyak  maba yang malah tertawa mendengarnya).

Padahal ini seni! Seni itu indah, seni itu bukan nafsu. Tidak ada agama yg tidak mengajarkan keindahan, tidak ada agama yang menyalahkan keindahan. Memang mereka bukan muhrim namun mereka bergandengan dan menari riang atas dasar seni dan ingin memberikan rasa indah kepada semua penonton, bukan dengan landasan nafsu.

Masih ada masalah yang lebih gila lagi.

Seorang pemandu seharusnya hanya memandu, bukan memprovokatori atau mengarahkan maba sesuai keinginannya. Tapi apa yang saya temukan? Jauh sebelum ada UKM yang tampil, maba FIK sudah diarahkan oleh seorang panitia OSPEK berinisial NGD. “UNY kampus bermoral dan religius,” katanya, “Nanti kalau ada UKM yang tampil telanjang atau berbau kebanci-bancian kita semua balik badan atau menghadap ke belakang.”

Balik badan? Berarti kita tidak bisa melihat acara yang berlangsung. Ini jelas tidak menghargai orang lain sama sekali, dalam hal ini UKM yang berlatar belakang seni. Ini bisa dianggap sebagai pelecehan.

UKM yang dimaksud tampil. Mereka menyajikan aksi teatrikal yang kurang lebih seperti ini: beberapa orang anggota suku pedalaman tengah memainkan musik di atas panggung. Selayaknya suku pedalaman, mereka tidak memakai baju melainkan telanjang dada atas. Mereka semua laki2. Tubuh mereka dicat warna-warni bercorak sehingga menyamarkan warna dan bentuk tubuh aslinya. Mungkin semacam body painting, lagipula susah membedakannya karena jaraknya jauh, dilihat dari atas pula, tidaklah terlihat detail tubuh mereka. Mereka juga tetap mengnakan celana plus rumbai-rumbai. Sangat nyeni.

Yang terjadi kemudian adalah, pemandu FIK yang mayoritas laki-laki berseru pada maba FIK untuk berbalik badan. Apa mereka takut puasa mereka batal karena terangsang setelah melihat laki-laki yang tidak memakai baju? Hingga kini motif mereka tak jelas, karena tidak ada penjelasan tentang itu sampai sekarang kepada maba. Mereka tidak menghargai UKM.

Tidak hanya FIK, FT pun berinisiatif serupa. Beberapa waktu kemudian aksi maba FIK atas perintah pemandu disusul maba FISE dan FIP yang juga balik badan. Bahkan saya masih ingat sekali, pemandu FIK menyuruh mabanya untuk berteriak, “MIPA, MIPA, MIPA, MIPA.” Teriakan tersebut dapat diartikan sebagai ajakan. Ajakan kepada MIPA untuk turut tidak menghargai dengan cara ikut balik badan.

Cukup lama juga FMIPA teguh, tapi setelah itu FMIPA tidak pada pendirian semula, mereka ikut berbalik badan. FMIPA demikian mungkin karena merasa tidak enak dengan empat fakultas lain yang menyuruhnya balik badan. Saat menghadap belakang, pemandu FIK menyerukan, “UNY kampus bermoral dan religius”— tentu saja doktrin tersebut diikuti oleh maba FIK.

Maba FIK balik badan
Maba FIK balik badan

Ironis sekali, pemandu mendoktrin maba untuk tidak menghargai. Apakah UKM tersebut tidak bermoral dan religius? Bisa jadi benar jika UKM tersebut tidak religius, karena UKM tersebut bergerak bukan di salah satu agama. Tapi saya tetap yakin anak-anak UKM tersebut beragama dan beriman kepada Tuhan.

Tapi jika disebut tidak bermoral? Tentu saja hal itu tidak bisa dibenarkan. Tak bermoralkah sesorang yang memiliki ekspresi dan dituangkan di pertunjukan itu? Tak bermoralkah seseorang yang tampil dengan semangat jiwa seni yang tinggi di depan pangung itu? Mereka bercelana, badan mereka bercat, mereka sedang berusaha merepresentasikan karakter orang suku pedalaman. Tak bermoralkah? Atau suku-suku di pedalaman yang tidak bermoral? Tentu saja pikiran yang mengangap semua itu tidak bermoral adalah salah. Jiwa seni memang rentan dikaitkan dengan kemoralan. Alih-alih aurat, itu hanya ada dalam Islam, bagaimana hukum di agama lain? Lalu bagaimana dengan maba yang bukan muslim? Apakah mereka perlu mengikuti doktrin itu?

