Home » Opini » Budaya Membaca (Buku) yang Tertinggal

Budaya Membaca (Buku) yang Tertinggal

Pinterest

Konsep cultural lag atau ketertinggalan budaya dikemukakan oleh William Fielding Ogburn, seorang sosiolog ternama asal Georgia, Amerika Serikat yang menjadi ilmuwan sosiologi pertama peneliti proses perubahan sosial yang terjadi di masyarakat secara terperinci.

Inti konsep ini mengacu pada perbedaan antara tarif kemajuan dari berbagai bagian dalam kebudayaan dari suatu masyarakat. Ogburn sendiri menitiktolakkan konsep tersebut pada peranan dari dua aspek kebudayaan yang meliputi kebudayaan material yaitu artefak, teknologi, dan proses-proses yang ada kaitannya, dan peranan kebudayaan immaterial yang mencangkup lembaga-lembaga sosial, nilai, dan norma. Ia berpendapat bahwa perubahan pada kebudayaan material cenderung terjadi terlebih dahulu, lalu kebudayaan immaterial berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan pada kebudayaan material tersebut. Dalam proses penyesuaian itulah terjadi cultural lag atau ketertinggalan budaya, yaitu ketika terjadi ketidakseimbangan proses maupun wujud perubahan antara kebudayaan material dan immaterial, sehingga salah satu diantara dua wujud kebudayaan tersebut berusaha menyesuaikan diri atas ketertinggalan perubahannya atas wujud budaya yang lain.

Ogburn mengakui bahwa selalu ada kemungkinan terjadinya perubahan pada kebudayaan immaterial terlebih dahulu, walaupun amat jarang terjadi karena yang terlihat dari perkembangan zaman yang semakin modern sekarang ini adalah pesatnya penciptaan-penciptaan, penemuan-penemuan, maupun difusi dari kebudayaan material dalam wujud yang paling relevan dan kongkret adalah teknologi. Pesatnya perkembangan teknologi memunculkan semacam “ketegangan” pada kebudayaan immaterial yang berusaha keras menyesuaikan diri. Sedangkan wujud dari kebudayaan immaterial yang mengalami “ketegangan” tersebut antara lain norma sosial dalam masyarakat yang berwujud pada kebiasaan-kebiasaan (folkways). Ketika kebiasaan tersebut menjadi suatu pola perilaku individu yang dilakukan berulang-ulang, maka pola perilaku tersebut akan membentuk semacam budaya baru yang diakui dan diterima masyarakat dikarenakan masyarakat menyukai kebiasaan tersebut, serta adanya semacam anggapan umum bahwa kebiasaan tersebut pada dasarnya baik.

Langkah paling awal dalam penerapan konsep cultural lag antara lain menentukan dua variabel yang mewakili dua wujud kebudayaan material maupun immaterial. Dalam pembahasan pada tulisan ini, teknologi internet menjadi variabel kebudayaan material dan budaya membaca khususnya di kalangan mahasiswa sebagai variabel dari kebudayaan immaterial. Lalu bagaimana realita yang menggambarkan hubungan antara kedua variabel tersebut hingga memunculkan akibat ketertinggalan pada salah satunya dan “ketegangan” pada kelanjutan perkembangan dua kebudayaan tersebut?

Secara harfiah, Internet (interconnected-networking) ialah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani milyaran pengguna di seluruh dunia. Internet menghasilkan suatu jaringan komputer global bagi setiap orang di belahan bumi manapun untuk saling terkoneksi, saling berinteraksi, mengakses hampir segala hal, hingga pengembangan jaringan sosial tanpa batas dan bersifat luas.

Perkembangan zaman berindikasi pada pesatnya perkembangan teknologi internet dan kemudahan akses bagi siapa saja yang ingin menikmati akses internet tersebut. Kemudahan akses internet merambah ke hampir semua kalangan di masyarakat, tak terkecuali bagi kalangan mahasiswa. Bentuk kongkretnya adalah menjamurnya warung internet (warnet) di lingkungan tempat tinggal mahasiswa, menjadikan kesempatan dan pilihan dalam akses tersebut semakin luas. Bentuk kemudahan lainnya adalah perkembangan PC (Personal Computer), netbook ataupun laptop yang semakin mudah untuk dijangkau mahasiswa. Dengan penambahan fasilitas modem ataupun wireless, mereka dengan mudah mengakses internet kapan pun, selama apa pun, dan dimana pun mereka berada. Faktor perkembangan teknologi internet yang semakin intens dan intim menjamah kehidupan mahasiswa juga berangkat dari semakin murahnya akses internet tersebut. Berawal dari murahnya tarif akses internet di warnet, makin murahnya harga sebuah PC, netbook maupun laptop, hingga persaingan antar pengelola bisnis modem dan perangkat akses internet bagi PC, netbook maupun laptop yang membuat harga akses internet semakin terjangkau bahkan gratis.

