Home » Opini » Kebutuhan Remaja + Pengaruh Perilaku Konsumtif & Hedonis = Korupsi
May 4 2012

Kebutuhan Remaja + Pengaruh Perilaku Konsumtif & Hedonis = Korupsi

Ditulis oleh

JAM dinding menunjukkan pukul 06.25. Di dalam kamar, dia sedang mematut diri di depan cermin. Sesekali dia merapikan seragam putih abu-abu yang dikenakannya. Seperti biasa, pada pagi-pagi sebelumnya, saya dengan setia duduk menunggui di tepi sisi pembaringan miliknya.

Sambil memalingkan muka dan mencondongkan wajahnya ke arah saya, dia berbisik,  “Nanti kalau ditanya ibuku, berapa bayarnya untuk buku bilang aja lima puluh ribu ya?” Waktu itu saya hanya bisa mengangguk dengan alasan mengatasnamakan persahabatan.

Tak berapa lama kemudian, ibunya memasuki kamar dengan memegang lembaran uang nominal lima puluh ribuan di kedua tangannya. “Sebenarnya bayarnya berapa?” tanya ibunya. “Lima Puluh Ribu, jawab teman saya, kali ini dia sedang menyapukan bedak di wajahnya. “Yang benar?” ibunya kembali bertanya penuh selidik. “ Ya Allah, beneran Bu,” sergah teman saya tadi. Kemudian ibunya berganti menoleh dan menginterogasi saya, bayarnya memang bener segitu, Nik?” “Nggih”, jawab saya singkat seperti yang sudah dipesankan teman saya beberapa menit sebelumnya.

Pagi itu, kami berdua dengan satu sahabat saya yang lain bersiap berangkat menuju sekolah. Sepanjang perjalanan, kedua sahabat saya ini saling memamerkan pendapatan mereka pada hari itu. Teman yang saya jemput di rumahnya mengatakan bahwa dia memperoleh keuntungan sebesar Rp.10.000,00 dari Rp. 50.000,00 untuk pembayaran buku. Sementara teman saya yang satunya lagi berujar bahwa dia mendapat untung Rp.15.000,00 dari Rp. 55.000,00. Motif yang diutarakan kedua teman saya hampir sama. Kedua teman saya menyatakan bahwa dia kesal dengan ulah ibunya yang suka meminjam uang darinya dan jarang dikembalikan. Dia menambahkan, bahwa sebagai seorang remaja putri dia membutuhkan dan menginginkan hal-hal yang belum tentu bisa dipenuhi oleh orangtuanya. “Aku harus beli bedak, parfum, lipgloss, dan pelembab. Belum lagi nanti kalau aku ingin kaos baru,” ucap teman saya tersebut. Selain itu dia juga merasa iri ketika bergaul dengan teman-teman sekelasnya yang rata-rata selalu memiliki uang berlebih, ketimbang dirinya. Apalagi ketika dia keluar untuk berjalan-jalan bersama dengan teman-teman yang lain. Hal yang membuat saya heran adalah orangtua mereka bekerja sebagai buruh tani, yang penghasilannya pas-pasan. Tapi kedua teman saya masih tega menguntit uang dari orangtua mereka. Kisah ini terjadi pada tahun 2004.

Perilaku remaja tersebut termasuk salah satu bentuk kenakalan remaja. Hal yang menyebabkan perilaku tersebut salah satunya adalah tidak terpenuhinya kebutuhan remaja, karena kondisi ekonomi kedua orangtua mereka. Sehingga orangtua cenderung mengabaikan kebutuhan anak (Sofyan, 2005:103). Kekecewaan anak, yang telah terakumulasi sekian lama, membuat para remaja menempuh jalan tersebut, yakni korupsi.

Kebutuhan Remaja

            Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan sesuatu untuk bertahan hidup. Dalam ilmu Ekonomi kebutuhan manusia digolongkan menjadi tiga macam, diantaranya: kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier.

Kebutuhan primer, seperti yang sudah kita ketahui bersama, merupakan kebutuhan pokok yang sifatnya sangat urgent dan harus segera dipenuhi. Berikutnya kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang dapat dipenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi. Selanjutnya, kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang sifatnya mewah dan dapat dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Ketiga macam kebutuhan tersebut seperti berantai, merupakan kelanjutan yang mirip episode sebuah sinema.

Umumnya, remaja yang berada pada tahap pencarian jati diri, selalu haus dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu, tergantung pengaruh lingkungannya.  Mereka membutuhkan sesuatu untuk bisa tampil seperti remaja putri yang berasal dari keluarga berada. Selain itu motif dibalik tindakan mereka bisa jadi karena mereka ingin diterima/bisa masuk dalam kelompok tertentu.