Di sinilah diperlukan sikap kritis seorang mahasiswa. Jangan hanya menurut apa kata pemandu. Kita harus berpikir, jangan asal ikut-ikutan saja, apa lagi orang itu baru saja dikenal.

***

Seingat saya, FT yang pertama kali kembali menghadap ke depan, sedangkan FIK yang tadinya berdiri justru dikomando untuk duduk menghadap ke belakang supaya lebih enjoy. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan FIP, karena memang tidak terlihat oleh saya, FISE masih tetap berbalik badan. Saya sendiri, karena merasa tontonan itu tidak mengandung SARA, santai saja menonton display UKM sambil cengegesan dan menggoda maba lain untuk melihat pertunjukan. Saya sama sekali tidak takut jika saya nanti ditegur oleh pemandu. Saya sudah siap menjawab dengan satu juta argumen saya.

Akhirnya, seseorang berambut gondrong datang menemui pemandu FIK di tengah-tengah kami. Bisa jadi dia dari FBS atau panitia display. Ia menegur dan menyuruh pemandu FIK agar bisa menghargai UKM yang tampil. Orang itu tidak bertemu dengan NGD,  hanya menemui sebatas level pemand. FIK pun kembali menghadap ke depan.

Saya tidak suka terhadap sikap pemandu FIK yang saya nilai tidak sportif karena tidak menghargai orang lain, sedangkan bila dirinya tidak dihargai, FIK tidak terima. Begitu pula FISE, FIP dan khususnya FT, saya rasa mereka juga tidak sportif.

Ketidaksportivan terus terjadi selama display UKM berlangsung. Karena memang kebanyakan UKM yang tampil berbasic seni. FBS sendiri begitu gempita mnyambut setiap UKM yang tampil, lebih-lebih UKM yang menampilkan tari, lagu, ataupun perpaduannya. Contoh saja waktu UKM Magentatampil, ada tiga orang membawakan lagu “Aku Bukan Bang Toyib” dalam versi remix hip hop dan dance electric. Maba FIK yang turut larut dalam performa UKM tersebut, ingin ikut menari dan. Sayang, mereka tidak berani karena pemandu membatasinya. Ada pula yang terlanjur gengsi karena sejak awal memang sudah “tak apresiatif” dengan display. Saya yakin tidak sedikit maba yang  jengkel atau iri karena tidak bisa menari seperti halnya maba FBS, karena dilarang oleh pemandu.

Fakta yang saya dapat, ada salah satu maba FISE yang nekat ikut jingkrak-jingkrak. Akan tetapi apa yang ia dapat? Bukannya teguran atau sapaan mesra, maba ini malah di toyor.

Saya cuek dan terus saja ikut bergoyang, bertepuk tangan, dan kadang menangguk-anggukkan kepala. Teman saya yang juga pemandu, inisialnya WYU, berdiri di antara kubu FBS dan FIK. Ia mengajak saya bergabung dengannya. Ia juga bilang, “Wah pemandune ra beres.”

Karena sikap saya, ada maba FIK yang pindah duduk ke dekat saya dan bertanya kurang lebih begini: “kamu Katholik apa Kristen, sih?” Saya jawab dengan, “Saya Islam, tapi saya mengerti dan menghargai seni.” Saya juga menjelaskan kepadanya bahwa UNY itu kampus negeri, sehingga tidaklah tepat bila menjadikan sifat mayoritas Islam menjadi doktrin kepada maba. UNY bukan UIN, UMY, atau UII

Ketika waktu salat Zuhur tiba, tanpa menghargai MC sebagai, pemnadu betreiak-teriak, “salat,  salat!” berulang-ulang. UNY kampus bermoral dan religius katanya, tapi mau salat kok malah teriak-teriak? Seharusnya kita tahu bahwa waktu untuk salat sudah diatur dalam jadwal. Apa salahnya bersabar dan menunggu, toh waktu salat juga belum mendekati habis.

Maba FIK diarahkan untuk salat Zuhur di kampus FIK barat. Gugus saya nihil pemandu, yang laki-laki sedang tidur, yang perempuan mugkin sedang pergi.

Maba kembali ke GOR. Kali ini pemandu FIK berkata, “ Ya sudah, jangan balik badan, kalau ada yang tidak senonoh, kita tutup mata pakai slayer

Selama jalannya acara, ada yel untuk membuat “ombak”. Uniknya, FBS sama sekali tidak mengikuti alur ombak itu, FMIPA pun demikian, hanya sebagian kecil yang mengikuti alur ombak. Setiap ombak itu melalui FMIPA dan FBS, ombak berlalu begitu saja dan diteruskan oleh fakultas yang berada di sampingnya.

