Home » Opini » Negara yang Nyaman bagi Anak

Negara yang Nyaman bagi Anak

Bulan Maret lalu memang sedang gencar-gencarnya pemberitaan mengenai pemilu. Meski demikian, ada berita lain yang membuat saya tertarik setelah bosan dijejali segala hal tentang pemilu. Pada awal Maret, ramai pemberitaan tentang Panti Asuhan Samuel yang menganiaya anak asuhnya. Kemudian, di akhir Maret sedang hangat kasus penganiayaan terhadap IS. Ya, berita mengenai anak selalu menarik perhatian saya.

IS adalah anak yang menjadi korban penganiayaan dan dilakukan oleh orang dekat. Dia dianiaya oleh Dadang, pacar Ibunya. IS ditemukan di halte bus dalam keadaan kejang kemudian dilarikan ke rumah sakit. Badannya memar, tangannya patah, ada juga bekas luka bakar akibat sundutan rokok, cakaran, gigitan, dan masih banyak lagi luka yang diderita balita berusia 3,5 tahun itu. Tak hanya luka fisik, IS juga mengalami trauma akibat penganiayaan tadi. Sebab, anak-anak secara alamiah membutuhkan rasa aman dan terlindungi. IS yang gagal mendapat keduanya pun mengalami trauma dan harus didampingi psikiater. Dan lagi, trauma dapat berlangsung seumur hidup apalagi usia IS masih dalam masa pertumbuhan.

IS tak sendiri, masih banyak anak yang mengalami penganiayaan. Pada November 2013, A, seorang anak asal Riau, ditemukan di kebun sawit dalam kondisi memprihatinkan. Lidahnya digunting  dan punggungnya disetrika oleh ibunya. Kekerasan terhadap anak memang meningkat tiap tahunnya. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat jumlah pengaduan kekerasan anak pada 2011 ada 2.386. Pada 2012 tercatat ada 2.637 kasus kekerasan anak dan sebanyak 3.023 kasus pada 2013. Bahkan, tahun 2014 ini kasus kekerasan anak diprediksi akan meningkat hingga 100 persen sebab tekanan hidup yang kian meningkat. Ditambah lagi pemerintah dan masyarakat kurang menyoroti isu tentang anak karena sedang terhanyut dengan kampanye dan pemilu.

Faktor Kekerasan pada Anak

Dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menetapkan bahwa yang termasuk anak adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Tentunya, anak juga memiliki hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Miris saya membaca berita tentang penganiayaan anak yang dilakukan orang dekat seperti keluarga. Padahal, keluarga adalah lembaga terkecil dan yang pertama ditemui anak dalam fase pertumbuhan. Keluarga memiliki peran sebagai tempat perlindungan, belajar, dan sosialisasi yang paling pertama. Namun, bila keluarga tak dapat memenuhi hal tadi, dan malah melakukan kekerasan terhadap anak tentu hal ini akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak.

Pada dasarnya, kekerasan pada anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau bahkan pengabaian terhadap anak. Penganiayaan yang dialami IS dan A tentu dapat digolongkan pada ketiga jenis tindak kekerasan terhadap anak. Sebab, luka pada tubuh mereka tentu sudah sangat menjelaskan bahwa kekerasan fisik terjadi. Kekerasan fisik tadi tak hanya meninggalkan luka pada tubuh, tapi juga meninggalkan trauma pada si anak. Dalam kasus seperti ini, hak-hak anak untuk mendapat kasih sayang dan keamanan pun terabaikan.