Hal ini biasa disebut dengan penyesuaian diri secara berlebihan. Anak remaja ingin diakui keberadaannya. Mereka berusaha menunjukkan eksistensi diri. Penyesuaian diri bisa dilakukan dalam bentuk cara berpakaian, cara bicara, keyakinan, nilai, dan pola perilaku (Hurlock, 1978:313). Menurut Bandura tentang teori belajar sosial dalam Syamsu Yusuf (2004:190), menyatakan bahwa pengamatan tingkah laku oleh remaja terhadap teman sebaya, dapat mendorong remaja untuk melakukan hal yang sama. Dalam hal ini kelompok sebaya secara tidak langsung telah memberikan kesempatan belajar kepada remaja untuk mengimitasi berbagai bentuk tingkah laku personel kelompok sebaya tersebut. Pengaruh teman sebaya yang menjadi model dapat mencegah atau membolehkan pola-pola tingkah laku yang relatif tidak pasti (kebiasaan) dalam seting yang terstruktur.

 Sambutan Pasar Bebas (Konsumtifisme dan Hedonisme)

Korupsi bisa dimulai dari yang kecil-kecilan. Keinginan orang yang didasari atas nafsu dan pengaruh lingkungan dapat membuat orang begitu mendewakan yang namanya uang dan uang.

Salah satu sebab mereka melakukan korupsi kecil-kecilan, kerena didorong oleh perilaku konsumtif dan hedonis, sehingga kebutuhan hidup mereka seolah-olah banyak, padahal kemampuannya terbatas. Mereka dibanjiri dengan produk-produk yang dijejalkan melalui iklan. Salah satunya adalah produk kecantikan, dengan iming-iming untuk terlihat lebih cantik, lebih bersih, dan memiliki daya pikat. Intinya, definisi cantik dan menarik itu harus sesuai dengan visualisasi seperti yang ditampilkan dalam iklan. Bahwa cantik itu harus putih, kulit sehat itu harus putih, begitulah doktrin definisi kecantikan.

Secara tidak langsung para remaja dikondisikan untuk mengkonsumsi barang-barang tersebut, sehingga mereka secara tidak sadar terjebak pada budaya konsumtifisme. (Yulinda R. Yoshoawini/jurnalis ekspresi)

Posted by on May 4 2012. Filed under Opini. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

4 Comments for “Kebutuhan Remaja + Pengaruh Perilaku Konsumtif & Hedonis = Korupsi”

  1. Dita Juwita

    hubungan hedonis dengan korupsi: jika seseorang terbiasa hidup dengan gaya hidup hedonisnya sedangkan ia tidak memiliki pendapatan/uang yang cukup, maka kemungkinan ia akan melakukan tindak korupsi atau tindak kriminal lainnya..

    sikap konsumtif tidak hanya tercipta dari sistem/faktor ekstern, tetapi juga disebabkan dan dipengaruhi oleh faktor intern, yaitu orang itu sendiri. jika pada dasarnya seseorang itu memiliki perilaku konsumtif, maka walaupun tidak ada iklan (yang menjerumuskan) pun maka ia akan tetap menjadi orang yang konsumtif..
    memang pendidikan sangat berperan pada hal ini, idealnya memang siswa tidak hanya diajarkan pelajaran yang mengedepankan aspek kognitif saja, tetapi juga harus memikirkan aspek afektif siswa juga.. sehingga output yang tercipta adalah peserta didik yang cerdas dan bernurani..

    sebaiknya jangan salahkan siapa-siapa, karena dalam hal ini, yang bersalah bukan hanya 1 pihak atau 2 pihak saja, melainkan semua lapisan masyarakat. namun, jika kita menganggap mereka/kita semua mutlak bersalah, itu juga tidak benar, karena di satu sisi, mereka/kita hanya menjalankan tugas yang kita kerjakan. contoh, agen iklan: mereka memang sudah tugasnya menawarkan dan mengiklankan produknya, tapi di satu sisi lainnya, mereka memang menyebabkan masyarakat menjadi masyarakat yang konsumtif.

    memang semua ini adalah sebuah sistem, dimana sistem itu tidak akan berhenti, mereka hanya bisa menjadi lebih baik atau lebih buruk :)

    itu menurut saya hehehe :)

    silakan jika ada yang setuju atau tidak.. ini sebuah opini, dan tidak bisa dinilai benar atau salah :)

  2. Joni PLB

    Hubungan hedonis dengan korupsi apa ya mbak / mas? :O

  3. Robert de Niro

    BOSOK TENAN!

  4. Rian

    Bukankah yang menyebabkan sikap konsumtif itu sistem ya? Salah pihak sekolah sendiri yang ga ngajarin untuk ga korupsi. Guru Pancasila ama guru agamanya kemana? semua guru deh pokoknya. Ini tulsannya malah nyalahin siswa …

Leave a Reply

*


Dasbor