Home » Sastra » Nenek
Jun 8 2012

Nenek

Ditulis oleh

Sekali waktu aku menanya umur nenek. Ibundanya ibuku. Pada saat kecil yang baik dan siang yang nikmat dengan es sirup. Bertanya dengan polos dan itu pun memang seperti kelucuan seorang anak kecil yang baru kenal dengan apa yang namanya umur. Pertanyaan yang mungkin menyakitkan ketika mengingat seberapa jauh lagi kita hidup.

Nenek atau pun yang lain tak paham tahun berapa ia lahir. Jelasnya ketika ia lahir Jepang masih disini. Sekitaran pra-kemerdekaan mungkin. Ketika itu nenek dari ibu saya itu dikawini dengan kakek saya yang sudah lebih mapan waktu itu. Oh iya Nenek masih belasan tahun kala itu.

Beberapa cerita tentang kakek yang mempunyai banyak istri dan Nenek adalah istrinya yang paling banyak dapat perhatian. Nenek adalah orang yang tekun bekerja. Sampai sekarang pun jikalau ia ditinggal dikampung, maka ia akan bekerja. Bersepeda ke sawah, iya kesawah. Aku tak pernah ikut nenek ke sawah seingatku.

Nenek sangat sayang pada cucu-cucunya. Begitu pula anak-anaknya yang masih saja perhatian padanya. Pernah pada suatu ketika nenek membuat saya sedikit takut. Bukan bukan, bukan sedikit, jelasnya saya bingung dan apapunlah itu namanya. Ia bermimpi ketemu kakek dan saya merasa nenek pun merasa akan dijemput oleh ungkin karena rindu Nenek yang begitu dalam padanya.

  Ini bukan hanya soal bagaimana Nenek meneruskan hidup. Ini bukan tentang bagaimana Nenek tak mau lagi tinggal dengan anak-anaknya atau cucu-cucunya. Persoalan makn sehari-hari nenek aku rasa sudah tak lagi memeikirkannya. Anak-anak dan cucu-cucunya sudah terlalu baik baginya. Aku rasa ia tak akan dengan vulgar mengatakan bahwasanya ia benar-benar merindukan kakek. Rindu terhebat yang pernah dirasakannya.

Nenek mengacak-gacak rambut cucu-cucunya sambl bersenandung. Sesekali aku mencuri waktu memperhatikan nenek yangduduk dikursi. Dimana pun. Aku terhenyak. Nenek tak bisa diam.. haha. Dia terus bcara apa saja. Dia terus saja merajut. Ia berjalan-jalan, merawat tanaman, memasak, berkunjung ke tempat teman-temannya yang sudah tinggal sedikit. Aku sedikit merasa nenek sudah terlalu rindu dengan kenangan. Mungkin semakin jauh kita dari masa lalu semakin besar pula rindu-rindu yang membuat kita sepi.

Nenek mungkin tak peduli bagaimana ruwetnya agama hari ini yang dipeributkan FPI. Nenek terus saja menyenandungkan do’a. Berkidung ayat-ayat yang telah ada diluar kepalanya. Nenek  hanya peduli bagaimana keluarganya hidp lebih baik. Bersamanya ikut tak lupa pada Tuhan. Menanti anak-anaknya pulang kekampung saat Lebaran atau sekedar berkumpul. Sesekali aku membayangkan nenek mencuri waktu mengintip ke pintu, melihat keluar apakah kendaraan beroda empat yang lewat menumpangi atau mengangkut anak cucu dan menantunya.

Ketika rindunya terlepas dia bertanya mau makan apa dan sebagainya. Ia menyiapkan kamar ia memasak yag enak, ia bercengkerama dengan anaknya, sampai malam hingga larut. Seakan waktu-waktu itu adalah waktu terbaik dalam hidupnya.

Nenek tak kesepian. Itu boleh aku katakan atau kakak-kakak sepupuku dan cucu-cucunya yang lain. Kami boleh mengatakan seperti itu. Tapi nenek hanya rindu. Ia rindu pada kekasihnya yang telah lama pergi. Tak bisa kami pastikan Nenek tak kesepan karena kekasihnya itu. Kekasihnya yang dulu setiap pagi disalami anak-anaknya dan dibuatkan sarapan olehnya sebelum pergi bekerja.

Kakekku adalah kepala sekolah sebuah SD di belakang rumah mereka waktu itu. Nenek senang saja membuatkan sarapan untuk kekasihnya tercinta itu. Untuk Kakek dan anak-anaknya. Pun cucu-cucunya yang sekarang sering dibelikannya kupat tahu. Nenek senang saja pergi ke sawah karena pulangnya ia akan bertemu dengan kakek lagi. Melepas rindu yang entah berapa dalamnya.

Sepeda kakek yang dulu entah kemana. Bersama sepeda itu dulu mungkin kakek membonceng Nenek. Tertawa membincang apapun disekitar mereka. Apa alasan mereka murung ketika bersama menuntaskan rindu yang polos.

Nenek dulu seorang gadis yang muda dan manis. Pernah kudengar sesekali sempat ia menjadi kembang desa di kampung. Kembang desa dikampung, haha agak aneh namanya. Begitu pun anak-anaknya yang perempuan yang jadi kembang desa dan anak lelakinya yang aku kira memang flamboyan sampai sekarang.

Nenek terus saja bekerja di sawah. Hingga aku terlahir dan kakek tiada tak lama setelah aku lahir. Aku tak sempat mengenal kakek. Aku tak sempat melihatnya dengan keadaan sadar bersama pengetahuan-pengetahuanku. Aku tak sempat. Tak tahu bagaimana perasaan Nenek waktu itu.

Nur Jannah yang sudah menjadi senja. Bersama cerita-ceritanya di pagi hari. Bersama rindu-rindunya yang dibawa entah oleh angin malam dan tahajjudnya. Nenek yang aku rindu dengan sangat. Nenek yang selalu meyenandungkan do’a bersama sepeda menuju sawah. Nenek yang sebegitu rinduya pada Kakek hingga terbawa mimpi.

Nenek. Kini sempat pula melihat cicitnya. Tak tahu apakah kau akan melihat anak-anakku nanti? Nenek. Bersabarlah dengan rindu-rindumu. Bersama senja yang teduh dan terlalu banyak diceritakan orang. Sebagaimana dalamnya rindumu pada Kakek. Pada masa lalu. Pada kekhawatiranmu pada cucu-cucumu. Kesedihanmu melihat anak-anakmu dan kebahagiaanmu melihat anak, cucu cicit dan keluargamu semua. Aku kira tak sebanding masih dengan rindumu pada kakek.

Nenek, sekali waktu. Setelah matari pagi. Setelah kau yang biasanya maraton pagi. Aku ingin menemanimu lagi. Bercerita tentang masa lalumu yang polos dengan kerinduan. Menerka-nerka kerasnya hidup karena kolonial. Menempa rumah bersama Kakek. Aku ingin mendengar rindumu nek. Seorang Nur Jannah yang berdiri di usia senja dan yang terjejali rindu yang akut pada kakek.

*Untuk Nenek yang tiba-tiba kurindu. (Jaka Hendra Baittri)

Posted by on Jun 8 2012. Filed under Sastra. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

2 Comments for “Nenek”

Leave a Reply

*


Dasbor