Sedangkan pola kebiasaan “membaca” (book review) bagi mahasiswa adalah salah satu dari “trilogi keterampilan akademik dasar” di perguruan tinggi selain keterampilan berbicara (diskusi, presentasi), dan menulis yang bisa dikatakan sebagai modal wajib bagi mahasiswa dalam proses pendidikan di perguruan tinggi tersebut, karena penguasaan atas tiga instrumen tersebut akan lebih memudahkan mahasiswa untuk menempa dirinya menjadi insan akademik yang utuh. Oleh karena itu, pihak perguruan tinggi pada khususnya serta pihak luar semisal pihak percetakan, penerbit, pengelola perpustakaan maupun penjual buku pada umumnya telah menjembatani dan memfasilitasi mahasiswa untuk bisa memenuhi penguasaan atas kemampuan membaca mereka.

Namun, kenyataan yang ada sekarang ini menunjukkan bahwa budaya membaca di kalangan mahasiswa justru mengalami penurunan yang cukup drastis. Pengamatan penulis di lingkungan kos Karangmalang, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY yang dipenuhi oleh para mahasiswa merujuk pada kesimpulan tersebut. Antara lain jarang sekali mahasiswa terlihat dalam keadaan membaca ketika ada waktu luang. Baik itu di lingkungan kos, warung makan, tempat kumpul, maupun di tempat-tempat umum. Tempat-tempat penyewaan buku, perpustakaan umum, semakin sepi dari kehadiran mahasiswa. Kegiatan membaca dikalangan mahasiswa menjadi suatu hal yang mahal untuk ditemui sekarang ini.

Salah satu faktor terbesar penyebab penurunan intensitas budaya membaca di kalangan mahasiswa adalah berhubungan tentang pembahasan tentang teknologi internet diatas. Budaya membaca mahasiswa tergeser oleh pola kebiasaan baru dalam akses internet tanpa batas, dalam keterjangkauan harga yang memanjakan mahasiswa, dan semakin mudahnya akses internet menjamah kalangan mahasiswa.

Mudah menemukan mahasiswa yang sedang berkutat di kamar mereka, menghadap layar PC, netbook ataupun laptop yang  tersambung langsung ke dunia maya hanya dengan berbekal perangkat modem. Atau tengok saja warnet-warnet yang tak pernah sepi dari mahasiswa-mahasiswa itu sendiri. Menghabiskan waktu luang untuk sekedar kegiatan yang jauh dari ranah akademik yang seharusnya mereka dahulukan dan tingkatkan. Semisal asyik dalam situs jejaring sosial facebook, twitter, kaskus; bermain game online; download musik, video, film dan akses lainnya yang hampir keseluruhan hanya bersifat hiburan, kurang menjamah wilayah keilmuan ataupun pendidikan yang sedang mereka tempuh.

Perubahan pola perilaku yang demikian setidaknya tergambar pada seorang teman kos di Karangmalang yang mengaku bimbang akan pola perilakunya sendiri yang lebih tertarik pada akses internet melalui laptopnya dibandingkan untuk membaca buku koleksinya. Hampir setiap hari dimana ada waktu luang, maka ia dengan segera larut pada internet dengan segala macam aksesnya. Entah itu facebook, twitter, kaskus, download dan menonton film, ataupun akses internet lainnya. Rupanya timbul semacam kesadaran bahwa akses internet yang sedemikian mudah dan murahnya bisa menjadi candu yang tentu saja mengurangi sisi produktivitasnya sebagai seorang mahasiswa yang dulunya gemar membaca. Dimanjakan oleh kemudahan akses internet membuat bertumpuk-tumpuk buku yang sudah dibelinya menganggur begitu saja.

Kasus-kasus serupa tentu dialami oleh sebagian mahasiswa bukan hanya di wilayah Karangmalang, tapi lebih luas lagi di setiap wilayah dimana kemajuan teknologi internet telah membuat mahasiswa terlena dalam pola aktivitas yang dikategorikan mubah, dan menjauhkan mahasiswa tersebut dari apa yang menjadi kewajiban mereka selama menjadi seorang yang berkecimpung dalam civitas akademika.

Bentuk perubahan pola perilaku mahasiswa diatas sesuai dengan apa yang dikonsepkan W. F. Ogburn sebagai cultural lag atau ketertinggalan budaya. Perkembangan teknologi internet sebagai bentuk hasil kebudayaan material melesat jauh meninggalkan pola kebudayaan immaterial lama yaitu budaya membaca di kalangan mahasiswa. Konstruksi analisisnya kurang lebih sebagai berikut: ketika dulu kemunculan internet belum begitu pesat, penggunaannya di kalangan mahasiswa masih seimbang dengan budaya/pola perilaku membaca di kalangan mahasiswa yang masih eksis. Ketika perkembangan teknologi internet yang pesat membuka kesempatan bagi semua orang termasuk mahasiswa untuk menikmatinya dengan segala kemudahan, kecanggihan dan kemurahannya, maka lambat laun budaya membaca tersebut akan bergeser dan tergantikan oleh teknologi internet tersebut. Ada semacam ketegangan pada kebudayaan immaterial (budaya membaca) yang berusaha menyesuaikan diri dengan pesatnya perkembangan kebudayaan materialnya (teknologi internet), akibatnya terjadilah cultural lag atau ketertinggalan kebudayaan. Cultural lag itulah yang menurut Ogburn sebagai faktor utama terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat dewasa ini.

