Home » Opini » Prinsip Persatuan Pertama, Manifesto Politik atau Sumpah Pemuda?

Prinsip Persatuan Pertama, Manifesto Politik atau Sumpah Pemuda?

persatuan_indonesiaTinggal beberapa hari lagi, tepatnya 28 Oktober, bangsa Indonesia akan memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda yang diikrarkan 85 tahun yang lalu merupakan sumpah yang diperlukan oleh pemerintah (baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru) untuk mendukung retorika pembangunan yang mengandalkan “Persatuan dan Kesatuan”. Sumpah Pemuda dianggap tonggak awal perjuangan dalam membangun persatuan yang sejati.

Dikutip dari buku Asvi Warman Adam yang berjudul Membongkar Manipulasi Sejarah, Sartono Kartodirjo mengatakan bahwa sebetulnya Manifesto Politik yang dikeluarkan Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda tahun 1925 lebih fundalmental dari Sumpah Pemuda 1928. Manifesto Politik 1925 menelurkan tiga pokok pemikiran, (1) Rakyat Indonesia sudah sewajarnya diperintah oleh pemerintah yang dipilih sendiri, (2) Dalam memperjuangkan pemerintahan itu tidak diperlukan bantuan dari pihak manapun, dan (3) Tanpa persatuan perjuangan tidak akan tercapai. Prinsip perjuangan ini dikenal dengan Unity (persatuan), Equality (kesetaraan), dan Liberty (kemerdekaan).  Adapun Sumpah Pemuda hanya menonjolkan persatuan. Paling tidak demikianlah yang tertanam dalam memori kolektif masyarakat Indonesia selama ini melalui slogan “Satu nusa, Satu bangsa, Satu bahasa”.

Keputusan dari Manifesto Politik tersebut merupakan bentuk konkret semangat anti kolonialisme. Kemudian, Perhimpunan Indonesia dengan berani menerbitkan dan menamakan majalah mereka dengan “Indonesia  HYPERLINK “javascript:void(0);” Merdeka”. Majalah ini beredar di kalangan pemimpin pemuda terutama di Jawa. Inilah yang antara lain mengilhami dan mendorong mereka untuk semakin bersatu dan menghapuskan label kesukuan pada organisasi mereka di kemudian hari. Gerakan pemuda di Indonesia saat itu masih dalam bentuk organisasi kedaerahan seperti, Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Jong-jong yang lainnya.

Maka pada 1926, dari semua organisasi pemuda saat ini sepakat untuk menggelar kongres pemuda di Jakarta. Kongres yang menghilangkan sekat-sekat pembeda, baik oleh suku, agama, dan ras. Pada tahun itulah langsung digelar kongres yang diadakan di Weltervreden (Gambir) dengan pimpinan Mohammad Thabrani Soewirjowitjitro dari Jong Java. Dalam sejarah Indonesia itulah yang disebut sebagai kongres Pemuda yang pertama.

Dua tahun kemudian, kongres Pemuda II kembali dilaksanakan pada 27 Oktober 1928 yang berlokasi di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, sekarang Lapangan Banteng. Kongres berlangsung di tiga tempat, lokasi kedua di Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord, sekarang Jalan Medan Merdeka Utara. Namun, pada 28 Oktober 1928 kongres dilakukan di Gedung Kramat Raya 106, Jakarta Pusat.

Kongres itu menghasilkan ikrar sumpah pemuda yang isinya banyak disusun oleh Muhammad Yamin. Isi Kongres itu berisi tiga ikrar, mengaku bertumpah darah satu tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu. Pada hari itu juga kali pertama lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Soepratman dialunkan.

Persoalan bukan terletak pada mana yang lebih penting Sumpah Pemuda 1928 atau Manifesto Politik 1925. Sumpah Pemuda 1928 memang symbol yang diperlukan, namun selama ini penerapannya banyak yang melenceng dari sasaran “Persatuan dan Kesatuan” menjadi obsesi pemerintahan Soekarno sampai Soeharto. Namun, upaya untuk sampai kearah itu hanya sebatas retorika dan ketentuan formal.

