Home » Resensi » Film » Cinta Untuk-Nya: Sebuah Usaha Menafsirkan Ketulusan Kasih Manusia

Cinta Untuk-Nya: Sebuah Usaha Menafsirkan Ketulusan Kasih Manusia

Salah satu adegan film dalam Cinta Untuk-Nya karya Didik Sudarsana
Salah satu adegan film dalam Cinta Untuk-Nya karya Didik Sudarsana

Perayaan Valentine di Indonesia selalu mengundang pro dan kontra. Atau setidaknya dibumbui ragam pendapat dari beberapa kalangan atas bagaimana cara menyikapi hari kasih sayang yang jatuh tiap tanggal 14 Februari tersebut.

Bagi kalangan non-muslim, dalam pandangan pribadi penulis, ada Valentine atau tidak bukan menjadi bahasan yang menghebohkan. Terkesan adem ayem. Valentine sesederhana pengungkapan ekspresi kasih untuk orang tersayang, jika ingin merayakan. Kalau tidak, 14 Februari dijalankan layaknya hari-hari biasa.

Namun lain halnya dengan kalangan umat muslim yang populasinya masih mendominasi masyarakat kita. Ada yang mantap mengharamkan Valentine sebab dianggap tak ada dasarnya dalam hukum Islam. Jadi biang keladi semakin suburnya aktivitas seks bebas di kalangan remaja, katanya. Di pihak lain ada yang menunjukkan sikap netral: mau dirayakan silahkan, mau tidak juga tak apa. Ada juga yang nyinyir: Valentine tak ubahnya dengan pengkultusan sehari atas ekspresi kasih sayang. Bagi mereka kasih sayang bisa ditunjukkan setiap saat sehingga tak perlu dibatasi waktu.

Di media sosial perdebatan terkait Valentine semakin ramai. Tak hanya umat muslim dengan segepok argumennya, kalangan non-muslim sampai yang yang ateis juga ikut meramaikan. Misal lagi, bagi para aktivis golongan kiri yang muak dengan kapitalisme akut di negeri ini, Valentine dianggapnya tak jauh beda dengan Natal, Lebaran, atau hari peringatan lain yang dibuat sedemikian spesial oleh para pengusaha dan pemilik modal dengan tujuan bisnis sederhana: penjualan barang-barang yang identik dengan perayaan tersebut naik, mereka juga yang diuntungkan. Valentine dilihat dan dieksekusi dalam logika bisnis saja. Tak lebih.

Muara dari ragam pendapat diatas bagi penulis sebetulnya perkara pendefinisian atas ‘cinta’ atau ‘kasih sayang’, yang bagi tiap orang berbeda. Standar apa yang dipakai: budaya, agama, ideologi tertentu? Kemudian pada sisi apa kita menempatkan Valentine pada definisi tersebut? Sejalan? Berbenturan? Berjubel budaya, agama, dan ideologi yang hadir di sekitar kita, maka jamak pro-kontra seputar Valentine akan terus berlanjut.

Setelah didefinisikan dengan tuntas, pemaknaan tersebut berlanjut pada pelbagai aktivitas yang dilaksanakan pada hari H. Memberi cokelat dan bunga sudah terlalu mainstream? Bagi mereka yang kreatif mendedah makna cinta, cokelat dan bunga ialah simbol yang sudah usang. Ekspresi cinta bisa diganti dengan puisi, kejutan-kejutan manis, atau melakukan hal-hal romantis bersama pasangan.

Cara kreatif lain dilakukan Didik Sudarsana dan kawan-kawan: bikin film pendek. Bukan tentang sejarah Valentine (yang selalu jadi dasar para muslim kenapa mengharamkannya), atau bahkan tips dan trik agar Valentine tidak mendadak garing . Secara umum, film yang diberi judul Cinta Untuk-Nya ini bisa dikatakan sebagai sebuah usaha dua anak manusia dalam menafsirkan apa dan bagaimana itu wujud kasih sayang yang dibungkus dengan ketulusan hati.

Dua tokoh utama dalam film ini adalah Dika (Adyatmaka Jati) dan Nawang (Clara Rita Rosari). Keduanya sedang dalam masa-masa pacaran yang menyenangkan. Masa ketika istilah putus atau move on tak terlintas di benak mereka.

Sebagai pacar yang baik, Dika selalu berusaha untuk menyenangkan Nawang. Misal, ia tak keberatan mengantar jemput Nawang kuliah. Pun saat Dika harus segera kembali ke kampus sesaat setelah mengantar Nawang, sebab buku Nawang yang harus dibawa untuk kuliah ketinggalan di rumah. Padahal kala itu Dika baru sampai ke sekre tempat ia berkumpul dengan teman-temannya. Dika tak marah. Ia mengingatkan Nawang agar tak mengulangi kecerobohan yang sama.

Di lain waktu, Dika bersedia menemani Nawang yang sedang ketakutan sendirian di rumah. Ia menurut menu saja, apa yang sebaiknya ia makan saat sedang kencan. Sebagai pengaut Katolik yang taat, Dika rajin  mengingatkan Nawang, mulai dari doa sebelum makan atau saat harus ke gereja. Sayang, untuk ajakan terakhir Nawang membandel. Ia lebih memilih mengerjakan tugas daripada ibadah Mingguan.

Dika yang kecewa pelan-pelan merenggangkan hubungan dengan Nawang. Ia lebih tertarik menghabiskan waktunya untuk lebih aktif di gereja. Opsi yang terpaksa dipilih Dika ialah putus dengan Nawang.

