stickyimage

http://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe1.pnghttp://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe2.pnghttp://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe3.pnghttp://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe11.pnghttp://ekspresionline.com/wp-content/uploads/2012/03/iklan-nduwur-dewe21.png

NOSTALGIA BERSAMA TINTIN 3D!

Oleh: Jaka Hendra Baittri

  • Banyak orang yang yakin bahwa kau akan kalah, bahwa kau akan jadi pecundang. Tapi jangan pernah katakan itu dari dan pada dirimu sendiri …

(Dialog Haddock dengan Tintin)

Selasa pagi, tepatnya hari ke 29 November. Saya membeli satu majalah Tempo edisi 28 November 2011. Saya membolak balik halaman sambil sekali-kali membaca per lembar kisah Koalisi Ibas-Aliya. Hingga saya terhenti di kolom catatan pinggir Goenawan Mohamad: Tintin.

Judul itu kemudian membuat saya tertarik kemudian berencana menonton The Adventure of Tintin. Ya, tokoh ciptaan Georges Prosper Remi ini kemudian memaksa saya untuk mengingat-ingat kapan terakhir kali saya melihat serial Tintin di salah satu televisi swasta Indonesia. Tertarik, ba’da maghrib saya menuju Empire XXI yang bertempat di Jalan Solo.

Format 3D film ini membuat saya kagum. Grafik para tokoh seperti orang-orang asli, sampai ketika pada kulit Tintin pun kelihatan bintik-bintiknya, kecuali Snowy yang masih sangat komikal. Debu- debu ruangan yang berterbangan serasa ada di depan mata. Ya, itulah keajaiban format 3D. Tapi mungkin bukan itu yang saya perhatikan. Saya semakin yakin menyangkal Goenawan Mohamad yang mengatakan dalam Catatan Pinggirnya bahwa tokoh Tintin adalah karakter yang tidak memikat untuk sekarang.

Tokoh Tintin dengan segala biasa-nya sangat realistis. Gambaran tokoh utama yang realistis dalam film-film atau animasi untuk anak-anak sekarang sudah sangat kurang. Bisa diambil contoh kasus bagaimana para superhero Indonesia seperti Gatotkaca pun dibentuk tubuhnya menjadi berotot dan atletis badannya. Rental tubuh Superman untuk Gatot Kaca dan entah berapa biaya sewanya.

Bila pun melihat tokoh seperti Naruto dengan bentuk tubuh biasa saja, tapi dengan perubahan-perubahan wujudnya pun membawa anak yang menontonnya mempunyai keinginan untuk mendapatkan kekuatan yang mustahil itu. Realistis, itu kuncinya.

Seperti pada pertengahan film ketika Tintin dan Haddock si keturunan bajak laut kalah cepat dengan lawannya ketika merebut tiga lembar petunjuk dari elang peliharaan musuhnya. Ketika itu musuhnya berhasil membawa kapal Haddock beserta tiga lembar petunjuk tersebut. Tintin putus asa dan Haddock mencaci Tintin dan mengatakan bahwa Tintin pesimis. Tintin menjawab: “Saya tidak pesimis, saya hanya bersikap realistis”.

Sikap realistis ini yang hampir hilang dalam Roullete tokoh animasi sekarang. Terlalu banyak kekuatan super. terlalu banyak tubuh yang atletis atau yang “Amerika-sekali”. Seperti Ramboisme; Mengalahkan banyak orang dengan kekuatan fisik sendiri.

Khas film ini adalah bagaimana Tintin sebagai tokoh utama menggunakan nalarnya dalam memecahkan masalah. Rasionalitas. Garapan Steven Spielberg ini membuat saya segara ditengah hingar bingar superhero dengan kekuatan super. Kecuali Detektif Conan tentunya, tapi jelas ini produk Jepang dan bukan Amerika.

Mulai dari awal film hingga akhir, banyak sekali humor yang terselip. Seperti ang saya katakan sebelumnya: bercak-bercak humor. Belum lagi saat sebuah kota di Afrika, tujuan Tintin dan Haddock, mempunyai raja yang mempunyai hobi mendengarkan lagu opera. Seorang raja yang saya kira lebih cocok sebagai raja dari Timur Tengah tersebut sangat menokmati sajian nyanyian opera yang memecahkan kacamatanya sendiri. Di sini budaya barat memainkan peran dalam hal diplomasi budaya penyanyi opera. Belum lagi ketika Haddock menjadi motivator bagi Tintin sendiri ketika mereka didahului lawannya. Entah berapa kali penonton sekitar saya tergelak melihat tingkah polah Haddock dan juga Snowy. Belum lagi dua agen polisi yang sedikit bodoh: Thompson dan Thomson.

Haddock sendiri adalah tokoh yang menarik. Ia merupakan gambaran seorang pelaut yang suka mabuk dan pelupa. Hingga suatu waktu Haddock yang juga menjadi tokoh kunci disini berebut alkohol dengan Snowy pada saat yang sangat tidak tepat.

Haddock lupa akan pesan terakhir leluhurnya. Pesan yang menjadi kunci petualangan ini. Namun kelupaan itu akhirnya terobati oleh oase dari gurun tempat mereka terdampar. Haddock merasa berperan leluhurnya. Belum lagi ketika kapalnya menghadapi tetamu lain. Bajak laut lain.

Terlepas dari petualangan seru Tintin yang mempunyai setting di banyak tempat, film ini sangat dekat dengan keseharian. Dekat dalam artian tidak terlalu banyak kekuatan-kekuatan super yang tidak realistis. Ditambah lagi ada bercak-bercak humornya di banyak scene.

Segi Grafis Tintin perlu dipertimbangkan. Adventures of Tintin menawarkan grafis yang begitu detail. Seperti debu-debu yang berterbangan hingga kilatan cahaya matahari mendekati bentuk ‘nyata’. Ya, bisa dikatakan sedikit transformasi dalam dinamika film 3D.

Bagi yang ingin bernostalgia dengan masa lalunya. Tintin menjadi pilihan yang tepat, bahkan sangat tepat. Namun, jikalau Anda orang yang mencari hal-hal yang baru maka Anda hanya akan menemukan cerita yang alurnya biasa dan dengan karakter yang biasa tapi jenius. kecuali pada efek 3D-nya yang tentu saja membuat penonton merasa berbeda dengan menonton serial kartunnya yang 2D dan dengan datar yang sangat datar, dalam hal ini adalah pembawaan Tintin sebagai tokoh utama. Tak ada tanda-tanda kalau Tintin berasal dari planet namek atau planet yang hilang dari peta. Selamat menonton!

tintin

163 days ago by in Resensi. You can follow any responses to this entry through the | RSS feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
little bizzy website management services