Home » Opini » Suara Kyai Suara NU

Suara Kyai Suara NU

Yang paling nyata adalah saat perebutan suara untuk menjadi gubernur Jawa Timur. Saat itu terjadi peperangan perolehan suara antara Demokrat dan PKB. Entah koalisinya seperti apa waktu itu, yang jelas Jawa Timur adalah kantongnya PKB dan basisnya orang-orang Nahdatul Ulama (NU). Bagaimana tidak, Kyai As’ari mendirikan NU dari Jawa Timur. Saat itu calon gubernur terpilih Soekarwo  (Pakde Karwo) menggandeng Saifullah Yusuf (Gus Ipul) untuk mendampinginya di kantor gubernur sebagai wakil. Gus Ipul yang bukan lain adalah orang NU, adalah ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Tentu Gus Ipul akan sangat berpengaruh pada perolehan suara jika ia maju sebagai wakil gubernur mendampingi Pakde Karwo. Pakde Karwo dalam hal ini seperti mendapat mesin suara dengan menggandeng Gus Ipul sebagai pasangannya di kantor gubernur. Mengingat Jawa Timur adalah basis orang-orang Nahdliyin yang kebanyakan terhimpun dalam PKB, Gus Ipul yang mendapat dukungan dari Partai Kebangkitan Nasional Ulama merasa dapat mengambil hati para Nahdliyin  untuk berpaling dari PKB.

Di sudut lain, Khofifah Indar Parawansa yang juga tokoh NU, maju sebagai calon gubernur melawan Pakde Karwo dan Gus Ipul. Ia berpasangan dengan Herman Surjadi Sumawiredja dengan diusung PKB. Khofifah yang juga menjabat sebagai Ketua Muslimat NU merasa memiliki dukungan kuat untuk maju menduduki kursi gubernur. Pasalnya NU di Jawa Timur merupakan basis utama suara PKB.

Syahdan, Pakde Karwo dan Gus Ipul menang dengan perolehan suara 47,25% sedangkan Khofifah dan Herman mendapat suara 37,62%. Majunya Gus Ipul, bapak GP Ansor, dan Khofifah, Ibunda Muslimat secara terpisah tentu tidak bisa dikatakan bukan perpecahan. Sebelumnya NU di Jawa Timur pernah mempertemukan Khofifah dan Gus Ipul dalam sebuah forum untuk dalat menyatukan mereka untuk maju pada pemilu 2013. Keduanya adalah kader NU, sangat disayangkan jika NU tidak dapat bersatu. Sayang, Kedua kubu memang sangat keras untuk maju sendiri-sendiri.

Saya melihat NU itu tidak seperti orang kebanyakan. Mereka tidak fanatis kepada sebuah partai meskipun PKB sekalipun. Orang-orang NU lebih fanatis kepada organisasinya, itu sebabnya mereka tidak disebut orang PKB meskipun tidak ada yang menyangkal bahwa PKB itu partainya orang NU. Dalam politik NU berdiri sendiri, tidak dapat kemudian diikat dengan satu partai. Partai hanya akan menjadi sebuah wadah. Kemana suara akan berlabuh, ya tergantung apa kata tokoh NU yang Kyai itu atau yang santri itu. Politik NU adalah politik santri, politik apa kata sang Kyai. NU benar-benar membutuhkan sosok untuk menjadi panutan, bukan hanya visi misi gamblang  sebuah partai politik. Begitulah setidaknya sehingga Pakde Karwo pun akhirnya mengganden Gus Ipul, sang tokoh NU itu.

Kasus lain gaya politik orang-orang NU ini nampak sekali pada saat pergerakan politik Fuad Amin Imron. Sebelumnya Fuad Amin menjabat sebagai Bupati Bangkalan selama dua periode secara berturut-turut. Setelah itu digantikan oleh anaknya, Makmun Ibnu Fuad berdampingan dengan Mundir Rofii. Pemenangan Makmun pun penuh dengan intrik yang menurut saya tidak pantas untuk ditiru dalam berpolitik. Masih sama kaitannya dengan “politik ala kata Kyai”. Namun, yang lebih hebat lagi setelah putranya terpilih sebagai bupati Bangkalan. Fuad Amin Imron, maju sebagai DPRD Bangkalan dari partai Gerinda. Manuver politik Fuad Amin yang meninggalkan partai PKB sebagai wadah para nahdliyin yang mendukungnya pun tidak mempersulitnya untuk meraih kursi DPRD. Hasil dari pemilu legislatif tersebut partai Gerinda mendapatkan 10 kursi di DPRD Bangkalan sehingga Fuad Amin Imron pun menjadi ketua DPRD Bangkalan. Tentu tidak ada kesulitan yang berarti untuk mempertahankan pendukung massa Fuad Amin yang mayoritas nahdliyin untuk tetap menambatkan pilihan kepadanya. Fuad Amin bukan hanya sekedar mantan bupati Bangkalan. Ia juga pewaris trah Kyai Cholil Bangkalan. Kyai Jawa Timur yang terkenal karismatik. Mungkin sisa-sisa karisma tersebut masih terdapat pada Fuad Amin.

Kejadian yang sama muncul akhir-akhir ini. Terlebih setelah perseteruan dalam tubuh PKB antar Gus Dur dan Muhaimin Iskandar. Akhir perseteruan tersebut memenangkan Muhamin Iskandar sebagai pemegang kursi kepemimpinan PKB. Gus Dur yang sudah meninggal meninggalkan surat wasiat yang salah satunya bahwa PKB di bawah pimpinan Muhaimin Iskandar tidak boleh menggunakan sosok Gus Dur dalam partainya. PKB telah kehilangan tokoh besar yang bahkan salah satu pendiri partai tersebut. PPP yang pandai mengambil peluang mengadakan Peringatan Maulid Nabi serta Haul ke-4 sang Guru Bangsa. Gerakan politik ini direstui oleh Sinta Nuriyah dengan kehadirannya bersama putrinya yang keempat, Inayah Wulandari.

Nampaknya, dalam berpolitik masyarakat nahdliyin tidak dapat dibeli oleh partainya sendiri sekalipun, PKB. Pergerakan massa nahdliyi mengikuti tokoh nahdliyin yang dielu-elukan oleh mereka. Tokoh yang dekat dengan Kyai atau dengan pesantren. Politik yang menuntut citra dan karisma dari seorang pemimpin. Visi misi sebuah partai mungkin tidak mendapat hirau oleh nahdliyin. Namun, ngendikan para kyai tidak akan dibantah.

Muhammad Nur Farid

Check Also

Kembalikan Militer ke Barak

Dikuasai rezim militeristik Orde Baru selama lebih dari tiga dekade membuat bangsa ini dirasuki ideologi-ideologi …