Home » Opini » Jakarta yang Tidak Pernah Sabar

Jakarta yang Tidak Pernah Sabar

Jika arti dari kampung halaman adalah tanah kelahiran, saya masih mengakui tempat kelahiran saya. Sayangnya, menurut saya arti kampung halaman bukan sekedar tempat kelahiran. Kampung halaman adalah tempat yang bisa memberikan kenyamanan, memberikan kepastian akan kebebasan hidup kita. Sehingga saya beranggapan, kota yang saya tinggali inilah sebagai kampung halaman saya saat ini.

Berkali-kali pulang ke tanah kelahiran, berkali kali pula saya membuat keputusan yakni, malas untuk pulang ke rumah.

Masalah klise yang masih terjadi adalah alasan yang membuat saya selalu menunda pulang. Macet, populasi yang padat, cuaca yang panas, biaya hidup yang tinggi, dan permasalahan yang sering kita dengar dari berita. Itulah Jakarta.

Status sebagai Ibu Kota Indonesia, membuat Jakarta menjadi pusat kegiatan di Indonesia. Bermacam-macam tujuannya, mulai dari berurusan dengan birokrasi, bekerja, sampai memutuskan menetap dan beranak pinak. Data Badan Pusat Statistik Jakarta menyebutkan bahwa jumlah penduduk tahun 2010 mencapai 9.604.329 jiwa. Suatu ketika saya sedang berjalan-jalan. Saya melihat jalanan Jakarta macet, di Bus Trans Jakarta penuh orang, di kereta api orang berdiri berhimpitan. Semua penuh dengan orang!

Kondisi seperti itu membuat Jakarta menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia. Mengacu kepada Wackermen, metropolitan mempunyai karakteristik besaran penduduk, kegiatan ekonomi, mobilitas aktivitas penduduk, dan struktur kawasan. Jumlah penduduk yang menembus 9.000.000 jiwa memantapkan status Jakarta sebagi kota metropolitan.

Apa yang ada di Jakarta saat ini memang memudahkan sebagian orang. Tapi, bagai bumerang, keadaan Jakarta saat ini juga membuat kerugian di lain pihak. Kesenjangan sosial, kemacetan, kriminalitas, pengangguran, sampai banjir yang menghantui dan belum bisa hilang sampai saat ini.

Pembangunan Jakarta menjadi sedemikian rupa bukanlah bagian adegan dari sulap, mewujudkan dengan instan. Kalau mau dibilang Jakarta adalah kota yang menjadi korban ambisi pembangunan. Zaman penjajahan Belanda dan ketika Presiden Soekarno contohnya. Mereka mempunyai ambisinya masing-masing.

Belanda merapat di Teluk Banten di tahun 1596. Beberapa bulan kemudian, mereka tiba di pelabuhan Sunda Kelapa. Merapat setelah berbulan-bulan di laut, tiba di tanah asing dengan ambisinya. Saat itu, kondisi Jakarta dikelilingi gunung dan tebing yang tinggi. Di tengah-tengahnya mengalir sungai yang membelah kota.

Kondisi kota yang masih lapang, membuat mereka bisa bebas membangun. Jangan harap mereka memperhatikan analisia mengenai dampak lingkungan, tata letak, sampai fengshui. mereka membangun tanpa memperhatikan kearifan lokal. Bahkan, masyarakat lokal juga “ditendang” dari daerah asalnya. Mereka bermimpi membangun daerah tropis seperti daerah tanah kelahirannya, Belanda.

Masuk kemerdekaan, Soekarno juga punya ambisi “memugar” Jakarta. Dimulai dengn terpilihnya Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games. Soekarno melebarkan Jalan Thamrin dan Jalan Soedirman. Kedua jalan tersebut direncanakan sebagai “gerbang” Jakarta. Tepat di kedua jalan ini, Soekarno juga membangun fasilitas penunjang, seperti Hotel Indonesia dan patung selamat datang—patung yang di buat oleh Trubus Sudarsono, pematung yang juga anggota PKI, keberadaannya sampai saat ini masih dipertanyakan. Akses darat juga dibangun, Jembatan Semanggi salah satunya. Fasilitas olahraga, Komplek Olah Raga Senayan termasuk di dalamnya Stadion Gelora Bung Karno.

Sebelum Jakarta terpilih sebagai tuan rumah Asian Games, Soekarno memberi pesan yang tegas kepada kontingen yang dikirim. Dia berpesan “Jangan kembali Ke Indonesia jika Jakarta belum menjadi tuan rumah.” Nampaknya Soekarno sudah berambisi membangun. Tinggal menunggu alasannya saja.

