Payung Teduh: Berteduh di Bawah Sendunya Malam

dari http://adriarani.blogspot.com/2010/12/payung-teduh.html

dari http://adriarani.blogspot.com/2010/12/payung-teduh.html

Album : Payung Teduh

Band   : Payung Teduh

Rilis     : 16 Desember 2010

Sudah banyak yang bilang: musik Indonesia tak bergerak linear ke arah kebobrokan. Saya setuju, memang, bahwa kehadiran musik populer ala Dahsyat, Derings, dll. adalah tanda-tanda buruk. Tapi masih ada band-band bawah tanah yang memberikan optimisme jika musik memang berkembang lebih baik. Tak percaya? Dengarkanlah Payung Teduh dalam album self titled-nya.

Payung Teduh adalah band yang beranggotakan Is (vokal, gitar), Comi (contrabass), Cito (drum), dan Ivan (Guitalele). Formasi ini adalah formasi terakhir setelah sebelumnya sempat berganti personel. Didirikan oleh Is dan Comi tahun 2007, mulanya Payung Teduh hanyalah pengisi musik latar untuk Teater Pagupon Universitas Indonesia, sambil terkadang iseng bermain music di kantin sastra (Kansas) UI. Meski mereka disebut memadukan keroncong dan jazz ala tahun 60-an, namun genre apa yang mereka bawa diserahkan pada pendengar mereka.

Wajah vokalisnya memang tak tampan. Tapi apa pentingnya? Tangannya, bagi kita—para penyimak musik, lebih berharga. Gitarnya lah yang pertama-tama akan menyihir. Lalu suaranya: tenor yang maskulin namun mampu menanjaki nada-nada tinggi.

Kita semakin beruntung ketika mendengarkan Payung Teduh lewat rekaman-rekamannya (rekaman live!). Saya menebak, mereka tidak melakukan edit suara yang berarti, sehingga suara-suara “kotor” khas piringan hitam dan kaset masuk semua—hal-hal yang muskil kita jumpai di rekaman-rekaman digital sekarang.

Yang paling menyihir dari Payung Teduh, terutama bagi Anda yang menghargai lagu berkat liriknya yang puitik, adalah kenikmatan utnuk menyesapi puisi-puisi dalam lagu mereka.

Gabungan ketiga sihir itu bermula sejak lagu pertama “Angin Pujaan Hujan”. Lagu bermula dengan intro getir sepuluh detik yang lembut yang ditimpali pukulan lembut cajòn (alat music pukul khas Peru berupa kotak kayu dengan lubang), yang segera disusul dengan petikan kencrung alias guitalele yang membuat kita, tanpa sempat menduga, terlempar ke nostalgia  kenangan-kenangan cinta. Nuansa klasik ala keroncong hadir pula berkat petikan contrabass yang megah sekaligus sederhana. Kombinasi cajòn dan suara tenor Is, sang vokalis, menjadikan lagu ini tak jatuh dalam suara cempreng alat musik petik. Kata-kata indah lalu berjatuhan:

Datang dari mimpi semalam/Bulan bundar/Bermandikan sejuta cahaya/Di langit yang merah/Ranum seperti anggur/

Kata anggur adalah puncak sihir itu. bayangkan, berapa banyak penyair yang mengatakan langit semerah anggur, bukan biru atau hitam!

Namun di balik nada-nada indahnya, “Angin Pujaan Hujan” adalah lagu sendu. Dalam reff-nya, bulan dan langit yang ranum bagaikan anggur ternyata hanya mengingatkan pada… sang pujaan (yang) tak juga datang/angin berhembus bercabang/rinduku berbuah lara.

Sendunya lagu pertama adalah dera pertama. Lagu kedua, “Resah”, yang sudah terdengar menyakitkan sejak judulnya, adalah dera yang lebih dahsyat. Dibuka dengan petikan gitar yang sedih yang menyiapkan kita untuk memejamkan mata, lalu satu per satu lirik datang bagai menetes:

Aku ingin berjalan bersamamu/dalam hujan dan malam gelap/tapi aku tak bisa/melihat matamu/aku ingin berdua denganmu/di antara daun gugur/aku ingin berdua denganmu/tapi aku hanya melihat keresahanmu.

Sepertinya Payung Teduh menyenangi lagu-lagu kelam yang khas dengan kesenduan yang sendiri. Dari sepuluh lagu, delapan di antaranya bicara tentang penantian yang sia-sia (“Angin Pujaan Hujan”), kematian (“Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan”), kemurungan (“Cerita Gunung dan Laut”), ketersingkiran (“Resah”), kehilangan harapan (“Malam”), pencarian yang berakhir tragis (“Kucari Kamu”), dan hubungan yang akhirnya berakhir (“Tidurlah”). Hanya satu lagu yang mengisahkan romantisme yang manis, yaitu “Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan”. Namun dalam keduanya (kesenduan dan romantisme), Payung Teduh mampu menjadikannya begitu berkesan. Coba lihat perbandingan lirik antara “Kucari Kamu”

Aku cari kamu

Di setiap bayang kau tersenyum

Aku cari kamu

Kutemui

Kau berubah

dan “Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan”:

Tak terasa gelap pun jatuh

Di ujung malam

Menuju pagi yang dingin

Hanya ada sedikit bintang malam ini

Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Kesedihan ketika pencarian yang penuh harap berakhir dengan “…kutemui/kau berubah” dibalas tuntas dengan sebuah tanya retoris: mengapa hanya ada sedikit bintang malam ini? Ah, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya! Ini sejenis romantisme yang melayangkan ingatan kita pada pertemuan-pertemuan sunyi dengan kekasih, di mana kata tak ada, hanya bahasa mata dan alam.

Setelah memutar track dalam album ini, kita akan menemukan fakta lain: bahwa Payung Teduh tergila-gila pada malam. Kata itu disebut dalam tujuh lagu, seakan hendak menegaskan kesenduan dalam tema-tema lagu mereka.

Hampir semua lagu dalam album ini patut diulas, karena kesemuanya menawarkan sihir-sihir. “Cerita Gunung dan Laut” yang dinyanyikan seperti mantra—intro yang lambat dan rendah kemudian semakin naik, naik, dan naik—lebih layak disebut musikalisasi puisi. Satu-satunya hal yang saya anggap cacat dalam album ini adalah munculnya lagu “Amy” sebagai penutup. Bangunan lagu-lagu liris yang sudah terbangun dirusakkan oleh lagu yang lebih mirip rekaman gitar akustik tanpa lirik (hanya ada lirik “amy.. amy..” yang diulang-ulang).

Namun yang pasti, cacat itu tidaklah berarti dibanding sembilan lagu lainnya. Kita digiring pada sebuah oksimoron sensasi: antara keindahan musik dan kesenduan lirik-lirik yang menusuk. Keduanya tetaplah meneduhkan kita sejenak dari serbuan lagu-lagu banal yang memekakkan. (Prima SW)

FacebookTwitterGoogle+
Club Penguin says:

Magnificent beat ! I would like to apprentice even as you amend your website, how can i subscribe for a weblog web site? The account aided me a applicable deal. I had been a little bit familiar of this your broadcast provided bright clear concept

bang dot says:

wah encik, bajigur iki sangar banget bung!!! OVERALL!!!