Home » Opini » Jangan Salahkan Uang, tapi Mesin Hasrat

Jangan Salahkan Uang, tapi Mesin Hasrat

'I'll feel better about his recovery chances after he's able to be taken off life support.'

Jin: “Kamu punya 1 permintaan”

Orang: “Aku mau korupsi hilang dari muka bumi ini”

Jin: “Bisa diatur. Wani piro?”

Dialog dari iklan rokok di atas pasti sudah tak asing lagi. Obrolan antara jin dan manusia tadi memperlihatkan bahwa uang seringkali digunakan untuk melicinkan keinginan sesorang. Tak berbeda dengan kasus-kasus korupsi yang telah terjadi belakangan ini menunjukkan merosotnya moral para pemangku kebijakan. Kejujuran yang menjadi hal utama terkalahkan oleh uang suap. Dengan uang orang-orang yang memiliki kepentingan dapat mendapatkan keinginannya dengan membayar ke sejumlah pihak meski keinginannya tersebut merugikan pihak lain dan tidak sesuai dengan prosedur yang akhirnya bisa dikatakan korupsi. Pihak-pihak yang disuap pun bisa tergiur lantaran memiliki hasrat untuk kaya agar menaikkan status sosialnya.

Bila menilik ke belakang ketika feodalisme masih berjaya, status social ditentukan oleh darah bangsawannya. Misalnya saja di Eropa yang memiliki struktur masyarakat teratas ialah bangsawan, disusul kemudian oleh golongan militer, petani merdeka, dan budak. Sedangkan di Cina, urutan struktur masyarakatnya, ialah raja dan kerabatnya,  Ksatria dan pejabat negara,  Petani dan pengrajin, dan yang terakhir adalah pedagang. Seberapa kaya pun petani dan pedagang, status social mereka tidak akan naik. Namun, setelah feodalisme runtuh dan kapitalisme berjaya uang bisa mendongkrak status social seseorang melalui benda-benda yang dapat dikonsumsinya.

Konsumsi merupakan proses objektivikasi yang menginternalisasi dan mengeksternalisasi diri lewat objek sebagai medianya. Dengan mengonsumsi suatu produk orang sekaligus bermain dengan tanda-tanda yang terkandung dalam produk tersebut untuk menandai relasi social. Objek atau produk yang digunakan dapat menentukan status, prestise, dan symbol-simbol social tertentu bagi para pemakainya.

Bagi masyarakat era konsumerisme, mengonsumsi objek-objek tertentu merupakan bagian dari ekspresi diri. Mereka mengonsumsi produk bukan sekedar karena nilai guna tepi juga mencoba untuk menyampaikan pesan melalui makna-makna yang menempel pada benda tertentu. Hal ini bisa terjadi karena logika yang digunakan bukan lagi logika kebutuhan tapi logika hasrat. Misalnya saja, seseorang menggenakan perhiasan dari emas atau seseorang yang menggunakan tas dengan merk tertentu untuk menunjukkan kekayaan dan status sosialnya. Barang-barang tadi bisa menyimbolkan kekayaan dan status social karena harganya yang mahal sehingga tak sembarang orang bisa menjangkaunya. Dari situ, timbullah eksklusifitas atas benda tersebut sehingga orang-orang yang menggunakannya merasa memiliki prestise.

Awalnya, upaya-upaya itu dilakukan untuk memperoleh prestise atau bahkan kekuasaan bila tempo produksi objek-objek berjalan begitu cepat akan lain ceritanya. Jean Baudrillard berpandangan bahwa ketika kita mengonsumsi sebuah objek dan merasa kita sedang mengontrol objek tersebut merupakan sebuah kesemuan. Yang terjadi sebenarnya adalah malah kita yang dikontrol oleh benda tersebut. Hal ini dapat terjadi karena cepatnya pergantian dan proses produksi sehingga orang-orang ini akhirnya hanya mengonsumsi tanpa sempat untuk memikirkan apa yang mereka konsumsi. Yang terjadi akhirnya adalah konsumsi yang terjadi secara terus menerus karena konsumsi dipandang sebagai proses reproduksi hasrat. Manusia memiliki mesin hasrat yang bila dipenuhi maka akan muncul keinginan baru. Seperti yang dikatakan oleh Gilles Deleuze dan Felix Guattari bahwa hasrat atau hawa nafsu tidak akan pernah terpenuhi karena selalu direproduksi oleh mesin hasrat (desiring machine) dalam bentuk yang lebih tinggi. Dari mesin hasrat tadi korupsi bisa terjadi, penumpukkan kekayaan oleh koruptor terjadi karena mereka memuaskan hasratnya akan uang karena uang merupakan syarat orang untuk dapat mengkonsumsi sebuah produk dan hasrat itu akan diproduksi lebih tinggi lagi sehingga korupsi pun terus berlanjut.

Uang adalah benda netral

Namun, apa yang akan terjadi bila uang hilang dari muka bumi? Apakah korupsi dan lainnya dapat hilang pula? Bila korupsi terus terjadi di Indonesia, apakah itu semua salah uang? Tentu tidak, karena uang adalah benda mati dan netral. Uang merupakan sebuah teknologi yang ditemukan untuk menggantikan sistem barter yang semula digunakan manusia. Uang merupakan alat pertukaran yang dapat diterima suatu kelompok masyarakat yang bersifat umum dan bernilai tinggi. Logam pun dipilih sebagai bahan dasar pembuatan uang karena memiliki nilai yang tinggi, tahan lama, dan mudah dipecah tanpa mengurangi nilai. Logam yang dijadikan alat tukar biasanya adalah emas, perak, dan perunggu. Lama kelamaan timbullah kesulitan lantaran bahan baku pembuatan uang terbatas dan muncullah uang kertas. Uang kertas muncul sebagai kertas bukti kepemilikan emas meski awalnya ditolak karena nilai bahan pembuatnya tidak sama dengan nilai nominalnya.

Jika uang hilang dari muka bumi ini bukanlah kedamaian yang terjadi ataupun berhentinya korupsi. Namun, kita kembali lagi pada masa uang belum ditemukan karena yang bermasalah bukan uang tetapi hasrat manusia yang tak memiliki ujung dan terus menerus diproduksi. (Nur Janti)

Check Also

Catatan untuk Gagasan Berdaya Saing Global

Oleh Hysa Ardiyanto (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Keolahragaan UNY 2017) Istilah daya saing, dan persaingan tentunya, …