Kalau dianalisis lebih jauh terlihat salah satu penyebab kerancuan tersebut adalah karena konsep persatuan dianggap sebagai suatu gagasan yang berdiri sendiri. Padahal kalau dilihat pada Manifesto Politik 1925, persatuan itu dijalankan bersama sama dengan konsep kemerdekaan dan persamaan. Ketiga konsep itu saling melengkapi satu sama lain. Tidak cukup persatuan saja, tetapi pada saat yang sama harus dilaksanakan persamaan dan kesetaraan. Demikian pula persatuan dan kesetaraan hanya akan tercapai dalam suasana merdeka.

Menurut Sartono Kartodirdjo, bahwa Manifesto Politik berhasil merumuskan nasionalisme Indonesia sebagai Ideologi. Mencakup jelas unitarianisme sebagai sebuah dasar Negara-nasion yang dicita-citakan. Manifesto itu akan mengarahkan gerakan-gerakan etno-nasionalisme menjadi gerakan kearah Indonesia merdeka, jadi konsep kesatuan telah mentransendensi etnisitas dan regionalisme. Sartono juga mempertanyakan mengapa sampai sekarang yang diperingati secara nasional adalah “Sumpah Pemuda” dan bukan Manifesto Politik 1925, padahal konsep-konsep dalam pernyataan Perhimpunan Indonesia itu lebih fundamental bagi nasionalisme sedangkan Sumpah Pemuda dapat dianggap sebagai sebuah pelengkap saja dari Manifesto Politik 1925.

Dibalik semua itu, siapa yang mengagas pertama dan mempunyai prinsip persatuan, antara Perhimpunan Indonesia dengan Manifesto Politiknya atau Sumpah Pemuda memang masih dibicarakan dan diperdebatkan. Memang tidak mengesampingkan itu, bangsa ini adalah bangsa yang beragam suku, agama, dan ras sehingga persatuan untuk bangsa ini harus tetap dijaga dan utuh. Jika tidak, bangsa ini akan terpecah belah dan saling melepaskan satu sama lain. Manifesto Politik ataupun Sumpah Pemuda mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang dari beragam suku, agama dan ras. Konsep ini memang bisa dikatakan berhasil pada saat itu. Isi-isi dan pendapat yang digagas oleh kaum-kaum intelektual saat itu benar-benar menggugah hati masyarakat Indonesia untuk bersatu. Bersatu menjadi bangsa yang satu.

Mari kita refleksikan Sumpah Pemuda yang sebentar lagi akan kita peringati. Sumpah Pemuda yang masih tetap relevan untuk kita refleksikan bersama mengingat kondisi dan permasalahan bangsa, khususnya terhadap para pemuda sekarang. Sumpah yang menjadi tonggak pemersatu para pemuda Indonesia. Pemuda adalah tonggak sejarah sebuah bangsa. Lupakanlah dendam dan luka-luka di antara kita. Perbedaan adalah suatu keniscayaan, sedangkan persatuan adalah sebuah keharusan. Rekonsiliasi menjadi langkah awal menuju ke sana. Jangan sampai para pemuda dipecah belah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mari hapuskan dendam. Hapuslah luka-luka yang ada. Dan mari bergandengan tangan. Kemajuan dan masa depan bangsa ada di pundak para pemuda. Mari kita pikul bersama. Karena itu, rekonsiliasi pemuda, sangat mendesak untuk dilakukan. Teringat kata-kata dari Soekarno, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!”. (Octandi Bayu P)

 

 

Check Also

Agar Kita Tak Terburu-buru Menghakimi Mourinho

Apa yang paling dikenang dari Piala Dunia 1974? Keindahan? Sepanjang hajatan terbesar sepak bola yang …