Home » Opini » Satrio Piningit Jakarta?

Satrio Piningit Jakarta?

SEANDAINYA Joko Widodo (Jokowi) memang seorang contoh pemimpin yang baik dan telah terbukti berhasil di Solo, apakah dia juga bakal mampu membenahi permasalahan-permasalahan yang ada di Jakarta untuk jangka waktu lima tahun mendatang?

Sebelum akhirnya menduduki kursi gubernur di ibukota pada 15 Oktober 2012 lalu, Jokowi merupakan Walikota Solo yang dicintai warganya. Selain mau turun langsung ke lapangan untuk kerja-kerja teknis, dia juga mampu memecahkan permasalahan pelik di Solo dengan cara yang elegan. Yang paling mendapat banyak pujian adalah ketika Jokowi mampu merelokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Solo tanpa menggunakan cara kekerasan atau model penggusuran ala Pol PP.

Selain itu, sejak masa jabatannya sebagai walikota, Solo pun mempunyai sebutan baru, The Spirit of Java. Hal itu dilakukan guna mendorong aspek pariwisata di Solo. Bukan hanya itu saja, namun Solo pun memberanikan diri menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Prestasi Jokowi berlanjut dengan keberhasilan Surakarta (nama lain Solo) menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008.

Berbagai langkah dan terobosan pun Jokowi lakukan. Walaupun banyak pihak menganggap promosi yang dilakukan Jokowi pada Mobil Esemka merupakan cara pencitraan dirinya pada public, toh Jokowi tetap bergeming dan bahkan menggunakan salah satu Mobil Esemka sebagai kendaraan dinasnya. “Mobil Esemka bukan odong-odong, rancangannya telah dipikirkan baik-baik sejak lima tahun yang lalu,” kata Joko Widodo di Kantor Perum LKBN ANTARA di Jakarta, Sabtu (25/2). Pujian dari publik pun kembali mengalir kepadanya.

Secara umum, Jokowi telah mampu mengemban tugasnya sebagai Walikota Solo dengan baik. Tak tanggung-tanggung, Majalah Tempo pun sempat memilih Jokowi sebagai salah satu 10 Tokoh 2008. Pada kesempatan itu Tempo memilih sepuluh bupati dan wali kota sebagai Tokoh 2008. Yang memiliki banyak inovasi dan terobosan, hingga akhirnya Jokowi terpilih sebagai salah satunya. Pada ulasannya, Tempo menyebutkan Jokowi telah berhasil mendemonstrasikan bagaimana memanusiakan warganya.

Pada Pilkada DKI yang lalu, Jokowi telah membuktikan diri bahwa dia mampu meyakinkan warga Jakarta untuk membantu mengatasi segala permasalahannya. Melalui dua putaran pemilihan, kursi DKI 1 pun diraihnya. Jika melihat segudang prestasi yang dimiliki Jokowi dan pujian yang belakangan ini membanjiri dirinya. Rasanya kita perlu optimis kepada Jokowi untuk dapat mengemban tugasnya dengan baik –seperti yang telah dia lakukan di Solo–. Namun apakah Jokowi mampu?

Menjadi seorang walikota dan gubernur tentu berbeda. Secara hirarki kini Jokowi membawahi beberapa walikota, dimana itu berarti tanggung jawab yang kini diemban olehnya pun semakin besar. Memimpin suatu kota dan propinsi pun jelas berbeda. Terlebih Jakarta adalah Ibukota Negara Republik Indonesia. Tentu jauh lebih banyak permasalahan yang akan dia hadapi di Jakarta ketimbang di Solo.

Banyak pihak merasa bahwa Indonesia kini telah ke-jakarta-jakarta-an, mudahnya Jakarta Sentris. Sementara itu televisi telah berhasil membentuk citra Jakarta sebagai kota yang ‘wah’. Setiap harinya banyak orang yang berbondong-bondong ingin menuju Jakarta. Kebanyakan dari mereka adalah orang dengan kelas ekonomi bawah. Mereka anggap dengan datang ke Ibukota maka keadaan ekonomi mereka akan jadi lebih baik, seperti mendapat pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya.

Namun tanpa disadari, mereka telah datang ke kota yang hanya menawarkan omong kosong belaka. Justru kehadiran mereka di Jakarta nantinya yang akan menambah beban dan permasalahan di Jakarta. Seperti halnya bertambahnya jumlah pengangguran, kurangnya lahan untuk tinggal, belum lagi kesemrawutan yang bakal terjadi. Atau malah tingkat kriminalitas yang bias saja semakin meninggi karena tekanan ekonomi yang semakin mendera. Karena ternyata harapan mendapat kehidupan yang lebih baik di Jakarta tidak tercapai.