Sebenarnya, ada berbagai macam hal yang menjadi penyebab orang tua melakukan penganiayaan terhadap anak. Penelitian dari Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bergerak dalam bidang anak, UNICEF (1986), menemukan bahwa ada dua faktor besar yang melatarbelakangi munculnya kekerasan anak oleh orang tua. Pertama, orang tua yang pernah menjadi korban penganiayaan anak dan terpapar oleh kekerasan dalam rumah memiliki kemungkinan besar untuk melakukannya pada anak mereka.  Orang tua yang kondisi kehidupannya penuh stress, seperti rumah yang sesak, kemiskinan, menyalahgunakan NAPZA. Orang tua yang mengalami gangguan jiwa, seperti depresi atau psikotik atau gangguan kepribadian. Kedua, anak yang prematur, retardasi mental, cacat fisik, suka menangis hebat atau banyak menuntut. Beberapa pemicu tadi bisa diperparah ketika orang tua tidak mengharapkan kehadiran anak. Ketika si anak yang tidak diharapkan oleh orang tuanya lahir, mereka akan menjadikan si anak sebagai kambing hitam atas segala permasalahan yang hadir dan berujung pada kekerasan terhadap anak.

Sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab, saya kira semua orang paham bila persetubuhan selalu beriringan dengan risiko datangnya keturunan. Bila tidak ingin memiliki keturunan maka jangan bersetubuh. Bila akhirnya persetubuhan terjadi dan membuahkan keturunan, orang dewasa harus mempertanggungjawabkannya dengan memenuhi hak anak bukan malah menelantarkannya atau bahkan menjadikan anak sebagai samsak yang bisa dipukuli.

Dalam banyak kasus kekerasan anak, penganiayaan yang dialami korban berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Lamanya kurun waktu anak menjadi korban kekerasan oleh orang tua dalam rumah tangga dikarenakan si anak tidak bisa melawan. Anak berada di bawah tekanan sehingga takut untuk berbicara. Akibatnya, orang tua yang menjadi pelaku kekerasan pun seringkali mengulanginya. Hal inilah yang membuat pelaku tidak jera melakukan kekerasan. Peran dari masyarakat, secara khusus tetangga, sangat penting untuk lebih aktif mengawasi dan melaporkan tindakan kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga.

Hak Anak, Hak yang terabai

Maraknya kekerasan terhadap anak merupakan cerminan lalainya negara dalam menciptakan negara yang nyaman bagi anak, di mana hak-hak anak terjamin. Kekerasan anak merupakan hal yang sangat buruk sebab anak adalah tunas bangsa. Di masa kanak-kanak inilah segala hal yang terjadi dapat dengan mudah tertanam dalam diri si anak. Mendapat perlakuan buruk dari orang sekitar apalagi penganiayaan, misalnya. Peristiwa kekerasan ini akan tertanam dalam benak si anak dan akan dia bawa terus hingga dewasa. Efeknya, anak mengalami trauma, terbiasa dengan kekerasan, dan bisa jadi si anak akan meneruskan penganiayaan itu ketika dewasa nanti. Kekerasan kemudian mewujud lingkaran setan.

Sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas hak-hak warga negaranya, termasuk anak, seperti yang tercantum dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pemerintah harusnya lebih tanggap menangani permasalahan anak. Sebab anak adalah tunas bangsa. Peraturan sudah ada, tinggal bagaimana melaksanakannya dengan konsisten. Pemenuhan hak pun tak hanya sebatas pada penanganan kasus kriminal terhadap anak tapi juga pencegahan dan pengawasan yang jeli. Bila masalah mereka diabaikan dan negara tidak lagi nyaman bagi anak maka akan menentukan bagaimana generasi Indonesia di masa yang akan datang.

Di samping itu, masyarakat pun harusnya mendukung pemerintah dalam gerakan anti kekerasan terhadap anak juga menanamkan cinta kasih antar sesama pada diri sendiri juga anak-anak. Kesadaran masyarakat akan hak anak pun perlu dibangun dalam upaya menciptakan negara yang nyaman bagi anak. Orang tua pun sudah selaiknya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi anak di rumah mereka sendiri. Upaya menciptakan negara yang nyaman bagi anak tentu perlu kerjasama dari pemerintah dan masyarakat. Dan saya, memulai upaya itu dari tulisan ini. Salam senyum anak Indonesia.

Nur Janti

Check Also

Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

Pemain Semen Padang FC (SPFC), Vendry Mofu menerima umpan lambung tepat di kotak penalti Persela, …