stickyimage

http://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe1.pnghttp://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe2.pnghttp://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe3.pnghttp://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe11.pnghttp://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe21.png

Jaka Tarub Bersepatu Boot

MOBIL sedan itu melaju dan berhenti tepat di halaman rumah megah dengan keramiknya yang mengkilat. Seorang laki-laki berkemeja turun keluar dari dalamnya. “Bagaimana keadaan ibumu?”, tanya laki-laki itu pada anak perempuan yang menyongsongnya di teras rumah. “Sedang istirahat, Yah,” jawab sang anak. Sudah tampak jelas, settingnya adalah jaman sekarang. Hal itu terlihat dari bentuk bangunan rumah zaman sekarang dan mobil keluaran era baru. Namun, kita akan terhenyak begitu mendengar bahwa anak perempuan itu bernama “Bawang Putih”.

Selanjutnya Bawang Putih terlihat berjalan menuju suatu tempat sambil membawa keranjang berisi baju. Tiba di tepi sungai, dia mulai mencuci. Ironis sekali, di tengah kehidupan dengan setting modern, Bawang Putih masih mencuci di sungai. Bagaimana bisa seorang Bawang Putih mencuci di sungai sementara ayahnya punya mobil sedan keluaran baru dengan rumah yang demikian megahnya. Apakah dirumahnya tidak ada mesin cuci?

Tentunya kita juga masih ingat kisah Jaka Tarub dan Nawang Wulan, dengan latar belakang tradisi Jawa, di mana pakaian yang dikenakan pakaian adat Jawa. Tapi cerita yang diusung dalam film tersebut Jaka Tarub mengenakan sepatu boot. Padahal mustahil di Jawa saat itu sepatu boot sudah diproduksi. Yang tak kalah menggelikan adalah ketika Nawang Wulan sudah menjadi istri Jaka Tarub, penampilannya pun berubah. Dari yang semula berpakaian layaknya dewi kahyangan berganti kostum dengan kaos dan rok panjang. Lebih aneh lagi ketika Nawang Wulan memasak dengan kompor gas. Lalu di akhir cerita Nawang Wulan dan Jaka Tarub hidup bahagia bersama dengan anak tercintanya ditambah restu dari ayahandanya, yang tinggal di istana khayangan.

Seloroh yang bisa dilontarkan untuk cerita ini adalah bagaimana kalau Jaka Tarub yang asli bangkit dari masa lalu, dari dalam kuburnya. Ia kemudian marah-marah karena tak pernah merasa hidup bersama Nawang Wulan, ketika istrinya itu sudah menemukan selendang dan kembali ke khayangan. Atau mungkin saja pihak perfilman sudah meminta ijin Nawang Wulan untuk mengedit cerita masa lalunya?

Tak hanya itu. Cerita tentang Odipus yang mengawini ibunya, yang disadur dari novel Odipus Complex, itu pun dibajak. Pengemasannya dilakukan dengan mengkombinasikan adat Jawa.

Sungguh lucu sekaligus memprihatinkan. Dunia Film Televisi Indonesia sedang mengalami krisis. Kreativitas yang minim, plagiat dengan versi yang mengatasnamakan kebudayaan Indonesia. Dan yang paling parah adalah pengubahan jalan cerita. Setelah ini mau dibawa kemana dunia perfilman Indonesia? Siapakah orang yang paling tepat dituding untuk menjawab pertanyaan ini pun, juga masih menjadi soal. Apakah produser, penulis skenario, atau sutradara? Nah! (Yulinda)

236 days ago by in Opini. You can follow any responses to this entry through the | RSS feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
little bizzy website management services