Home » Resensi » Buku » Mendompleng Taiko

Mendompleng Taiko

The Swordless samuraiJudul Buku             : The Swordless Samurai

Penulis                     : Kitami Masao

Cetakan pertama  : Juli 2009

Cetakan kedua       : Juli 2011

Penerbit                   : Redline Publishing

Tebal                     : 262 halaman

Zaman Sengoku (abad 16) tercatat sebagai zaman paling kacau dan paling berdarah dalam sejarah Jepang klasik. Pertempuran antar klan (nama keluarga yang menguasai daerah tertentu atas persetujuan kaisar) sebagai penguasa wilayah berlangsung selama 133 tahun sebelum akhirnya Togukawa berhasil menjadi klan yang muncul sebagai pemenang.

Meskipun keluar sebagai pemenang, Tokugawa tidak banyak disebutkan dalam catatan sejarah sebagai klan yang kuat. Ieyasu sebagai Jenderal juga dikatakan masih kalah pamor dengan pemimpin klan lainnya seperti Nobunaga Oda atau Hideyoshi. Dalam catatan “Bukoyawa”misalnya, dikatakan bahwa Tokugawa masih kalah superior dengan Hideyoshi.

Buku yang ditulis awal zaman Edo, tepat ketika Tokugawa memindahkan kekuasaan dari Kyoto ke Edo ini mengatakan bahwa Tokugawa hanya dipermudah memenangkan perang karena pasukan Hideyoshi sudah hancur ketika pulang ke Jepang setelah menginvasi Korea. Catatan itu juga menyebut Hideyoshi sebagai jenderal terbesar Jepang dan titisan dewa karena mampu membuat benteng dalam waktu satu malam.

Hideyoshi merupakan salah satu pelayan Nobunaga. Hideyoshi tidak pandai bela diri, namun Ia adalah aktor dibalik kesuksesan Nobunaga memenangkan hampir semua perang yang berkecamuk. Tangan kanan Nobunaga ini menjadi pemimpin klan setelah ia memenggal kepala Mitsuhideyang telah membunuh Nobunaga di kuil Honijidan mengangkat dirinya sebagai wakil dari Nobunaka yang mewarisi darah Nobunaga. Hebatnya lagi, ia bukan keturunan bangsawan. Pemimpin yang akhirnya menjadi wakil kaisar ini menjadi satu-satunya pejabat yang berasal bukan dari golongan bangsawan Jepang.

Cerita mengenai Hideyoshi memang selalu menarik untuk dituliskan. Ada beberapa buah buku yang telah diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang mengisahkan kisah hidup dan sepak terjang Hideyoshi dalam Klan Oda. Salah satunya adalah buku fiksi sejarah yang ditulis Eiji Yoshikawa, Taiko.

Buku paling anyar mengenai Hideyoshi bertajuk The Swordless Samurai yang ditulis oleh Kitami Masao.Kabarnya, buku ini di Jepang laris terjual. Hal inilah yang menjadi alasan dicetak ulangnya buku ini Juli lalu. Buku setebal 262 halaman ini menceritakan mengenai kepemimpinan Hideyoshi mulai dari kepala dapur di Klan Oda hingga diangkat menjadi wakil kaisar.

Cerita dimulai ketika Hideyoshi yang pada saat itu berumur 17 tahun memberanikan diri mengabdi pada Nobunga. Mulanya Nobunaga enggan mempekerjakannya karena melihat tampang dan fisiknya yang tidak ideal dijadikan tentara. Namun setelah melihat kecerdasan Hideyoshi bernegosiasi dengannya, ia kemudian mengangkatnya sebagai pelayan.

Selanjutnya, karena kerja kerasnya ia secara cepat mendapat kenaikan pangkat. Hideyoshi, yang mula-mula bekerja sebagai pembawa sandal diangkat menjadi kepala penyedia kayu bakar karena menemukan cara mendapatkan kayu tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Dari sana kemudian prestasinya terus melesat hingga diangkat menjadi Jenderal perang Klan Oda.

Ingin mendapatkan kekuasaan lebih, secara tak sadar Hideyoshi telah menjadi seorang Machiavellis. Setelah menguasai Jepang, timbul keinginannya untuk menguasai daratan Korea. Namun keinginannya pupus setelah pasukan Korea yang dibantu Cina berhasil menghancurkan pasukan Oda.

Cerita Hideyoshi dalam buku ini semuanya bisa kita dapatkan dalam Taiko. Fakta-fakta sejarah dalam buku ini juga bisa kita temukan dalam buku karya Eiji tersebut. Tidak ada kebaruan fakta sejarah didalamnya kecuali pelurusan cerita pembangunan benteng dalam waku satu malam yang tertulis dalam Bukoyawa.

Setiap peristiwa yang dituliskan dalam buku ini sama persis dengan apa yang diceritakan Eiji dalam Taiko. Namun di buku ini penulis menyelipkan pesan-pesan berbau motivasi ketika selesai menceritakan peristiwa yang dialami Hideyoshi.

Adapun nilai tambah dari buku ini hanyalah gaya kepenulisan Kisami yang menggunakan kata ganti orang pertama dalam bercerita. Kita akan serasa seperti membaca sebuah catatan harian yang dituliskan langsung oleh Hideyoshi. Membaca buku ini, anda akan serasa tengah berdialog dan serasa tengah diberikan motivasi-motivasi oleh Hideyoshi langsung. Bagi anda pecinta buku-buku motivasi, buku ini layak untuk menambah koleksi anda. Sebaliknya, jika anda pecinta buku-buku sejarah, terutama sejarah Jepang, kiranya buku-buku karya Eiji Yoshikawa lebih layak untuk disimak. (Swadesta Aria W.)

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …