Home » Opini » Kami Rindu Sepak Bola Indonesia

Kami Rindu Sepak Bola Indonesia

Dok. Wearemania.net

Football without Supporter is Nothing, but Supporter without Football is bullshit”-Anonim

Saya lahir dan besar di kota yang masyarakatnya sangat fanatik dengan sepak bola, dan merupakan basis suporter terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Kota Batu, kota yang sebenarnya secara administratif telah terlepas dari Kota Malang. Namun, masih tetap memegang kultur budaya yang tak bisa dilepaskan dengan Kota Malang. Masyarakat Batu pun sangat loyal dengan klub sepak bola yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan, Arema Malang. Karena itu, setiap kali ada pertandingan Arema di Kanjuruhan sana, kami selalu setia menontonnya, walaupun hampir sejam perjalanan kami dari Kota Batu menuju Stadion Kanjuruhan.

Tak hanya saat bermain di kandang saja, kami, para Aremania juga beramai-ramai menjejali stadion lawan hanya untuk mendukung Arema agar menang. Jarak tak terlalu dipermasalahkan, jauh-dekat, Sabang-Merauke, Aremania selalu bisa hadir mendukung Singo Edan. Karena itu Aremania dengan bangga bernyanyi “Aremania tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana…”

Tak mengenal jenis kelamin, etnis, agama, tua-muda, hampir semua warga Malang Raya, jika Arema bertanding pasti siap-siap berangkat mendukung. Jika sempat, pasti pergi beramai-ramai ke stadion, sedangkan yang masih disibukkan dengan pekerjaan pasti sudah bersiap-siap menyalakan radio untuk mendengarkan jalannya pertandingan. Bagi mereka yang ada di rumah pasti sudah bersiap-siap di depan layar kaca, tentunya jika pertandingan disiarkan. Jika saat itu tidak bisa mendapat kabar jalannya pertandingan, esok harinya pasti membeli koran yang berubrik kabar Arema. Bagi kami, Aremania, Arema adalah ikon Malang Raya, Arema adalah jiwa dan raga, Arema adalah pemersatu, dan Arema adalah agama kedua kami.

Saya teringat, ketika tahun 2010-an ketika Arema masih dilatih oleh Rene Roberts, dan diakhir kompetisi Arema berhasil menjadi juara Indonesia Super League (ISL). Hampir di setiap pertandingan Arema pada musim itu, bangku penonton di Stadion Kanjuruhan tak pernah kosong, selalu penuh terisi. Di luar stadion pun juga tak kalah ramai dipenuhi Aremania yang kehabisan tiket dan digantikan nonton bareng yang telah dipersiapkan oleh panitia penyelenggara. Di toko-toko dan di warung-warung se-Malang Raya yang menyiarkannya pun juga tak kalah ramai dijejali Aremania, yah walaupun mereka sadar di warung itu hanya membeli es teh saja, malahan ada yang tidak memesan sama sekali. Karena bukan masalah perut lagi yang mereka pikirkan, melainkan sebuah hiburan dan kebanggaan. Dengan menonton pertandingan itu, mereka dapat melepaskan sejenak beban pekerjaan yang seharian telah menguras tenaga dan pikiran.

(Menonton) Sepak bola sore itu telah mengubah wajah para Aremania yang penuh lelah menjadi ceria dan semangat lagi. Dan senang bukan main jikalau Arema menang. Sepak bola di saat itu adalah sebuah hiburan yang dapat melupakan sejenak masalah negara, beban hidup, dan kebutuhan pokok yang terus mencekik leher. Pada setiap 90 menit waktu pertandingan Arema berlangsung, para Aremania berhenti memikirkan masalah yang mereka hadapi. Di akhir musim, setelah membawa pulang trofi liga ke Malang Raya, sehari kemudian para Aremania dan pemain Arema berpesta dengan konvoi se-Malang Raya. Saat itu mereka kembali melupakan sejenak berbagai masalah.

Lalu, pada tahun 2011, awan gelap hadir (lagi) di persepakbolaan Indonesia. Sepak bola Indonesia yang tak cukup berprestasi diperparah dengan kisruhnya kepengurusan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kekisruhan ini berawal dari terendusnya praktek korupsi dari kepengurusannya Nurdin Halid, lalu dilanjutkan dualisme kepengurusan yang menyebabkan ada dua liga yang berjalan yaitu Indonesia Premier League (IPL) dan ISL. Hal tersebut menyebabkan Arema dan banyak klub menjadi dualisme kepemilikan, tak heran ada Arema yang bermain di IPL dan ada Arema yang bermain di ISL. Semua elemen persepakbolaan pun bingung dibuatnya.

Para pelatih klub sepak bola bingung menentukan akan melatih klub dari kedua liga tersebut, dengan berbagai konsekuensi yang akan diterima. Para pemain sepak bola juga akan bingung tentang kejelasan liga dan kejelasan gajinya, apalagi di negara yang menganggap pesepakbola bukanlah profesi. Para suporter pun saat itu juga dibuat bingung dengan berbagai kekisruhan dalam persepakbolaan tanah air ini, mau mendukung klub yang mana, bila klub tersebut ada dua. Lama-kelamaan suporter pun melupakan persepakbolaan tanah air, termasuk Aremania juga, padahal membentuk massa yang besar itu susah sekali.

Lha, mau bagaimana lagi? Aremania dan basis suporter lain yang sebagian besar anggotanya adalah masyarakat kelas menengah ke bawah setiap harinya sudah banyak menanggung beban hidup dan permasalahan, pastinya tidak akan mau memikirkan kekisruhannya PSSI dan berbagai kepentingan dalam tubuh PSSI. Yang mereka inginkan hanya persepakbolaan Indonesia semakin tertata dengan baik dan rapi agar mereka mendapat hiburan yang merakyat tetapi berkualitas yang dapat melupakan sejenak problematika kehidupan, tak lebih.

Cerita keterkinian, PSSI yang masih menjadi aktor utama dengan gagahnya melawan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) karena persoalan tetek bengek prosedural klub. Akibatnya, tak berjalannya kompetisi ISL hingga sekarang ini. Karena itu, setiap elemen yang berhubungan dengan persepakbolaan Indonesia pasti menangis lagi, meradang lagi, dan kecewa lagi dibuatnya. Tak terkecuali Aremania dan basis suporter lainnya pun kecewa dengan permasalahan ini, karena seketika itu hiburan paling merakyat berhenti dan tak digelar lagi, entah sampai kapan.

Berhentinya ISL, membuat rakyat semakin kehilangan “morfin” dalam kehidupannya, terkhusus rakyat miskin yang hanya mampu mengakses beberapa hiburan. Hilangnya “morfin” ini membuat rakyat semakin merasakan bagaimana perihnya dan jahatnya kehidupan ini. Semakin rakyat memikirkan apa yang akan di makan besok, bukan lagi mangan ora mangan penting kumpul.

Dulu, ketika awal di Yogyakarta, setiap kali saya makan di angkringan, saya jarang sekali mendengar dan membicarakan hal yang bukan bertopik sepak bola, hampir selalu pembicaraan antara pemilik angkringan dan pembeli akan membicarakan sepak bola Indonesia. Namun, sejak setahun terakhir ini, di angkringan yang sama dan berbagai angkringan lainnya, para pembeli dan pemilik angkringan monoton dengan hanya membicarakan (baca:menyinyir) kenaikan BBM, kenaikan harga bahan pokok juga, dan semakin susahnya kehidupan saat ini. Keluh tentang berbagai masalah semakin terdengar nyaring dan semakin lantang. Terkadang mereka juga masih membicarakan (baca:menyanjung) sepak bola, tetapi sepak bola di Eropa, yang mereka tak terlalu update pemain-pemainnya.

Padahal dengan sepak bola pula, persatuan masyarakat daerah, dan bahkan negara bisa menjadi sangat erat, dalam basis massa yang dinamakan suporter itu tadi. Mereka pun lebih menghargai indahnya keberagaman, karena sudah tak memandang dari agama apa, dari etnis apa, berjenis kelamin apa, berasal dari mana, dan berumur berapa. Hanya dua hal yang mereka tahu, bahwa mereka mendukung kesebelasan yang sama dan mencari hiburan yang sama pula.

Pagi ini, di saat saya melihat Copa Amerika dari televisi, dalam diam ternyata saya rindu akan sepak bola Indonesia, saya rindu Arema bermain lagi, saya rindu momen ketika Boaz Salossa mencetak gol-gol spektakuler dari kaki kirinya. Sebenarnya bukan saya saja yang merindukan hiburan rakyat paling murah ini, tapi semua orang merindukannya, bisa dibilang seluruh rakyat Indonesia. Gonjang-ganjing sepak bola Indonesia saat ini, telah merenggut hak setiap orang untuk mendapatkan hiburan, merenggut “morfin” kemiskinan dari rakyat. Kami, rindu dan butuh “morfin” kemiskinan, walaupun hanya 90 menit.

Arfrian Rahmanta

Check Also

Agar Kita Tak Terburu-buru Menghakimi Mourinho

Apa yang paling dikenang dari Piala Dunia 1974? Keindahan? Sepanjang hajatan terbesar sepak bola yang …