Home » Opini » Under Pressure Jokowi dan PDIP

Under Pressure Jokowi dan PDIP

Tembok Berlin jatuh karena jutaan pasangan dan saudara berada pada kedua sisi yang berbeda dari tembok untuk berjuang bersama-sama menekan kekuasaan. Tak pelak, kekuasaan Jerman menjadi goncang saat terjadi tekanan dalam balik ruang lingkup kekuasaannya sendiri. Rakyat sebagai penekan kemudian menang dalam perjuangan yang lama dan melelahkan.

Tekanan merupakan hal yang biasa dengan kehidupan manusia. Dalam olahraga sepakbola misalnya, adanya hal seperti possesion ball atau penguasaan bola merupakan bentuk pemain yang menguasai bola pada pertandingan untuk menekan musuh atau lawan mainnya. Jika Anda kemarin melihat pertandingan Liverpool versus Chelsea (27/4) lalu dilanjutkan oleh pertandingan Villareal versus Barcelona (28/4). Maka Anda akan melihat bentuk tekanan yang berbeda dalam pertandingan tersebut dan berpengaruh pada hasil yang diperoleh.

Liverpool menguasai possesion ball hingga 70 persen pada pertandingan melawan Chelsea di kandang mereka di Anfield (27/4). Namun, pada akhirnya mereka kalah 2-0 dan parahnya Liverpool tidak memasukkan gol sebuah pun. Padahal Liverpool dari awal sudah menekan Chelsea dari babak pertama hingga keseluruhan, namun Chelsea yang sabar dan lebih berpengalaman saat di under pressure malah dapat mengonversikan kesalahan Liverpool  menjadi gol kemenangan. Berbeda dengan apa yang terjadi di kandang Villareal, saat tim ini menjadi tuan rumah di lanjutan liga Spanyol melawan Barcelona (28/04), memang Barcelona merupakan tim yang selalu menguasai bola dan menekan setiap lawannya. Sebenarnya pada satu jam pertandingan, Villareal sudah menang 2-0. Namun, dua gol bunuh diri dan satu gol Messi membuat Villareal kalah memalukan di kandang mereka. Inilah bentuk tekanan yang berbuah manis, dengan membuat tekanan kepada lawan yang sedang kebingungan. Berbeda dengan Chelsea, Villareal adalah tim yang belum berpengalaman dan belum termasuk club papan atas dalam Liga Spanyol. Chelsea adalah tim yang menang dalam sebuah tekanan. Dikarenakan mereka sabar menunggu kesalahan dari tim lawan lalu memaksimalkannya menjadi kemenangan. Sedangkan Villareal adalah tim yang kalah jika dalam tekanan, karena mereka malah kebingungan dan malah membuat kesalahan sendiri.

Dari contoh di atas sudah di jelaskan bagaimana sebuah under pressure itu berjalan. Ada yang dapat berbuah manis, ataupun ada yang berbuah pahit. Berbuah manis jika yang menekan itu menang dalam sebuah konflik, berbuah pahit jika si penekan kalah dalam sebuah konflik. Dalam kehidupan ini ada berbagai bentuk tekanan, seperti tekanan mental, tekanan fisik, tekanan batin dan lain-lain.

Seperti pun Joko Widodo atau yang kondang di sapa dengan nama Jokowi. Pencalonannya sebagai Presiden Republik Indonesia  merupakan hal yang fantastis dan menarik untuk dibicarakan. Pada awalnya Jokowi sendirilah yang pernah berbicara bahwa dia akan berfokus pada keadaan Ibu Kota Jakarta. Di samping pujian, tekanan dan sindiran juga banyak mengalir kepada Capres yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Terutama dari partai yang menaungi Basuki Tjahaja Pernama atau yang kerap dipanggil Ahok, sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Prabowo Subianto, sebagai pucuk pimpinan Partai Gerindra melakukan tekanan melalui jalur psywar bahwa PDIP telah melakukan bentuk pengkhianatan terhadap janji dan sumpah yang dilakukan oleh kedua Partai tersebut.

Tekanan ada pada Jokowi yang harus dipaksa oleh pimpinan Partai PDIP yaitu Megawati agar segera menjadi presiden pada Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014 ini. Sebuah Aji Mumpung atau memang Jokowi dianggap sudah memenuhi harapan Partai PDIP untuk dijadikan presiden periode 2014-2019. Jika hanya Aji Mumpung memang itu merupakan hal yang rasional untuk diperdebatkan, dengan metodenya yang blusukan tak ayal Jokowi telah menuai banyak perhatian dan respect dari banyak rakyat Indonesia. Pun berbagai kalangan politik sebagai bentuk teman ataupun musuh yang perlu dipertimbangkan. Selama ini Partai PDI merupakan partai oposisi dari pemerintah yang mengawasi kegiatan dari pemerintah dan partai yang mayoritas berpenduduk di Senayan. Jika Jokowi merupakan hal yang dianggap harus segera melakukan perubahan dalam sistem bekerja yang effisien dan pemusnahan Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN) atau dengan kata lain Jokowi dianggap sebagai Satriya Piningit. Mereka juga harus melakukan evaluasi lagi, jangan hanya ingin melakukan eksistensi partai dalam jagat perpolitikan saja. Nantinya pun mereka harus tetap memberi tekanan kepada siapapun yang akan membawa kapal Republik Indonesia berlayar pada periode 2014-2019.

Jokowi merasa ataupun tidak, pasti tahu adanya tekanan dalam bentuk apapun yang diterimanya. Nah, langkah Jokowi harus tepat jika ingin memenangkan tekanan-tekanan yang bermunculan. Jika langkah Jokowi terkesan kaku dan tampak kebingungan, maka dipastikan Jokowi akan gagal dalam Pemilu tahun ini. Dengan Pemilu Legislatif kemarin dapat dilihat bahwa Partai PDIP memiliki jumlah yang banyak pada perolehan angka. Dilihat dari data tersebut Jokowi menjadi yang terdepan dalam persaingan menuju Istana Negara. Tekanan pun semakin deras terasa.

Semakin tinggi pohon itu berdiri, semakin besar pula tekanan angin yang diterimanya. Sebuah peribahasa yang tepat dalam hasil Pemilu Legislatif kemarin. Dengan artian di kedudukan yang unggul pun, Partai PDI dan Jokowi tidak boleh jumawa dan sombong, jika mereka ingin memenangkan Pemilu sekali lagi. Maka seharusnya mereka bisa seperti tim Chelsea yang sabar dalam tekanan namun memaksimalkan peluang yang ada, dalam bentuk kesalahan lawan atau memang sebuah keberuntungan. Atau mereka harus seperti tim Villareal yang sebenarnya telah unggul, namun tidak kuat dalam menerima tekanan sehingga mereka kebingungan dan melakukan kesalahan sendiri dan berakhir dalam kekalahan.

Sebuah pengalaman yang selama ini mereka miliki dan langkah-langkah yang diambil adalah hal yang krusial dalam mengatasi tekanan-tekanan yang ada. Analoginya, seberapa kuat dinding Berlin-nya PDI terkait pencalonan Jokowi kuat menerima berbagai lemparan dari berbagai kalangan.

Afrian Rahmanta

Check Also

Kembalikan Militer ke Barak

Dikuasai rezim militeristik Orde Baru selama lebih dari tiga dekade membuat bangsa ini dirasuki ideologi-ideologi …