Home » Sastra » Cerpen » Di Suatu Sore yang Dingin

Di Suatu Sore yang Dingin

Mungkin benar, perlu biaya besar untuk mengucap sayang di waktu malam hari kau di sampingku. Ketika itu kusadar akan keberadaanku sebagai siapa, dan juga waktu perkenalan yang sebentar itu cukup menjelaskan mengapa kau menganggap hal-hal yang terlewati adalah biasa dan wajar. Jangankan bersama orang lain, ketika kuketahui kau menyapa pacarmu dengan manis, aku tidak rela. Dengan senangnya kau bercerita sehabis mengecup pacarmu, sekali dua kali, kau terus lanjut bercerita. Kau bilang sayang padanya, kemudian kau peluk pria lain untuk melampiaskan rasa bahagia. Kau menangis di pundak pria itu, kau peluk lagi. Lalu bersandar perlahan-lahan. Sementara aku terus menunduk. Nafasku terasa berat, dan dalam dada begitu ngilu. Seperti rasa sakit yang tak berbentuk, tetapi menyayat.

Masih saja ada ketidakberdayaan, aku memandang wajahmu di dalam remang-remang. Tidur di sisi, kupandangi hingga berganti pagi. Kau masih pulas dengan manis, melihat baju yang kau kenakan tersibak ke atas, barangkali memudahkanku untuk membelaimu ketika kau sedang tidak tersadar begitu. Tapi tidak kulakukan. Mendapati kau masih berada di sisi adalah sesuatu yang lebih membahagiakan karena aku tidak ingin kau kecewa. Karena aku ingin memberimu rasa bahagia walau cuma sebentar. Tetapi semua perasaanku menjadi kacau ketika kau mulai memanjakan pacarmu dari jauh. Aku bisa membayangkan hal apa yang senantiasa kau lakukan bersama lelakimu itu. a

Kau tahu?” tanyamu mengisyaratkan sesuatu, tapi aku belum mengerti.

Aku menggeleng.

Aku kangen”.

Aku tersenyum.

Kau merindukan orang yang jauh dan tidak kusuka,” ucapku.

Kau tidak mengerti perasaanku,” ujarnya.

Kalau kau sedang bersama orang itu, kau memang kekasihnya. Tetapi ketika di luar seperti sekarang, kau bisa jadi kekasih siapa saja,” jelasku.

Kuambil satu gelas air hangat, lalu pergi. Kau hanya memandang saja. Seakan tidak mampu mengambil arti kekecewaanku dari hari ke hari.

Kau belum mengenal betul siapa dia. Dia baik. Dia selalu berusaha untuk membahagiakanku, memakmurkan diriku. Kau jangan asal menilai”.

Aku diam, hanya menunggu kata-kata yang akan keluar. Untuk menjawab sama sekali tak ada bahan, yang ada hanya rasa malu. Kenapa kucinta kau hingga seperti ini, yang akhirnya membawa kata-kata ingin berkuasa atasmu. Sedang jelas terlihat, aku tak punya apa-apa, selain kata manis dan kesetiaan menemani walau tanpa setangkup roti dan segelas coklat panas kesukaanmu.

Bisakah sejenak, atau paling tidak sehari saja kau tidak memegang handphone. Beri kenyamanan untukku. Tidak muluk, hanya temani aku dengan perhatian seperti yang kau beri pada lelakimu”.

Siapa kau berani berucap begitu? Kau bukan kekasihku. Lagi pula perkenalan ini baru beberapa minggu, kau sudah mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuharap”.

Aku memang tidak memiliki sesuatu yang patut kuberikan padamu. Tapi yakinlah, aku lebih baik darinya”.

Simpatiku jangan lah kau artikan sebagaimana orang awam pahami”.

Apa kamu bahagia?”

Aku bahagia”.

Kenapa kamu mencintainya?”

Karena dia selalu membahagiakanku”.

Tapi cinta yang beralasan itu artinya kau tidak tulus mencintainya”.

Tidak. Aku mencintainya”.

Kukira lelakimu hanya memanfaatkanmu sebagai pemuas saja”.

Apa-apaan kau ini?

Kulihat kau berlalu pergi memasuki kamar. Kuamati pintunya, kau memeluk guling yang terjatuh di lantai.

