Home » Berita » Melukis dengan Mata Hati Seorang Penyair
Jun 6 2012

Melukis dengan Mata Hati Seorang Penyair

Ditulis oleh

 

IMAJINASI lebih kuat dari pengetahuan. Daya khayal yang dikembangkan mampu mengolah realitas menjadi sebuah keajaiban. Seniman yang membangun mimpi dari tumpukan ide yang disergap saat terjaga dari tidur akan menghentikan waktu dalam kesempurnaan. Seni adalah revolusi tanpa henti. Pencarian terus menerus hingga mencapai batas-batas yang paling mustahil. Daya hidup digetarkan bertubi-tubi menolak daya mati. Menjadikan yang tiada menjadi ada. Maka bisa dimengerti jika diaktakan bahwa sebuah karya seni merupakan anak kandung dari senimannya.

 

Paragraf di atas adalah kata-kata dari seorang kurator bernama Seruni Bodjawati, ketika memberikan sebuah ulasan pada pameran lukisan Eva Bubla. Dalam katalog itu, Seruni juga menyatakan hal itu “Eva melukis dengan mata hati seorang penyair.”

Pameran Eva Bubla, seorang warga Negara Hongaria, diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya. Pameran dibuka tanggal 1 juni 2012, di tutup tanggal 7 juni 2012. Ada tiga belas buah karya yang dipamerkan, antara lain: lukisan berjudul Before Words I, Before words II, After Lies, Peace Within, The Spirits Of Merapi, The Sound of Silence, Dimensions, My Sewon, Full Moon Blues, Let it Go, Embrace, Destinies I dan Destinies II. (Mutayasaro/jurnalis eskpresi)

Posted by on Jun 6 2012. Filed under Berita. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

1 Comment for “Melukis dengan Mata Hati Seorang Penyair”

  1. Informasi seputar kampus FIP UNY silahkan klik http://www.mikafip.com

Leave a Reply

*


Dasbor