Home » Opini » Hak Anak untuk Hiburan Televisi

Hak Anak untuk Hiburan Televisi

Ketika saya masih berumur sembilan tahun, terdapat banyak acara televisi untuk anak-anak, seperti Cerita Dongeng Dancow yang juga dikomikkan dan komiknya dijadikan bonus ketika membeli produk dari Dancow. Kemudian ada juga acara pahlawan seperti Saras 008 yang ditayangkan di Indosiar. Kedua acara tadi merupakan sedikit dari banyak tanyangan anak di televisi. Namun, sekarang tak banyak stasiun televisi yang menampilkan acara anak. Acara anak yang masih bertahan hingga saat ini adalah Doraemon yang menceritakan petualangan robot kucing abad XXII asal Jepang.

Tak hanya acara televise, saat ini lagu-lagu untuk anak pun jarang ditemui. Anak-anak malah menyanyikan lagu untuk orang dewasa. Orang-orang yang lahir tahun 90-an tentu masih ingat acara dunia anak yang tayang di SCTV, acara tersebut menampilkan lagu-lagu anak terbaru. Acara anak yang minim dewasa ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena anak-anak sekarang memiliki rutinitas lain selain menonton televisi dan dari hal tersebut akan memberi pengaruh besar pada bisnis hiburan anak yang termasuk dalam acara televisi dan bacaan anak.

Kebanyakan, anak-anak saat ini lebih sibuk dibanding ketika kita  kecil dulu. Saat ini anak usia Sekolah Dasar sudah diwajibkan untuk mengikuti beberapa pelajaran tambahan dari sekolah masing-masing seperti les komputer, les matematika, dan les bahasa Inggris, tergantung dari kebijakan sekolah masing-masing. Anak-anak yang seharian penuh berkegiatan di sekolah dan bermain bersama temannya tentu tidak akan punya waktu untuk sekedar duduk dan menyaksikan acara televisi. Karena tuntutan dari berbagai sisi itulah anak zaman sekarang jarang yang memiliki waktu luang untuk menonton televisi, karena mereka sudah terlalu lelah dengan kegiatannya setiap hari.

Dari sebagian anak yang memiliki kegiatan padat setiap harinya inilah para pengusaha stasiun televisi menjadi tak berminat menampilkan acara anak pada waktu tanyang utama atau Prime time. Waktu tayang utama pada televisi berlangsung antara pukul 19.00 – 21.00. Pada waktu tersebut rating sebuah acara televisi dapat mencapai angka yang tinggi karena pada saat itulah kebanyakan orang menonton televisi. Karena dari sebagian anak yang sibuk itu rating sebuah acara dapat diperoleh. Ketika hanya sebagian anak yang menonton televisi dan itu membuat rating acara anak tak sebagus sinetron yang notabene ditonton oleh ibu rumah tangga, maka para pengusaha stasiun televisi lebih memilih untuk menampilkan acara sinetron.  Karena jelas, profitnya lebih tinggi. Karena acara anak tidak terdapat saat prime time maka anak tersebut tak punya pilihan lain kecuali menonton acara sinetron bersama ibu mereka. Di sinilah peran orang tua sangat penting. Namun, sayangnya kebanyakan orang tua mengabaikan perkembangan anaknya. Mereka membiarkan anak-anaknya menonton acara televisi bersama mereka. Beberapa dari mereka akan memperingatkan anak-anaknya untuk tidak meniru hal-hal buruk yang terdapat dalam tayangan tersebut.

Dalam ilmu psikologi diyakini bahwa manusia sulit menerima perintah dengan kalimat negative seperti tidak, jangan, tanpa. Karena ketika seseorang berkata seperti “jangan dipegang” maka dalam diri orang tersebut memberontak dan ingin sekali mengetahui apa yang akan terjadi jika benda yang dimaksud dipegang. Sehingga, akan lebih baik jika anak menonton acara yang sesuai dengan usia anak yaitu acara anak meski tidak tersedia.

Ketika anak tak mendapat haknya untuk dapat menyaksikan acara yang pantas dengannya maka anak hanya memiliki dua pilihan, yaitu bertahan dan pergi. Bertahan berarti anak tetap mengkonsumsi acara-acara yang tak sesuai dengan usianya. Menyaksikan acara-acara orang dewasa yang belum waktunya untuk disaksikan. Akibatnya, terjadi pada perkembangan mental si anak. Pada usia anak-anak, mereka masih labil dan meniru apa yang dilihatnya. Anak-anak masih belum dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Sehingga apa yang dilihatnya dapat ia tiru begitu saja. Beberapa orang tua seperti yang sudah disebutkan sebelumnya hanya memperingatkan mereka untuk tidak menirukan apa yang terdapat di televisi. Namun, larangan-larangan dari orang tua hanya membuat mereka semakin ingin melakukan hal yang dilarang tersebut. Karena merasa tertantang dengan ucapan jangan.

Tidak ikut menonton adalah pilihan kemungkinan yang akan dilakukan oleh anak-anak ketika menghadapi peristiwa seperti ini. Anak tak dapat menerima haknya untuk mendapat acara dan bacaan yang layak dan sesuai dengan usia mereka. Anak-anak tak bisa melakukan banyak hal ketika terjadi diskriminasi usia dalam hal kesetaraan hak dengan orang dewasa. Mereka hanya bisa bertanya kepada orang dewasa dan diam.

Rukiyati dalam buku Pendidikan Pancasila mengatakan bahwa

Makna pokok Sila ke-2 adalah… menjunjung tinggi kemerdekaan hak segala bangsa. …konsekuensi dari hal ini, dengan sendirinya sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dalam kasus minimnya acara hiburan untuk anak-anak di televise hak anak untuk mendapat hiburan berupa acara televisi diremehkan. Karena mereka anak-anak maka kebutuhan mereka diabaikan. Padahal, kepribadian seseorang sebagian besar dipengaruhi oleh kebiasaan masa kecil, kejadian-kejadian masa kecil, peristiwa yang mereka alami ketika masih menjadi anak-anak. Sehingga penting memenuhi hak anak untuk dapat menyaksikan acara yang sesuai dengan umurnya. (Nur Janti)

 

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …