Home » Opini » Lulus, Jangan Asal Lulus

Lulus, Jangan Asal Lulus

Opini ini ditulis untuk menanggapi berita statement Rektor UNY yang termuat dalam Kedaulatan Rakyat, Rabu 19 Desember 2012 yang berjudul “4 tahun tak lulus, sebaiknya ‘DO’.

 

Lulus tepat waktu dan memperoleh gelar cumlaude merupakan impian semua orang. Pasalnya, penilaian akademis semacam itu dalam mindset kita merupakan hal yang sangat prestise dan membanggakan. Wajar bila masih dianggap sebagai simbol cap atas jaminan cerahnya masa depan seseorang. Parahnya lagi, praktis kalau kemudian semua orang turut berlomba-lomba mengejarnya dan tak ayal bila beragam cara apapun ditempuh meskipun dengan cara yang kurang baik sekalipun.

Jikalau kita melihat dalam ketatnya persaingan dunia kerja, penilaian yang kerap akan dinilai lebih adalah bukanlah pada penilaian akademis yang didewakan oleh sebagain besar orang saat ini. Melainkan penilaian yang lebih ditekankan pada pengalaman dan kemampuan keahlian atau keterampilan (softskill) yang salah satu contohnya

adalah pengalaman keaktifan mahasiswa dalam mengikuti keorganisasian atau kegiatan kampus. Hal ini tentunya dikarenakan dunia kerja akan lebih banyak terjun berhubungan langsung dalam berinteraksi dengan banyak orang. Sehingga kecenderungan seseorang yang aktif didalam organisasi atau kegiatan kampus akan jauh lebih siap untuk bekerja dan siap untuk segalanya dibandingkan dengan seseorang yang hanya sekedar berkutat banyak menghabiskan waktu dalam tataran teori belaka yang tentunya sangat minim praktik dan sangat tidak siap kerja.

Ketidaksiapan lulusan sejatinya akan berdampak pada angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang sebagaian besar bukan dikarenakan tidak adanya lapangan pekerjaan, melainkan lapangan pekerjaan yang ada tidak lagi dapat menampung banyaknya lulusan perguruan tinggi yang minim keahlian dan ketrampilan kerja. Berdasarkan data terbaru yang bersumber dari Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa banyak lulusan perguruan tinggi alias sarjana mendominasi angka TPT sebesar 12,12% dari jumlah pengangguran nasional per Bulan Agustus 2012 yang mencapai 7,2 juta jiwa dengan TPT sebesar 6,14%. Jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan strata lulusan pendidikan dibawahnya seperti SMK yang hanya mencapai sebesar 9,87%, SMA 9,60%, SMP 7,76%, dan SD kebawah sebesar 3,64% (Republika, Rabu 12 Desember 2012).

Kalau dilihat dari tingkat jumlah penduduk Indonesia yang bekerja, terdapat sebanyak 110,8 juta jiwa telah bekerja dengan didominasi lulusan yang berasal dari pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 53,88 juta jiwa (48,63 %) dan lulusan SMP sebanyak 20,22 juta jiwa (18, 25%). Sementara lulusan Universitas yang sudah bekerja hanya mencapai 6,98 juta jiwa (6,30%) dan lulusan pendidikan Diploma hanya 2,97 juta jiwa (2,68%) (Kedaulatan Rakyat, Senin, 3 Desember 2012).
Berdasarkan data tersebut, kecenderungan terlihat sangat jelas bahwa lulus bukanlah sekedar lulus. Namun, seharusnya lulus itu lulus yang berkualitas yakni lulus bukan hanya lulus dengan baik di dalam kemampuan akademik saja, melainkan juga baik dalam beragam pengalaman dan kemampuan keahlian atau ketrampilan (softskill). Sehingga ketika seseorang lulus pun tidak akan lagi ada yang memikirkan kemana ia hendak akan pergi untuk mencari dan melawar pekerjaan, melainkan ia akan memikirkan bagaimana cara membuka dan menciptakan lowongan pekerjaan sendiri.