Perkembangan persinggungan antara dua kebudayaan material dan immaterial diatas tidak hanya menimbulkan ketegangan pada kedua kebudayaan yang bersangkutan, tetapi juga ketegangan pada masyarakatnya. Ketika keadaan antara kemunculan internet dan budaya membaca di kalangan mahasiswa berimbang dan tidak menimbulkan efek yang lebih jauh terutama efek negatif, maka masyarakat akan menjaga keadaan tersebut supaya tidak terjadi penyimpangan. Tapi ketika ada gangguan dalam keseimbangan tersebut, masyarakat akan menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru. Dan dalam proses penyesuaian diri itulah seringkali masyarakat mengalami ketegangan-ketegangan.

Dalam kasus teknologi internet ini, tentu tidak ada penolakan dari masyarakat karena pada awalnya internet dianggap sebuah teknologi baru yang mempermudah penanganan berbagai masalah dalam beberapa aspek kehidupan masyarakat itu sendiri. Hanya saja, efek negatif seperti penurunan intensitas budaya membaca di kalangan mahasiswa tidak disangka oleh masyarakat akan terjadi. Sehingga dalam kasus ini, perubahan sosial yang terjadi adalah perubahan yang tidak dikehendaki (unintended-change) atau perubahan yang tidak direncanakan (unplaned-change). Sedikit ketegangan muncul di masyarakat dari pihak yang mencoba mengkritisi akibat dari perkembangan teknologi internet tersebut yang berusaha mempertahankan  budaya membaca agar tetap eksis dengan pihak pengguna internet (dalam hal ini adalah mahasiswa) yang sudah terlanjur bergantung pada akses internet demi pemenuhan kebutuhan informasi dan hiburan mereka. Dan ketegangan tersebut akan terus berlanjut, bahkan meningkat, karena untuk ke depannya persoalan teknologi tentu akan terus mengalami perkembangan yang semakin pesat, mutakhir dan memanjakan para penggunanya.

Bagaimana pun caranya, mencegah laju perkembangan teknologi internet pada dewasa ini adalah hal yang hampir mustahil untuk dilaksanakan. Peran orang tua sebagai pengontrol juga tidak akan efektif mengingat sebagian besar mahasiswa adalah para perantau yang jauh dari orang tua mereka di kampung halaman. Dan jika keadaan yang demikian mempertaruhkan sisi intelektual dan produktivitas mahasiswa, maka solusi  paling utamanya adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran di kalangan mahasiswa itu sendiri untuk memperbaiki pola pemanfaatan teknologi internet agar lebih sesuai dengan kebutuhan. Internet digunakan bukan untuk mengakses hal-hal yang bersifat sia-sia, namun harus ada nilai tambah dari penggunaan teknologi internet tersebut, terutama nilai tambah bagi kemajuan pendidikan yang sedang ditempuh oleh para mahasiswa itu sendiri.

Dalam tulisan penulis tidak bermaksud untuk mengkerdilkan penggunaan internet apalagi berniat melarang, namun sekedar mengkritisi pemanfaatan internet tersebut terutama di kalangan mahasiswa yang dirasa sudah ada gejala penyimpangan dan diperlukan sikap yang lebih bijak lagi dalam penggunaannya. Yaitu pengaturan prioritas akses internet dalam pembagian waktu kapan internet dipakai untuk membantu memperlancar proses belajar mahasiswa dan kapan internet dipakai untuk refresing/hiburan. Terutama sekali prioritas bagi mahasiswa untuk meluangkan sedikit waktunya dalam mengembangkan budaya membaca. Sebab seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, membaca merupakan salah satu “trilogi keterampilan akademik dasar” untuk mahasiswa dalam menempa dirinya menjadi insan akademik yang utuh. Karena apabila kesadaran tersebut tidak segera dikembangkan dan direalisasikan pada diri tiap mahasiswa, bukan tidak mungkin suatu hari akan tercetus konsep baru, yaitu nation lag atau ketertinggalan bangsa. Konsep dimana suatu bangsa selalu tertinggal oleh bangsa lain karena angkatan mudanya hanya menjadi korban perkembangan zaman yang terus bergulir tanpa mampu mengimbangi pergerakan bangsa lain tersebut. (A. Muawal Hasan)

Check Also

Perang Dingin Menjelang Pemilwa UNY

Oleh Rony K. Pratama (Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Desember belum terlihat batang hidungnya, …