Jalannya Proses Kreatif
PERNAH merasa sebagai orang yang mempunyai banyak ide?
Tokoh “Saya” dalam novel garapan Jostein Gaarder berjudul Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng memilikinya. Ia merasa tidak pernah kekeringan, bahkan tidak akan pernah. Dia justru merasa saking banyak ide di dalam kepalanya, hingga membuatnya tidak ingin menuliskannya menjadi sebuah cerita utuh, seperti berbentuk novel, cerpen, atau pun naskah drama.
Saya pun pernah membayangkan sebagai seseorang yang seperti itu. Namun, ada perbedaan antara saya dan “Saya” yang ada di dalam imajinasi Jostein Gaarder itu. Saya membayangkan saya bisa menuliskan ide menjadi suatu gagasan utuh dalam paragraf-paragraf. Kemudian, terlahir sebuah novel atau cerpen, mungkin juga sebuah esai dan opini dari tangan ajaib saya. Dengan kelebihan yang saya miliki, saya bisa menyumbangkan inspirasi-inspirasi sampai kelas nasional hingga internasional. Sebuah ambisi sebagai seseorang yang punyai bakat tidak salah bukan?
Sayangnya, “Saya” dalam imajinasi Jostein Gaarder pada novelnya yang berjudul Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng itu tidak ingin menjadi terkenal. Dia memilih menjadi orang biasa. Menjadi seseorang yang bergerak di belakang layar, menjual ide pada penulis-penulis di sekitarnya. Lalu menikmati hasil karya mereka di kursinya yang tenang di dalam sebuah flat.
Mengemas Sebuah Ide
Sampai hari saya masih terus belajar untuk mengemas sebuah ide menjadi suatu gagasan utuh yang baik, sampai bisa dikatakan sempurna. Saya pernah membaca buku berjudul Proses Kreatif yang diterbitkan menjadi berjilid-jilid itu. Dari sana saya mulai tertarik untuk meniru cara-cara penulis besar dalam memanajemen idenya. Beberapa menuliskan terlebih dahulu sebuah konsep menjadi sebuah teks, lalu dari teks itu dikembangkan lagi menjadi sebuah naskah utuh. Namun, tak jarang pula yang memilih untuk langsung menuliskan idenya menjadi gagasan dalam satu kali duduk. Dalam artian tidak membutuhkan konsep atau kerangka berpikir terlebih dahulu.
Buku Proses Kreatif yang dieditori oleh Pamusuk Eneste itu berisikan tulisan-tulisan para sastrawan dalam mengemaskan ide. Seperti halnya “Saya” dalam novel Jostein Gaarder itu. Mereka membagikan perasaan-perasaan mereka ketika merasakan kehadiran sebuah inspirasi yang datang secara tidak terduga. Beberapa membutuhkan waktu untuk membiarkan ide itu mengendap terlebih dahulu dalam benaknya, setelah benar-benar yakin ia mapan di dalam sanubarinya, ia kemudian menuliskannya. Nasjah Djamin menceritakan pengalamannya seperti ini, “Saya tidak menggalinya secara naturalis, tetapi saya berusaha dengan kemampuan seadanya dan seenaknya secara puitis. Saya beranjak dari pesona ke pesona…”
Satyagraha Hoerip, di dalam buku Proses Kreatif itu menulis sebuah artikel dengan judul Bagaimana Mereka Tercipta?. Kadang-kadang kita harus melakukan sesuatu di luar kemauan diri kita, katanya. Dengan jujur pula ia mengakui mencampur imajinasi dan realitas. Tak jauh-jauh dari dirinya, Sori Siregar pun juga demikian. Lebih tegas ia menyatakan, “Kalau batin saya tersentuh dan ide muncul, itu saja sudah cukup untuk memulai.”
Nah, memulai. Kapan kita akan memulai? “Saya” dalam novel karangan Jostein Gaarder mengalami masalah ini. Dia tidak ingin memulai, bukan tidak tahu cara memulai. Akan tetapi, tidak ingin memulai. Mau menjadi orang biasa saja, begitu pikirnya dalam satu alur cerita itu. Saya pikir “Saya” telah menyesal, Jostein Gaardner menggarap tokoh ini menjadi begitu bodoh menurut saya, mengapa? Karena ide-ide yang dijualnya telah membawa nama penulis-penulis yang bertransaksi dengannya mencapai kesuksesan. Atau “Saya” memang seorang yang rendah hati?
Titik awal untuk memulai
“Ilmuwan dan fiilsuf selalu berusaha mengabstrakkan yang konkret, sedang penyair itu justru sebaliknya, mengkonkretkan yang abstrak. Untuk itu, citra lihatan penting dalam sajak, “ pesan Abdul Hadi W.M dalam tulisannya yang berjudul Catatan-Catatan Seorang Penyair (tergabung dalam buku Proses Kreatif, 2009) dan bagi Sapardi Djoko Damono, peristiwa kecil yang tersusun dari kata-kata sama pentingnya dengan makna yang mungkin terkandung di dalamnya.
Ditambah pula oleh Supaat I. Lathief (Eksistensialisme-Mistisisme Religius, 2008) Kita hanya perlu mengambil saripati dari sebuah pengalaman hidup untuk menulis secara kreatif, katanya. (Mutayasaro/ jurnalis ekspresi)
Yogyakarta, 6 Juni 2012