Soekarno ingin Jakarta menjadi kota metropolitan sejak tahun 1958. Tidak hanya menjadi Ibu Kota Indonesia, Soekarno juga menginginkan Jakarta sebagai poros Asia-Afrika. Untuk itu, Jakarta dipugar sedemikian rupa. Hingga sekarang, berganti presiden dan berganti Gubernur, Jakarta masih tetap membangun. Walau sudah tidak bisa lagi asal-asalan dalam membangun. Naasnya, dibalik menghasilkan pembangunan yang megah, Jakarta juga menyisakan sampah permasalahan bagi warganya dan juga bagi pemerintahannya.

Masyarakat Metropolitan: Masyarakat Bekerja dan Berlibur

Pertumbuhan yang pesat, membuat masyarakat menyesuaikan dengan fasilitas yang ada. Namun, seiring bergantinya era, sifat masyarakat berubah menjadi segala hasratnya ingin terpenuhi. Akibatnya, fasilitas yang belum ada dibangun lagi untuk memenuhi hasrat masyarakatnya. Masyarakat senang-senang saja, karena mereka bisa belanja terus sampai mati!

Pertumbuhan kota yang pesat membuat nilai ekonomi kota tersebut juga meningkat. Kota tersebut memiliki nilai jual yang lebih dibanding kota yang lain. Hal ini membuat perputaran uang banyak terjadi di kota metropolituan. Jakarta sendiri menguasai 70% perputaran uang di Indonesia.

Jakarta kota yang sibuk. Masyarakatnya juga sibuk. Mulai dari sibuk mengutuk permasalahan yang ada di Jakarta, sampai sibuk bekerja. Bekerja keras adalah cara yang harus dilakukan jika ingin bertahan hidup.

Minoritas masyarakat kota metropolitan adalah kelas menengah. Mereka bekerja profesional dan mendapat upah atas hasil kerja tersebut. Jangan harap makan malam di Jakarta jika dari pagi sampai sore tidak bekerja. Biaya hidup yang tinggi membuat masyarakat Jakarta sibuk dan hanya memikirkan pekerjaan di sela sela memikirkan kehidupan.

Setelah mendapat upah, mau dikemanakan upah tersebut? Setelah memenuhi kebutuhan primer, masyarakat metropolitan juga harus membutuhkan kebutuhan tersier. Semua realita kondisi Jakarta yang mereka dapati, harus “dibalas dendam” oleh kegiatan-kegiatan yang menghibur. Istilah profesional muda adalah: melepas penat.

Kebutuhan tersier ini didukung pula dengan fasilitas yang terdapat di Jakarta. kafe, tempat belanja, menjadi tempat yang wajib dihampiri. Wajar jika ada anggapan masyarakat metropolitan cenderung konsumtif.

Lagi pula, apa salahnya kita melepas berlibur setelah pusing bekerja?

Sedikit untuk Lebih Sabar

“Orang anti kata antri. Semua mau berlari. Berlarilah sampai mati.” (Metropolutan–Navicula)

Lagu Navicula di atas memang menggambarkan sifat masyarakat motropolitan: tidak sabaran! Berkendara di jalan, harus bisa tahan mendengar klakson kendaraan sahut menyaut. Pengemudinya sudah tidak sabar untuk segera sampai di tujuan. Padahal sudah jelas, jalan sedang macet oleh ulah mereka sendiri yang tidak pernah antri di jalan.

Biaya hidup yang tinggi, membuat masyarakat Jakarta gila-gilaan bekerja. Ketika pagi, ingin cepat-cepat sampai lokasi aktivitas. Ketika malam, ingin cepat-cepat sampai rumah setelah beraktivitas. Semua dilakukan dengan cepat-cepat. Tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Rambu lalu lintas diterabas agar cepat sampai. Antri yang seharusnya menjadi keharusan agar lancar, diserobot agar cepat sampai. Memang, ketika menghadapi biaya hidup yang tinggi, masyarakat metropolitan juga menuntut kualitas hidup yang tinggi. Tapi, mereka semua menginginkan dengan cara yang serba cepat.

Sifat sabar masyarakat Jakarta masih harus dibangun. Kita sadar, Jakarta memiliki banyak penduduk. Tiap hari tumpah ruah di jalan-jalan. Mereka menggunakan segala fasilitas umum yang tersedia. Sabar memberi kesempatan orang lain untuk juga menggunakan fasilitas. Sabar antri untuk tetap pada koridor jalan yang ada. Sabar untuk memegang sampah dan membuangnya jika sudah menemukan tempat sampah.

Mungkin saya sudah terlalu lama di Jogja. Dimana sabar dalam kehidupan masyarakat masih bisa ditemui. Jika tidak sabar, selalau ada celetukan “ini Jogja dab. Bukan Jakarta.” Ya, warga Jakarta masih kurang sabar, Jakarta pun juga tidak bisa sabar untuk segera membangun kotanya. Jakarta memang tidak pernah sabar.

Faqihuddien Abi Utomo

Check Also

Perubahan Budaya Bermain dari Tradisional ke Virtual

Pada 1938, Johan Huizinga, seorang teoritisi budaya dan sejarawan asal Belanda, menulis buku berjudul Homo Ludens: …