Home » Sastra » Rindu untuk C

Rindu untuk C

Digaleri.com

Halo,

Rerumputan dibangunkan oleh embun pagi ini. Pasar tradisional sudah buka dan menjalankan penghidupan. Sementara sekolah mulai membunyikan lonceng-lonceng mereka menandakan jam kelas sudah akan dimulai. Semua itu aku lewatkan dengan bangun siang.

Aku selalu ingin bangun pagi dan mengucapkan selamat pagi untukmu. Meski sebenarnya mungkin itu tak kau perlukan. Ya, aku tahu yang kau perlukan hanya kepercayaan dan rindu yang harus aku jaga terus menerus. Karena aku mencintaimu maka rindu adalah niscaya bagiku.

Apa kabarmu disana? apakah baik saja? Sudah lewat setahun aku tak menyapamu lewat surat. Ya, mengingat sekali lagi bahwa kita bukanlah kaum Luddis yang anti teknologi sehingga harus kembali ke komunikasi gaya lama yang tak lain melalui surat. Hanya ingin saja. ingin menulis sebuah pesan melalui selembar kertas.

Hari ini aku telah merapikan Lupusku. Bacaan kita sedari kecil. Aku pikir itu seperti bacaan wajib pemuda tahun 90-an. Kau tau, aku ingat manis sekali cerita dalam trilogi Bunga untuk Popi karya Hilman tersebut. Namun bisa aku katakan manis semua. Sambil membincang lagu-lagu Oasis dan Blur bercampur dengan lagu Dewa 19 hingga Sheila On 7. Aku lupa kalau kau sangat senang dengan Pop.

Aku baik-baik saja disini. Apa kabar denganmu? Hari ini tiba-tiba aku merindukanmu. Aku membaca semua buku di lemariku tapi itu percuma. Aku bosan. Aku ingin bertemu denganmu bersama rangkaian kenangan lain. Kenangan yang mungkin tercatat sampai 100 tahun ke depan.

Bahagia itu sederhana. Begitu katamu.Tak perlu dengan hal yang rumit, cukup dengan hal-hal yang sederhana.Begitu saja meredam ambisiku yang tak tentu arah dan utopis. Bagaimana kabar keluargamu disana? Apakah baik-baik saja? Apa kabar ibumu, ayahmu dan kakak-kakakmu? Semoga mereka baik, sehat dan selalu dalam pelukan kebaikan.

Aku telah menyelesaikan tugas akhirku. Tapi aku belum bisa menemui rumah. Karena aku sudah memutuskan berjalan di satu pilihan. Aku tak bilang tak akan pulang. Aku pasti pulang. Karena aku merindukanmu.

Kau tahu, beberapa bagian dari hidup berisikan ruang tunggu. Beberapa yang lainnya ruang untk berlari dan sisanya sangat banyak. Untukku maukah kau duduk diruang tunggu? Aku akan menjemputmu untuk bersama menghadapi hidup?

Hidup seperti Mite. Terus saja dibicarakan. Seperti halnya penyamaan Levi-Strauss akan Mite dan musik. Hidup adalah hubungan estetis antara melodi dan harmonisasi nada dalam musik. Bisakah aku bilang kalau absurdnya hidup kita ini adalah keteraturan yang diramalkan semesta pada kita? Hidup seperti mengarahkanku untuk terus mengumpulkan kekuatan untuk menjemputmu.

Ragu? hmmm. Aku mengerti bagaimana keraguan bisa meliputimu. Pernah kukatakan bila kamu serius, pun aku. Sekarang aku hanya mengatakan bahwa aku serius. Kau tahu, merindukanmu seperti anak sekolah yang menanti hari sabtu dan minggu. Sabtu jam sekolah pendek dan minggu hari libur. Waktu untuk mewarnai dunia dengan warna selain dari sekolah.

Mungkin kau kurang setuju aku bilang sekolah. Tapi bukan maksudku sekolah hanya menyediakan hitam dan putih. Hanya warna yang berbeda, itu saja. Yah, sekolah hari ini pun lebih berwajah mesin daripada wajah manusia. Kerjanya mencetak dan mencetak pekerja, ijazah sebagai legitimasi adalah yang utama. Aku hanya menakutkan peserta didik lupa esensi dari ilmupengetahuan setelahmendapatkan ijazah. Seperti aku takut kau melupakanku.

Bagaimana keponakanmu yang sudah beranjak besar? Sudahkah ia kau peluk. haha. Kau terlalu menyayanginya sehingga kadang membuatku cemburu dan ingin menandinginya dalam lomba makan es krim. Hmm. Entahlah. Aku begitu rindu hingga aku meracau seperti ini.

 

Tunggu aku. Tiap pagi akan kuhangatkan rindu. Menyelimutinya dan memberikannya segelas teh hangat tiap pagi.

 

Merindukanmu seperti menanti hari sabtu dan minggu. Senang merayakan kesenangan.

Merindukan kesenangan menuntaskan rindu dalam peraduan. (Jaka H Baittri/ EKSPRESI)

 

Yogyakarta, 17 Oktober 2012

 

Check Also

Panut

Waktu itu matahari tampak telah condong ke arah barat. Seperti biasanya saat jam pulang sekolah, …