Home » Opini » Ilmu Komunikasi “Cuma” Broadcast dan Business

Ilmu Komunikasi “Cuma” Broadcast dan Business

Repro. Randy | EKSPRESI

Pada tahun ajaran 2014-2015, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuka Program Studi (Prodi) baru yang bernama Ilmu Komunikasi. Tujuan dari pengadaan jurusan ini adalah untuk menciptakan lulusan yang menguasai pengetahuan tentang ilmu komunikasi. Lebih lanjut jurusan ilmu komunikasi memiliki cakupan yaitu Media and Broadcasting, communication dan Business and Marketing Communication.

Dengan adanya prodi ilmu komunikasi(Ilkom), tentunya tidak hanya akan menambah warna baru dalam keilmuan di UNY. Adanya ilmu komunikasi akan menyatakan kesiapan uny dalam persaingan dalam meraih minat masyarakat, dimana ilmu komunikasi adalah salah satu primadona ilmu sosial dalam masyarakat kekinian.

Meniru Tapi Tidak Jelas

Jurusan ilmu komunikasi yang akan bernaung dibawah panji jurusan Administrasi (AN) Negara di Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Kebijakan dalam menempatkan ilmu komunikasi dalam FIS sebetulnya umum dan relatif sama jika dibandingkan dengan berberapa kampus lain semisalnya; Universitas Gadjah Mada (UGM),Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY), dan berberapa kampus lainya yang menempatkan ilmu komunikasi dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Namun, berberapa kampus lain menerapkan ilmu komunikasi sebagai prodi tersendiri dalam lingkup Fakultas Komunikasi seperti di Universitas Padjadjaran, dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang dimiliki media raksasa Kompas.

Menurut saya keinginan UNY dalam mencetak lulusan ilmu komunikasi didasari oleh keahlian Media and Broadcasting Commucation dan Business and Marketing Communication tidak tepat ditempatkan di FIS. Sebab cenderung “meniru” kampus-kampus lain serta bagaimana perkembangan dunia komunikasi kini. FIS yang memiliki latar belakang ilmu sosial (humaniora) tidak memiliki kaitan yang jelas dari sekedar tujuan ilmu komunikasi adalah menciptakan lulusan yang berkompeten dibidangnya.

Sebagai contoh UGM dan UAJY adalah contoh universitas yang mengadakan program studi ilmu komunikasi dengan membaginya dalam subtansi perminatan untuk (UAJY) dan kosentrasi (UGM).  Pembagian ini bukanlah tanpa alasan melihat bahwa komunikasi berkembang secara luas dalam 2 dasawarsa terakhir, membuat studi ilmu komunikasi pemahaman luas dan memiliki kecakupan masing-masing

penempatan ilmu komunikasi dibawah lingkup jurusan AN makin menimbulkan ketidakjelaskan tentang akan dibawa ilmu komunikasi sendiri. ketika AN yang memiliki kecenderungan ke teori-teori politik pemerintahan. Sedangkan ilmu komunikasi sebetulnya memiliki pemahaman yang luas. Ilmu komunikasi yang memiliki kecenderungan luas karena membahas segala yang terjadi dalam masyarakat dan tentunya tidak terbatas pada politik saja.

Ganti Sebelum Terlambat

Sebetulnya melihat lulusan Ilkom yang berkompeten dibidangnya cenderung keluar dari jalur ilmu sosial serta mengarah kondisi industri komunikasi massa dan komunikasi yang bersifat ekonomi yang biasa disebut social marketing.  Secara jelas tujuan lulusan ilmu komunikasi adalah menciptakan lulusan yang cakap pada budaya industri massa yang dalam hal ini bukan tidak mungkin Broadcast didasarkan bagimana turut aktif di industri komunikasi massa yang sudah ada. Sebetulnya ini tidak salah, karena banyak sekali perkembangan yang masif dalam perkembangan media kebelakang.

Hal ini sudah diutarakan oleh Bill Kovach dalambukunya yang berjudul Blur, dimana perkembangan media untuk berkomunikasi dan kebutuhan berkomunikasi berjalan maju. Dari penyebaran radio,koran,televisi,televisi kabel, dan, internet adalah sebuah jalan menunjukan adanya perkembangan yang masif. Namun, ilmu komunikasi sendiri mejelaskan broadcast dalam tinjauan lapangannya hanya bagaimana mengelola industri hiburan terutama program TV.

Akhirnya yang timbul lulusan di bidang Ilkom yang mempunyai tingkat kompetensi yang tinggi, khususnya dalam hal perencanaan dan penyusunan program televisi. Singkat cerita ilmu komunikasi yang UNY kembangkan bukan berbicara bagaimana komunikasi adalah sebuah ilmu komunikasi yang luas. Namun UNY lebih menciptakan lulusan-lulusan ilmu komunikasi yang didasarkan oleh kebutuhan pasar.  Hal ini dikarenakan industri media yang sudah memberikan kekuatan stigma yang lekat dalam masyarakat.

Walaupun adanya internet, masyarakat khususnya Indonesia memang tidak lepas dengan TV, inilah kekuatan pemilik industri media. Sehingga betapa bergengsinya penerapan Broadcast dalam kurikulum ilmu komunikasi yang memiliki pasar kerja yang jelas dalam peta lapangan kerja. Hal yang sama terjadi dalam Business and Marketing Communication yang menerapkan bagaimana menerapkan usaha strategi-strategi komunikasi bisnis dalam penerapannya memberdayakan organisasi dalam memperoleh dukungan untuk melanjutkan hidupnya, antara lain dalam memperoleh sumber dana potensial yang berasal dari masyarakat secara luas (fund raising).

Bagi Philip Kotler bagaimana usaha menjual sebuah ide maka dibutuhkan sebuah komunikasi yang tepat. Maka secara jelas tujuannya yaitu bagaimana menghubungkan teori komunikasi dengan prinsip-prinsip ekonomi. Maka memiliki pemahaman seperti halnya Wilbur Schramm bahwa Komunikasi adalah usaha dalam menyamakan persepsi antara berberapa orang.

Akhirnya ilmu komunikasi yang ada di UNY bukan ilmu komunikasi yang diharapakan berbicara banyak sebagai ilmu yang luas. Namun hanya bagaimana turut aktif menciptakan wilayah yang sudah ada karena secara ilmu tidak lepas dari istilah Broadcast dan Business. 

Joseph Sebastian

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …