Home » Sastra » Cerpen » Gara-Gara Bunga

Gara-Gara Bunga

Dok. http://cammyscomiccorner.com/photowfd/dollar-bill-origami-flower

Dulu pernah aku bermimpi untuk bepergian ke luar negeri karena melihat film televisi Eiffel I’m in Love yang dimainkan Sandy Aulia dan Samuel Rizal. Nuansa romantis dibalut pemandangan Paris itu terasa mengena padaku, apalagi saat berciuman di bawah Menara Eiffel malam itu. Begitu pula dalam film Heavenly Forest, walau pun endingnya sedih, film itu juga mengambil tempat di New York dengan jembatan Brooklyn yang jadi latarnya di Manhattan. Kerlap-kerlip serta pemandangan malam yang indah ditampilkan menggoda, seketika membuatku tertegun melihat kemegahan negara orang.

Aku terus berandai-andai seperti itu, sambil tetap menyaksikan film-film di televisi yang kadang membuat hidup terasa lebih indah sekaligus mengutuk keadaan yang begini-begini saja. Tinggal di kampung bukanlah kesedihan, jika dipikir, makan dan tidur tiap hari tetap lancar meski kadang-kadang harus menghadang Bank Tetel yang minta bunga lebih tinggi dari penyedia uang pinjaman lainnya.

Ibarat menabung rasa malu. Begitu kata Bapak seusai menerima uang pinjaman dari Bank Tetel. Pinjam sebesar 500 ribu rupiah, dengan angsuran sebanyak 50 ribu rupiah selama 12 kali dalam 3 bulan. Tapi tidak menerima 500 ribu penuh, melainkan masih dipotong administrasi (katanya), sebesar 20% yaitu 100 ribu rupiah. Jadi kalau dihitung-hitung, Bank Tetel itu menerima laba sebesar 300 ribu rupiah. Seratus persen lebih bunganya!

Aku hanya geleng-geleng kepala. Bapak yang terbiasa hutang, sangat sulit jika dilarang berhenti pinjam ke Bank Tetel. Alasannya, “Lah ini buat dipakai jualan nasi bungkus ibu setiap pagi, nanti untungnya kan bisa buat kita makan. Kalau tidak pinjam ke situ, mau pinjam ke mana lagi? Saudara? Yang masa bodoh sama kesengsaraan kita? Apa menggadaikan TV? Atau adek kamu tidak sekolah saja? Dan bapak tiap hari menunggu gajianmu dari pabrik?”. Aku tidak bisa bicara apa-apa lagi selain mendengar khidmat.

Kadang aku merasa ingin berhenti saja mengingatkan Bapak soal ini. Tetapi bunga-bunga yang mesti dibayarkan itu terlewat besar jumlahnya. Memang dapat pinjaman uang, tapi angsurannya makin menyengsarakan, lalu menggaet barang-barang lain untuk dilempar ke pasar, terjual dan baru bisa buat membayar angsuran.

Aku ingat sewaktu aku ingin beli sepeda buat ke sekolah dulu, mesti menjual anting yang kupakai. Belinya dulu seharga 140 ribu, kemudian terjual sebesar 85 ribu. Eh, tidak tahunya di pasar aku ketemu Bapak yang lagi nongkrong di markas juru parkir. Aku dipanggil, dan uang itu diminta untuknya saja. Alasannya, besok sepeda akan dibelikannya dengan yang lebih bagus, uang dari hasil menjual anting-anting dipakai untuk modal jualan nasi ibu.

Baru kemudian aku memutuskan untuk tidak melanjutkan SMA , jadi setelah lulus SMP aku mulai melamar kerja di pabrik rokok, dan diterima. Sebelumnya, tetangga-tetangga banyak yang membujuk untuk mengambil hutang ke Bank Tetel sebagai modal awal untuk mendirikan usaha. Dan sebetulnya aku tertarik, tapi batal karena aku selalu ingat dengan keadaan di rumah sewaktu kesulitan terus menghimpit akibat bunga yang mesti ditanggung.

Aku mengobrol dengan kawan-kawan yang kebetulan tetangga sebelah.

Bang Tetel ini sudah jadi penyakit yang tidak ada obatnya,” kataku.

“Kok bisa begitu Sun?” tanya Kamti yang merasa belum mengerti karena ia pun hingga sekarang telah menikmati angsuran ke-4 Bank Tetel.

“Pinjaman di sana tanpa syarat, itulah kelebihannya. Cuma itu saja, selebihnya adalah pembunuhan. Coba kalian hitung, bunga setiap bank itu mencapai seratus persen lebih,” kataku meyakinkan Kamti dan Samini.

“Tapi siapa lagi yang mau meminjamkan modal pada kita kalau bukan bank-bank itu? Tidak mungkin kita merepotkan tetangga,” Samini mulai kelihatan emosi atas perkataanku.

“Ya memang, tapi kalian harus sadar juga, siapa di sini yang berhasil kaya raya dengan hasil pinjaman Bank Tetel itu?”

Samini dan Kamti diam. Hanya memandangku dengan muka bertanya. Kulihat Kamti ingin menyampaikan sesuatu.

“Dulu ibuku pernah punya hutang ke Bank Tetel sampai enam juta, tapi karena buat biaya sekolahku dan adek-adekku, akhirnya mengalami kesulitan untuk bayar angsurannya. Terus pergi ke Hongkong untuk nyari uang”.

Samini tidak mau kalah, ia bercerita juga, “Sama lho. Lah ibu kamu mending sekarang sudah di rumah, lah ibuku lima tahun di Malaysia sampai sekarang belum pulang juga”.

“Ke Malaysia karena Bank Tetel juga?” tanyaku.

“Iya, sepeda motor di rumah kena sita. Ya Allah, padahal itu juga masih kreditan”.

“Aku juga dulunya ingin lanjut SMA, tapi musnah sudah sekarang. Ganti kerja, bantu bayar angsuran bank itu”.

“Kalau kamu tidak lanjut SMA, mana bisa ke luar negeri Sun. Lha wong kamu ini lho katanya pingin ke Paris kayak di cinta aipel itu”.

“Haha, iya dulu. Tapi apa sih yang mungkin Kam, wong kepinginan ke luar negeri nggak njamin hutang ke Bank Tetel lunas”.

Samini dan Kamti tertawa. “Sekarang Sunarti malah nggulungi rokok di pabrik. Hahahaha,” ejek Samini sembari menertawakanku yang nyata-nyata begitu.

“Kamu tidak bisa berprasangka jelek pada bank itu terus-terusan, karena tetangga-tetangga kita seperti Mak Sumi, tiap hari bisa berjualan lontong juga karena modal dari bank itu,” kata Kamti padaku.

“Iya, ibu kamu jualan nasi bungkus pagi-pagi juga karena modal dari sana kan?”

Aku tidak bisa menjawab perkataan mereka. Seperti ada permintaan daya, ketika aku bilang Bank Tetel tidak baik, harus ada solusi jelas yang meringankan.

Tiba-tiba di seberang jalan, Mak Siti teriak-teriak (seperti biasanya), “Kelakuane bajingan! Wong mbokne nyambut gawe direwangi ngutang bank nganti rai dadi gedhek, sek tego njauk melar e mbokne gawe medok. Jan bajingan tenan”.

Mak Siti setiap hari bekerja menjual lontong, dapat modal juga dari bank itu. Mungkin kebetulan, si Agus minta uang buat kencan sama pacarnya tapi tidak ada. Ganti minta anting-anting Mak Siti untuk dijual, sedang keadaan Mak Siti sedang susah gara-gara angsuran belum rampung.

“Kasihan Mak Siti itu, kabar-kabarnya mau ke Saudi lagi,” kata Kamti.

“Ke Saudi lagi?”

“Iya, padahal sudah tiga kali ya. Lah nanti ini kan jadi empat kalinya ya”.

“Masya Allah,” aku dan Samini hampir berbarengan mengucapkannya.

“Baru setahun suaminya meninggal, terlihat makin sengsara”.

“Walah Sun, kita ini cuma bisa ngomong-ngomongin saja. Bantu apa-apa pun tidak”.

“Tapi kan kita juga punya perasaan belas kasih”.

“Alaaahhh belas kasih ya hanya perasaan saja, hidup tetangga yang makin sengsara mana bisa kita meringankan, wong kita sendiri juga sedang kesulitan begini”.

“Kok bisa ya?” Aku merasa aneh.

“Apanya yang bisa?” jawab Samini heran.

“Mak Situ itu lho”.

“Malah ngomongin Mak Siti”.

“Lah kita kan dari tadi ngrasani Mak Siti”.

Ndasmu. Kita ini lagi ngomongin Bank Tetel”.

Bank Tetel kok diomongin. Bunganya tetap saja nggak turun-turun”.

“Bukan. Maksudku itu, selama bekerja di pabrik rokok dengan penghasilan sebulan satu juta dua ratus ribu, ternyata kalau dihitung-hitung belum cukup juga”.

“Nggak cukup dari mana? Satu juta dua ratus ribu itu kalau buat aku pas. Sebulan, angsuranku sebesar enam ratus ribu untuk 4 bank, masing-masing seratus lima puluhan. Terus buat pangan selama sebulan sekitar seratus lima puluh ribu. Sisa empat ratus lima puluh ribu, lumayan”.

“Hitunganmu kok aneh. Beras 25 kg sekarang ini dua ratusan ya. Mbok kira makan cuma 3 hari? Sebulan itu paling tidak satu karung satu keluarga, belum kebutuhan lain yang belum masuk hitungan”.

Samini yang sudah hitung-hitungan dari tadi mulai melaporkan, “Kayaknya aku harus ke Hongkong. Gajian dari pabrik tidak cukup untuk menutup hutang ke bank itu”.

Aku dan Kamti masih heran, Samini  tetap melanjutkan, “Total hutang di rumah sekarang empat jutaan. Sedang waktunya tinggal 3 bulan. Gaji pabrik ditotal 3 bulan ke depan, tiga juga enam ratus. Belum buat keperluan makan, sabun, listrik, ini itu dan lain-lain. Masak iya mau jual TV sama motor? Lah buat jalan jauh mau pakai apa? Wah ini, aku mesti segera ke Hongkong. Setidaknya, meski kena denda, bisa terlunasi hutang sekalian bunga-bunganya”.

Samini jadi terlihat sumringah. Kamti tidak mau berbicara apa-apa. Dan aku masih duduk saja melihat mereka berpikir.

“Kita ke Hongkong saja,” ajakan Kamti sambil ia berdiri sekilas melihat ke Samini dan aku, lalu ia berjalan ke rumahnya meninggalkan obrolan yang belum selesai.

Hening sesaat. Terasa Samini mulai mendempet.

“Katanya kamu pingin ke luar negeri?” tanya  Samini dengan suara pelan.

Aku mengangguk.

“Inilah saatnya,” ucapnya dengan memegang pundakku.

Kupandangi wajahnya, ia tersenyum. Dan lalu berdiri. Beranjak pulang.

Malang, 25 Juli 2015
Winna Wijayanti

Check Also

Masak dalam Mimpi

Oleh Muhammad Lutfi (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)   Masak dalam Mimpi Seorang …