Home » Opini » Tak Lolos SBMPTN, Bukan Berarti Harapan Sirna

Tak Lolos SBMPTN, Bukan Berarti Harapan Sirna

logo sbmptn

Membaca Koran Kedaulatan Rakyat (KR) pada 9 Juli 2013, tercantum berita yang begitu memilukan bagi sebagian orang. Dari 585.789 siswa pendaftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), sebanyak 475.936 siswa yang mengikuti ujian SBMPTN tak lolos seleksi. Hanya sebanyak 109.853  –termasuk mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi– calon mahasiswa baru yang diterima. Deretan numerik yang terlihat jelas di atas mencitrakan paradoks: kesedihan dan kesenangan.

Tak ayal, SBMPTN yang diikuti oleh 62 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seluruh Indonesia itu, memberikan harapan siswa serta orang tua untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Tak sedikit faktor keberuntungan yang menerpa sang siswa lolos seleksi. Artinya, tatkala persiapan menghadapi SBMPTN hanya dipersiapkan secara biasa saja, tetapi lolos seleksi. Sementara itu, faktor ketidakberuntungan bagi sang siswa yang bersedia mempertaruhkan darah jiwanya demi lolos seleksi –dengan belajar giat—tetapi nasib berkata lain, ia tak lolos.

Kondisi tak diterimanya kelolosan pribadi dalam sebuah kompetisi seperti SBMPTN, memberikan atmosfir putus asa dan pesimisme akut pada jiwa dan raga. Hal ini dimulai dengan detik-detik melihat pengunguman yang bertuliskan “Maaf Anda Tak Lolos Seleksi”, seketika itu: hati tercabik-cabik, raga melemas, dan tak terbendung air mata pun ikut hadir.

Keputusan nasional yang tak meloloskan “sang siswa” tersebut, memberikan efek seolah-olah harapan yang diinginkan untuk mengenyam pendidikan di kampus X, jurusan Y, terkikis dan sirna. Namun, apakah perjuangan demi iktikad kuat untuk melanjutkan cita-cita masa depan akan stagnan, hanya karena ketikdaklolosan di SBMPTN. Apakah hanya karena ketidaklolosan itu, perjuangan atas harapan yang diidamkan hanya “menjadi mimpi di atas mimpi”.

 

Masih Ada “Secuil Harapan”

Meskipun berbagai motivasi diujarkan dan dituliskan di mana pun jua, keputusasaan itu menghantui disetiap jejak langkah. Ada yang bicara “banyak jalan menuju Mrican”, “Bangkit dan Lawan!”, dan sebagainya. Barangkali jargon motivasi itu akan menjadi pembangkitan diri untuk tak selalu meratapi keadaan. Meskipun, “luka” itu masih menjadi kenangan pahit.

Wahai “sang siswa yang tak diterima SBMPTN di seluruh Indonesia”, posisi yang sedemikian memilukan itu, pernah saya alami pada tahun 2011. Saya pernah mengalami proses itu. Bahkan, keputusasaan pernah mengendap dalam diri yang sederhana ini. Pada tahun 2011, saya diikutsertakan untuk mengikuti SNMPTN undangan, tetapi tak lolos jua. Kala itu, saya 50% putus harapan. Akan tetapi, saya mencoba bangkit kembali dengan mengikuti SNMPTN tulis. Dengan masih istikamah dengan pilihan pertama “jurusan”. Segala amunisi demi kelolosan itu, saya pertaruhkan dalam beberapa hari berkhalawat dengan soal-prediksi ujian. Namun demikian, saya tetap tak lolos seleksi dipilihan pertama. Persentase putus asa yang menunjukan 50%, akhirnya naik 30%, sehingga menjadi 80%.

Dua kali tak lolos ujian masuk perguruan tinggi membikin saya semakin tercabik-cabik. Tetapi, harapan dan kehendak dariNya pasti ada. Akhirnya, saya meluruskan niat kembali untuk mengikuti program Seleksi Mandiri (SM). Berbeda dengan tahun sebelumnya, kebijakan SM pada tahun 2011 hanya membuka satu kali kesempatan. Masih istikamah dengan pilihan pertama, saya pun mengikuti ujian SM.

Kali ini berbeda, saya pun lolos seleksi di pilihan pertama. Ternyata, istikamah untuk memilih di pilihan pertama dan utama semenjak SNMPTN undangan, akhirnya membuahkan hasil. Banyak pelajaran yang saya petik dari perjuangan itu: ceritera, kebangkitan harapan, revolusi diri, tekad perjuangan, dan sebagainya.

Wahai “sang siswa yang tak lolos SBMPTN”, tidak diterimanya kalian di seleksi ke-2 (Nasional) ini, bukan berarti harus menyerah pada keadaan. Masih banyak jalan menuju seleksi terkahir di jalus SM –khususnya di UNY—. “Think Out of The Box,” kata Sokrates pada muridnya. Saya yakin, orang yang tak lolos di SNMPTN dan SBMPTN adalah orang yang hebat. Sebab, banyak melalui lika-liku perjuangan yang amat men-destruktif jiwa dan raga. Harapan itu masih ada.

 

Rony K. Pratama

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Check Also

Rivalitas Panas Grup A Piala Presiden 2018

Piala Presiden 2018 akhirnya resmi bergulir. Turnamen pramusim ini diikuti oleh 20 tim dan dibagi …