Sikap FBS dan FMIPA dianggap sebagian maba sebagai sikap ketidakkompakan. Padahal jelas, membuat ombak terus menerus saat salah satu UKM tampil juga merupakan sikap kurang menghargai. Bahkan jelas ditegaskan MC bahwa dianjurkan bagi pemandu untuk mengkondisikan maba agar tidak membuat yel dan semacamnya. MC pun kerap kali kewalahan menghadapi ulah pemandu.

Puncaknya, FIK keluar dari GOR meskipun MC belum menutup acara. Saat FIK keluar, FT menyambut kepergian tersebut dengan yel mereka.

***

MC acara display sudah memperingatkan, “demi kelancaran acara mohon setiap fakultas tidak melakukan yel-yel.” Ada yang tak mengindahkan. Saya meringkas sikap fakultas-fakultas terhadap display UKM tersebut:

1. FBS
FBS mampu menghargai setiap UKM yg tampil. Mereka bersemangat dan tidak terprovokasi. Tidak membedakan setiap agama dan menjunjung tinggi budaya serta kedamaian dengan salamnya. FBS tidak terpancing emosi, menunjukkan bahwa mereka benar benar cinta damai, berbudaya, dan beradab. Mereka paling sedikit mengeluarkan yel yang mengganggu.

2. FMIPA.
Mengeluarkan yel hanya pada situasi yang tepat. Memberikan apresiasi kepada UKM yang tampil. Tidak terprovokasi, tidak ikut ombak. Tidak bisa di sebut tidak kompak juga karena ada sedikit maba yang mengikuti alur ombak. Mereka ikut berbalik badan setelah mereka mendapat sorakan dari fakultas lain selain FBS, meski dengan suara lirih.

3.FIP
FIP mengapresiasi beberapa UKM yang sedang tampil di saat FIK, FT, dan FISE tidak mengapresiasinya. Mereka kompak (untuk ikut ombak, dll) walau suara dari fakultas ini terdengar paling lirih.

4. FISE
Hampir serupa dengan FIP, namun apresiasi mereka tidak lebih besar dari FIP. Yel terlalu sering mereka bawakan. Cukup merepotkan MC untuk beberapa kali

5. FT
Mereka kurang menghargai UKM yang tampil. Banyak yel yang dinyanyikan, cukup mengganggu MC. Banyak provokasi yang dimulai olah fakultas ini sendiri. Seperti jargon “astaghfirullah”, “alhamdulilah”, dan insiden balik badan.

6. FIK
Banyak sekali provokasi yang dilakukan, banyak sikap yang kurang, bahkan tidak menghargai UKM yang tampil. Dapat berarti pula tidak mengindahkan pula aturan MC selaku sie acara display dengan yel maupun sikap yang diambil, seperti balik badan dan diam. (Faizal Nurrahman | mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi 2011 FIK UNY)

Check Also

Komune Sebagai Budaya-Tanding: Memungkinkan Ketidakmungkinan

Oleh Laksmi A. Savitri (Dosen antropologi UGM) La comuna o nada (the commune or nothing) …

  • Cah MIPA

    Tahun 2007 dan tahun 2008 ketika saya ikut ambil bagian dalam panitia ospek FMIPA malah kubu terbagi menjadi dua. Kubu agamis dan kubu ‘biasa saja’. Tahulah ya kubu agamis ini kalau di FMIPA siapa-siapa saja orangnya dan organisasinya sementara kubu ‘biasa-biasa saja’ orang-orang yang ga mau MIPA terlalu agamis. Lumayan jadi polemik, mulai dari pemandu yang rata-rata dari organisasi islam MIPA sampai kebanyakan tema acarapun di arahkan ke hal-hal islam. Contohnya aja tema saya waktu itu “Pendidikan Profetik” ingin seperti Nabi. Nyatanya? Hehe MIPA hanya menjadi ‘milik’ segelintir kaum. Saya kira pendidikan tinggi menawarkan pemikiran yang lebih terbuka ternyata ga beda jauh dengan anak-anak SD, SMP dan SMA. Kolaborasi sangat minim, faksi-faksi terjadi. Seolah-olah terkotak-kotak jadi religus dan tidak religius. Lihat aja semua pembicaranya berasal dari organisasi islam. Setidaknya membawa label seperti itu. Sebagai alumni saya titip pesan untuk adik-adik. Ikutilah UKM kesenian yang ada di UNY sebab dulu saya ga ikut nyesel pikiran jadi cupet susah srawung dan kalau adik2 ikut UKM kesenian di UNY saya yakin pasti bisa diterapkan di sekolah adik-adik suatu hari nanti. Sekalian juga adik-adik ikut UKM Islami di UNY untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat. Hehehe