Kebijakan yang Kontradiktif
Terkait dengan kelulusan, beban mahasiswa sepertinya tidak pernah ada habisnya. Kita masih mengingat jelas pro dan kontra atas dikeluarkannya surat edaran dari Dirjen Dikti yang tertera dalam surat keputusan Kemendikbud No. 152/E/T/2012 tertanggal 27 Januari 2012 tentang publikasi karya ilmiah yang mewajibkan kepada setiap mahasiswa untuk membuat artikel ilmiah yang wajib dipublikasikan sebagai syarat kelulusan dengan alasan sebagai upaya untuk mengurangi plagiarisme dikalangan para akademisi dan kini mahasiswa akan dihadapkan dengan kenyataan kebijakan terbaru yang hendak dilaksanakan terkait dengan kelulusan yakni kebijakan pemberlakuan masa studi 4 (empat) tahun harus lulus. Sehingga mahasiswa yang masa studi lebih dari 4 (empat) tahun harus dikenakan sanksi putus masa studinya alias Droup Out (DO). Itu merupakan usulan kebijakan Rektor Universitas Negeri Yogayakarta (UNY), Prof. Dr. Rochmat Wahab M. Pd, MA yang akan diberlakuakan di UNY kedepannya dan Perguruan Tinggi (PT) lainya untuk mulai menerapkannya dengan alasan bahwa lamanya masa studi akan menyebabkan terjadinya pemborosan biaya pada pendidikan dan menghabiskan masa usia produktif mahasiswa (Kedaulatan Rakyat, Rabu 19 Desember 2012).

Lama atau tidaknya dalam menempuh masa studi, seharusnya instansi pendidikan tidaklah terlalu mementingkannya jikalau mahasiswa benar-benar mampu memanfaatkan waktu yang ada untuk mengembangkan seluruh kemampuan potensinya baik akademis yang diperoleh dari kegiaatan perkualiahan, maupun non akademis yang diperoleh dari kegiatan ektrakulikuler atau keorganisasian sebagai bekal ketika mereka lulus nantinya.

Jika benar kebijakan ini dilaksanakan, yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah mahasiswa mampu menempuh masa studi hanya selama 4 (empat) tahun seperti kebijakan yang hendak dijalankan diatas? Jawabannya mungkin saja bisa, namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah kualitas seperti apakah yang hendak akan dikeluarkan oleh perguruan tinggi ketika aturan kebijakan tersebut yang sangat terkesan memaksakan mahasiswa untuk belajar melebihi batas kemampuannya? yang dimana kita mengetahui dengan jelas bahwa kemampuan satu dengan orang lain yang tentunya berbeda-beda dan tidak sama?

Selain dinilai dari tingkat kemampuan, tentunya kita juga akan bertanya terkait dengan pengembangan pengalaman keorganisasian mahasiwa? Dimana yang telah dijelaskan sebelumnya diatas bahwa pengalaman dan keahlian atau ketrampilan (softskill) sangat berpengaruh besar dalam melatih kesiapan kita dalam menghadapi dunia kerja.

Apabila kebijakan ini benar akan diterapkan, sudah dipastikan bahwa dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi hanya akan menghasilkan dan mencetak lulusan-lulusan terdidik saja, bukan lulusan-lulusan yang terampil dan siap dalam bekerja. Selain itu, sudah sangat terlihat jelas pula bahwa perguruan tinggi hanya akan mengejar banyaknya jumlah kelulusan (kuantitas) dengan mengabaikan kualitas para alumninya yang sepenuhnya tidak siap bersaing dalam ketatnya persaingan dunia kerja akibat dari kurangnya kesiapan dan bekal yang dimiliki. Sehingga yang ada lulusan hanyalah akan menjadi penambah rentetan panjang angka pengangguran intelektual yang kini kian meningkat saja dikalangan lulusan-lulusan perguruan tinggi (Kedaulatan Rakyat, 3 Desember 2012).

Oleh sebab itulah, pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 telah menyebutkan dengan jelas bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Maka sudah saatnya pendidikan dijadikan sebagai patokan bahwa kebijakan dalam mencetak generasi lulusan pendidikan haruslah yang benar-benar mencetak lulusan yang berkualitas. Sehingga, harapannya kedepan perguruan tinggi tidak akan sekedar meluluskan mahasiswa dengan membekali gelar sarjana dan ijazah semata, namun juga membekali pengalaman dan kemampuan keahlian atau ketrampilan (softskill) pula. Karena sekali lagi bahwa lulus itu penting, akan tetapi yang lebih terpenting adalah janganlah lulus dengan asal lulus. (Ahmad Syaiful Hidayat, Mahasiswa Pendidikan Geografi)

 

Check Also

Komune Sebagai Budaya-Tanding: Memungkinkan Ketidakmungkinan

Oleh Laksmi A. Savitri (Dosen antropologi UGM) La comuna o nada (the commune or nothing) …