Itu tadi hanya sebagian permasalahan Jakarta yang dating dari luar. Masih banyak lagi permasalahan yang dimiliki Jakarta. Ibarat seorang gadis, Jakarta adalah gadis yang cantik diluar namun rapuh dalam hatinya. Rapuh di dalam berarti menyimpan berbagai permasalahan yang pelik. Banjir yang rutin menyapa di musim penghujan. Jalanan yang macet, kurangnya lahan tinggal, kemiskinan, serta sarana-sarana public lain yang kurang dapat terpenuhi dengan baik. Maupun beberapa Pekerjaan Rumah yang ditinggalkan gubernur terdahulu, Monorail dan Proyek Banjir Kanal misalnya. Dan masih banyak lagi masalah-masalah yang masih dan akan dihadapi Ibukota.

Jokowi terkenal baik dalam urusan pendekatan kultural. Keahlian itu yang sebenarnya diharapkan oleh publik untuk dapat diterapkan di Jakarta. Jokowi menyadari hal ini dan menerapkannya pada permasalahan di Tanah Merah. Kepada Kompas, Jokowi menyebutkan, “Saya ingin menyampaikan ini, terutama kepada warga di Tanah Merah. Jadi, masalah pembentukan RW dan RT serta KTP untuk Tanah Merah dan di Kampung Beting akan segera diproses”.

Namun ada permasalahan-permasalahan lain yang tidak melulu menekankan pada pendekatan cultural melainkan langsung mencari solusi konkret. Sarana transportasi yang masih buruk merupakan hal yang secepatnya harus diatasi.

Pengamat politik dari UI, Iberamsyah mengatakan ada empat masalah penting yang harus menjadi prioritas utama bagi Jokowi dalam melakukan perubahan di Jakarta. Salah satu masalah yang dihadapi kontinyu warga Jakarta yakni kemacetan lalu lintas. “Permasalahan ini sangat sulit ditangani bukan karena rasio jalan yang kurang tetapi armada transportasi angkutan umum yang sudah tua,” kata Iberamsyah.

Sejauh ini warga Jakarta masih senang menggunakan kendaraan pribadi, dimana ini akan menambah kepadatan ruas-ruas jalanan di Jakarta. Apabila Jokowi mampu melakukan pendekatan persuasive dan membenahi layanan sarana transportasi umum, bukan hal yang tidak mungkin apabila kemacetan Jakarta dapat diatasi. Oleh sebab itu banyak pihak mendesak penyelesaian proyek Monorail yang kini tiang-tiang pancangnya telah tertancap di beberapa tempat. Namun apakah Jokowi mampu menyelesaikannya dalam masa jabatannya? Atau malah akan dia tinggalkan sebagai PR baru bagi gubernur selanjutnya? Warga Jakarta berharap kepadanya.

Beberapa waktu yang lalu, Jokowi telah berusaha membenahi birokrasi di tubuh Pemprov DKI. Hal itu baik dilakukan, karena selain permasalahan diatas, warga Jakarta pun mengharapkan kemudahan dalam mendapatkan pelayanan dari kepemerintahan. Beberapa sidak dilakukan Jokowi ke Kelurahan maupun Kecamatan. Jokowi sempat mengkritik beberapa Camat yang tidak datang ke Kantor tepat waktu. Hal ini wajar saja dilakukan Jokowi, karena untuk mengubah Jakarta yang lebih baik, juga diperlukan pembenahan aparatur Negara di tingkatan bawah, seperti kelurahan maupun kecamatan. Bila semua aparatur Negara dapat bersinergi menjalankan tugasnya untuk rakyat maka bukan tidak mungkin Jakarta akan lebih baik ke depannya.

Perubahan memang tidak berlangsung secara instan. Namun apabila pemikiran Jokowi yang terkenal inovatif itu dapat benar-benar dia terapkan secara perbuatan dengan melahirkan kebijakan yang baik sebagai solusi konkret. Bukanlah hal yang tidak mungkin bahwa Jokowi mampu membawa Jakarta ke tingkat yang lebih baik.

Check Also

Negara Menjulukinya Pahlawan Devisa

Sudah banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) bersuara melindungi hak-hak para tenaga kerja di luar negeri, …