Home » Berita » Mahasiswa UNY Terancam Drop Out

Mahasiswa UNY Terancam Drop Out

HARI itu, Senin 16 Juli 2012, pagi-pagi sekali seorang mahasiswa dari jurusan Pendidikan Kesehatan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) itu berangkat ke Sekolah Mengengah Pertama. Dengan seragam putih hitam dibalut jas alamamater berwarna biru, ia melajukan motor matic-nya. Ia berinisial RZ, mahasiswa angkatan 2006 yang sempat menjadi atlet olah raga di sebuah klub sepak bola di Banyumas. Kini dia tengah mengikuti program Kuliah Kerja Nyata–Praktek Pendidikan Lapangan (KKN-PPL) bersama kedua belas teman lainnya di SMP Negeri 9 Yogyakarta.

Dengan tergopoh-gopoh ia membaurkan diri kepada teman sekelompoknya. Saat itu adalah jadwal upacara pembukaan Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMP tempat RZ praktik. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.57 WIB, upacara akan segera di mulai. Pemimpin upacara telah menyiapkan pasukannya. RZ bersama teman-teman lainnya berbaris di tempat yang sudah ditentukan oleh petugas upacara khusus barisan mahasiswa KKN-PPL. Ia berbaris di barisan kedua di samping kanannya adalah Hari Prabowo, mahasiswa KKN-PPL dari program studi Pendidika Kewarganegaraan dan Hukum (PKnH). Ketika upacara berlangsung, RZ terus mengajak bicara Hari tentang masalah yang tengah dialaminya. Ternyata, dirinya tengah terancam drop out (DO). Sebelum DO, ia pun mendapatkan ultimatum tidak bisa lagi melanjutkan KKN-PPLnya. Sesekali ia diam dari ceritanya hingga akhirnya upacara pembukaan MOS selesai.

dok.istimewa

Waktu itu aku dan ketua KKN-PPL tim kami, Tanur Lubis namanya mendapatkan jatah untuk piket menunggu buku tamu dan daftar izin siswa di depan pintu masuk sekolah. Terlihat RZ menjinjing tasnya dan menghampiri kami. “Pak, saya izin ke kampus, ya? Untuk mengurus nilai.” kata RZ meminta izin kepada Lubis. Tanpa banyak bicara si ketua pun mengijinkan RZ untuk pergi. Ia pun berlalu dengan motornya meninggalkan pelataran SMP.

Seperti yang sudah banyak diceritakan baik RZ maupun teman-teman lainnya, ternyata RZ terancam DO karena tidak mengikuti perkuliahan selama 2 tahun. Setahun pertama ia gunakan untuk bermain bola dan setahun kedua ia gunakan untuk pemulihan kakinya yang sakit akibat cidera. Akibat absennya dia selama dua tahun itu membuatnya harus mengejar mata kuliah yang belum diambil selama dua tahun yang lalu.

Alhasil, pada tahun 2011 semester gasal maupun ganjil ia harus mengambil kuliah masing-masing sebanyak 50 SKS. Ia harus bergelut melawan kemalasan untuk kuliah sebanyak itu. Pada akhir ajaran 2011 semester genap ini, ia benar-benar mengalami kesulitan ketika ia harus mengurus nilai-nilai yang belum keluar. Parahnya, ia adalah mahasiswa dengan kurikulum 2002 sementara kurikulum yang tengah berlaku saat ini adalah kurikulum 2009. Sehingga, banyak mata kuliah yang telah terhapuskan dan tidak muncul dalam Sistem Informasi Akademik (Siakad) UNY. Ia pun harus bolak-balik ke kampus untuk mengurus masalahnya itu dan menemui orang yang sekiranya dapat digunakan tempat ia mengadu, baik itu para dosen maupun Koordinator Prodi PJKR.

Jam menunjukkan pukul 09.30 WIB, sosok dengan tubuh mungil itu kembali datang menghampiri aku, Tanur Lubis, dan Hari. RZ duduk tepat di sebelahku sembari meletakkan tas hitamnya di bawah meja. Ia pun menceritakan apa yang telah dialaminya di kampus. Ia bercerita betapa sulitnya berurusan dengan birokrasi. Urusannya dengan nilai-nilai belum kelar.

“Aku terancam tidak bisa melanjutkan KKN PPL kalau seperti ini. Tapi prokerku sudah banyak yang selesai, sementara aku harus mundur begitu saja?” tanya RZ.

Ia bercerita bahwa jumlah dalam SKS dalam Kartu Rencana Studi (KRS) yang ia tempuh baru mencapai 80 SKS. Sementara, syarat mengikuti KKN PPL adalah sudah menempuh 90 SKS. Ancaman itu sudah berada di depan mata. Sementara di sisi lain, RZ pun tersadar bahwa dirinya adalah angkatan 2006 yang sudah menempuh kuliah selama 6 tahun. Waktu yang ia miliki untuk kuliah di UNY tersisa 1 tahun. Ancaman DO selalu menghantuinya. “Ngurus nilai seperti itu memang ribet, Mas. Kamu harus minta nilai ke setiap dosen. Mending, kamu temui kaprodimu, terus ketemu juga penasehat akademikmu, atau malah, kamu langsung ketemu dengan rektor,” jawab Lubis. “Yang jelas, kamu harus cerita sejujur-jujurnya, Mas. Kamu sampai jadi begini pasti ada sebabnya,” Hari menambahkan.

“Memangnya, semudah itu, ya, UNY melakukan DO terhadap mahasiswanya?” tanya RZ yang membuat semuanya diam.

Check Also

UNY Akan Datangkan Panglima TNI pada Ospek Mendatang

Gatot Nurmantyo. | nasional.kompas.com Sumaryanto, Wakil Rektor III UNY sekaligus penanggung jawab kegiatan ospek UNY, …