Dika membuat prosesnya menjadi elegan: meminta bertemu di depan gereja, memberi masukan-masukan positif ke Nawang, dan tanpa mengungkapkan alasan putus, ia meninggalkan Nawang dengan satu pesan pamungkas, “Temui aku disini 3 tahun lagi.”

Cinta Untuk-Nya bukan diarahkan untuk menjelma menjadi drama epik macam Ada Apa Dengan Cinta. Sebelum perpisahan terjadi, yang menjadi fokus film ini adalah bagaimana ketulusan perasaan Dika pada Nawang ditunjukkan pada situasi-situasi yang seharusnya membuat Dika kesal. Alih-alih berada pada situasi hubungan yang setara, status ‘pacar’ bagi Dika meluas. Ia juga seperti ayah yang sedang ngemong anaknya.

Nawang digambarkan sebagai pacar yang telalu bergantung pada Dika. Dan kesabaran Dika dalam menghadapi Nawang itulah adalah tanda ketulusan cintanya.

Lalu mengapa ia memilih putus? Sebab Dika memaknai ketulusan itu tak terbatas pada hubungan sesama manusia saja, tetapi yang lebih penting juga ketulusan cintanya pada Tuhan. Untuk itu selama 3 tahun ia aktif di gereja dan di akhir film ia berstatus sebagai seorang frater. Dan ketika bertemu kembali setelah sekian lama berpisah, Nawang sudah berubah. Ia berhasil menjadi perempuan harapan Dika: lebih mandiri, rajin kuliah, rajin berdoa, dan rajin ke gereja.

Pesan relijius dalam Cinta Untuk-Nya adalah usaha yang unik dalam perayaan Valentine tahun ini. Ketika orang-orang larut dalam euforia cinta pada pasangan, Didik dkk mengambil perspektif lain, yaitu cinta pada Tuhan.

Seperti kita ketahui, perayaan hari kasih sayang masih didominasi oleh beragam aktivitas keduniawian yang terkesan miskin makna. Pemberian barang material, pesta pora, bahkan dijadikan momen pelampiasan hasrat seksual.

Yang ditawarkan Didik sebenarnya melampaui momen Valentine itu sendiri, karena dalam Cinta Untuk-Nya tak sekalipun disinggung perihal Valentine. Narasi besarnya adalah percintaan dua orang manusia yang patah di tengah jalan oleh sebab si lelaki memutuskan untuk menjadi frater: profesi di gereja yang melarang untuk berhubungan dengan lawan jenis baik dalam status pacaran ataupun menikah.

Mungkin kurang tepat jika Didik mempromosikannya sebagai film menyambut hari kasih sayang. Walau tak menjadi masalah jika visi pembuatan film ini diharapkan long last. Bisa diputar kapan saja, pada momen apapun.

Akting kedua pemeran utama sudah cukup baik, dalam artian tak overacting atau terlalu mendramatisir suasana. Seperti melihat percakapan biasa dua orang mahasiswa yang sedang akrab-akrabnya. Hanya saja penulis kurang bisa memahami maksud dari kalimat, “Aku terlalu sayang sama kamu.” yang diucapkan Dika di depan gereja saat Nawang bertanya kenapa Dika memutuskan hubungan mereka. Jawaban yang terlalu klise. Apalagi Nawang harus menunggu selama 3 tahun untuk bisa memahami ada apa dibalik jawaban itu. Lagipula jika keputusannya Dika lebih memilih untuk menjadi frater, bukankah lebih tepat jika ia menjawab, “Sebab aku terlalu sayang sama Tuhan.”?

Kelebihan pesan yang disampaikan dalam film ini adalah interpretasinya yang universal. Penulis memperhatikan setiap karya atau kegiatan kawan-kawan Kristen (Didik dan kawan-kawan IKMK UNY) adalah kemampuan mereka untuk memproduksi karya yang memiliki muatan makna yang inklusif. Walaupun cerita utamanya seputar ritual atau aktivitas keagamaan mereka, namun itu hanya lah sampel belaka, dimana pemeluk agama lain bisa memaknainya sesuai kepercayaan dan aktivitas keagamaannya masing-masing.

Perhatikan pesan akhir film ini, “Ketika kita mampu mencintai seseorang dengan tulus, kenapa tidak dengan Tuhan.” Pemilihan kata Tuhan, bukan Yesus atau Allah, memberi kesempatan kepada penonton non-kristen yang tetap mendapat maksud dari pesan tersebut. Bahwa siapa saja yang merasa dirinya ber-Tuhan, hendaknya untuk belajar mencintai-Nya dengan lebih tulus lagi. Tidak kemudian bisa tulus mencintai orang lain saja dan kemudian melupakan entitas yang rutin kita sembah.

Usaha seperti ini patut ditiru oleh elemen muslim yang masih ekslusif dalam berkarya. Diharapkan agar pesan yang berusaha disampaikan tidaklah dalam batas komunitas itu-itu saja, tapi meluas ke dalam konteks keindonesiaan kita yang multikultur. Atau bahkan kemanusiaan yang tak terbatas sekat negara.

Usaha seperti itu tentu lebih baik ketimbang berperang ego di tiap Valentine hanya karena masing-masing pihak merasa interpretasi “cinta”nya lah yang paling benar. Jika kemudian setiap elemen bisa berasimilasi atas konsep kasih sayang—yang katanya diajarkan di tiap agama itu, mungkin kondisi sosial-budaya kita tak melulu kisruh dan membikin muak. Tak melulu meruncingkan perbedaan, tapi malah sibuk mencari persamaan. Entah di momen Valentine, ataupun di hari-hari biasa.

Semoga.

Akhmad Muawal Hasan

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …