Hima IPS Gelar Ajang Debat
Sabtu (21/4), Himpunan Mahasiswa (Hima) Pendidikan IPS menggelar ajang debat untuk mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Perlombaan debat bertajuk “Menciptakan Mahasiswa Kritis & Aktif dalam Menghadapi Arus Perubahan Sosial” ini berlangsung di Ruang Ki Hajar, Gedung Dekanat FIS lantai 2. Acara dimulai pukul 09:00 dan dibuka oleh Dekan FIS Prof. Ajat Sudrajat.
Lomba ini diikuti oleh dua belas ormawa. Mereka adalah Hima Administrasi dan Perkantoran, Administrasi Negara, Pendidikan Geografi, Pendidikan Sosiologi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIS, Dewan Perwakilan Mahasiswa FIS, Pendidikan IPS, PKnH, Pendidikan Sejarah, Ilmu Sejarah, UKMF Al-Islah, dan UKMF Penelitian Screen. Pada babak penyisihan, BEM FIS menang WO karena tim debat dari Al-Islah yang menjadi lawannya tidak dapat hadir.
Ketua Panitia Esti Wulandari menyatakan bahwa lomba ini merupakan program kerja tahunan dari Hima IPS. Esti yang juga menjabat sebagai staf Reasearch and Development di Hima tersebut menambahkan bahwa persiapan pelaksanaannya sudah dimulai sejak pertengahan Maret lalu. Namun, ia merasa bahwa lomba debat ini belum maksimal. “Kita tidak bisa maksimal karena ada beberapa panitia yang ikut FIS Cup,” tambahnya.
Percekcokan Dua Tim
Peserta lomba tampak antusias mengikuti ajang debat ini. Kendati demikian, masing-masing punya masalah dalam berargumentasi. Salah satu peserta dari Hima Pendidikan Sosiologi, Andri Prasetyo, mengungkapkan bahwa kesulitan berdebat adalah merasa gugup sebelum bertanding. “Sebelum ke depan tegang, sih. Tapi sekarang biasa saja. Yang susah itu waktu kita mesti berargumen secara sistematis, juga harus membagi argumen buat kawan satu tim kita,” ungkap Andri. Mahasiswa angkatan 2010 ini menambahkan pula bahwa ia dan rekan-rekan satu timnya optimis menang meskipun tidak terlalu berambisi.
Sementara itu, tim yang dikalahkan oleh Pendidikan Sosiologi pada babak penyisihan, Ilmu Sejarah, masih merasa tidak terima akan kekalahan mereka. Ega Margaretha Barus, merasa kecewa atas keputusan juri yang memenangkan tim Pendidikan Sosiologi. “Mosi yang mereka (tim Pendidikan Sosiologi-red) itu mosi yang belum direvisi sama panitia. Kami juga sudah membatasi masalah pada soal kesehatan dan keamanan, tapi tim mereka argumennya melebar ke mana-mana,” papar gadis berdarah Batak ini.
Menanggapi hal tersebut, Andri mengatakan bahwa mosi yang mereka terima hampir sama intinya dengan mosi yang diterima tim Ilmu Sejarah. Menurutnya pula, argumen mereka tidak melebar, namun lebih mendetail. “Jadi bukan hanya kesehatan dan keamanan, Mas,” kata Andri. Namun, ia menganggap bahwa apa yang dirasakan kawan-kawan Ilmu Sejarah adalah wajar. “Namanya saja kompetisi,” pungkasnya. (Aufannuha Ihsani)








beritanya yang lain juga banyak tidak ada gambarnya ya. minta rektorat kalau tidak punya kamera
beritanya yang lain juga tidak ada gambarnya. minta rektorat kalau tidak punya kamera
Iya e HOAX banget, mana nih fotonya? Beta butuh foto, beta juga jurnalis.
HOAX MANA FOTONYA, BOONG BANGET SIH…