Aku mau tidur. Jangan menggangguku,” katamu lirih.

Aku tidak sanggup menahan rasa bersalah sekaligus meluap-luap emosiku karena mengetahui betapa kau menggilai pria yang selalu mengekang kebebasanmu itu. Mengapa tiba-tiba muncul niat jahat supaya kalian bertikai saja, dan sudah pernah kulakukan. Tapi akhirnya bersama kembali. Mungkin kah ini jahat sungguhan? Tidak, pikirku. Ini suatu hal yang perlu untuk menyelamatkan wanita yang kucintai.

Masih dalam beberapa hari kita bersama. Tetapi kuberusaha senantiasa melindungi dan memberikan perhatian padamu, dengan terus ada ketika kau butuh bantuan. Meski hanya dengan tenaga dan kesiapanku mendengarkan curahan rasa sedihmu. Setidaknya aku selalu ada, sekali pun tanpa materi nyata untuk bisa kau nikmati. Kadang di situlah aku merasa sedih, mengapa kecut sekali usahaku untuk bisa mendapatkan hatimu.

Kuingat betul sewaktu pagi-pagi aku duduk di ruang tamu sambil menyanyikan lagu, kulihat kau terbangun dan langsung memandangku. Mungkin suara gitarku telah mengusikmu. Kau langsung berjalan ke arahku. Tanpa kulihat penuh, kau memelukku dari belakang penuh hangat. Kudengar kau berucap lirih dengan suasana terbangun di pagi yang lemas, “Nanti kau pulang jam berapa?”

Ah, mungkin kah itu harus kuanggap biasa dan wajar? Apa juga mesti kukatakan simpati yang pada umumnya? Mengapa kau memelukku? Ha, mengapa? Mengapa kau masih terus memelukku dalam waktu lama. Semakin terasa kau memelukku dengan perasaan mendalam. Pagi seakan redup bersama embun yang dingin, dan kesepian berubah jadi kebahagiaan sesaat. Aku berharap tidak salah mengartikan. Teringat kau dengan mudah mengatakan, “Siapa kau? Kau bukan kekasihku”.

Kuberanikan masuk ke dalam kamar. Tak ada rencana untuk mengganggu tidurmu. Hanya saja kutemui posisimu yang menggoda, aku terdiam. Rambut yang teracak dan baju terbuka hingga terlihat bentuk yang anggun. Aku sungguh ingin menyentuh. Tetapi berat rasanya, karena aku tak ingin mengecewakan.

Nanti malam aku pulang. Mohon sebentar saja kau bersamaku, benar-benar bersamaku tanpa kau menyibukkan dengan segala yang tidak penting itu”.

Aku lelah. Istirahatlah saja kau di sini,” katamu sambil menuding tempat tidur sebelah yang masih kosong.

Aku tidak ingin tidur. Aku ingin bersamamu”.

Kau hanya memandangku yang makin membuatku tak sanggup menahan kata-kata cinta yang menggelembung di dada. Seperti minta ditumpahkan saat itu juga. Tapi aku menahannya. Dan wajahmu, wajah yang menanggung rindu pada lelaki yang salah seakan tidak bisa berontak pada kepuasan materi. Lalu muncul dalam benakku, mungkin kau hanya untuk mereka yang beruang. Bersama orang yang mampu memberi coklat panas secara rutin padamu. Sesudah itu, kau boleh disentuh, dikecup, dan dipeluk.

Berapa hargamu?” tanyaku seperti tak sadar kuucap demikian.

Kau tersenyum.

Kulihat sore makin membayang, daun-daun bambu di seberang bergoyang karena angin begitu kencang. Langit senja tidak nampak indah seperti biasa. Kubuka kelambu, menengadah ke langit sore kekuningan tercerap pesan-pesan yang belum tersampaikan. Muncul tekad untuk merelakan, rasa tertimbun di semak-semak yang kau buat bersamaku. Kuamati tanaman segi tiga depan jendela terayun dan roboh. Kau masih di tempat itu, tertidur. Ingin ku membelai wajah indahmu, dan perlahan kuusap tanganku ke pipimu, dahimu, bibirmu. Lalu kau terbangun, memelukku.

Winna Wijayanti

Check Also

Masak dalam Mimpi

Oleh Muhammad Lutfi (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)   Masak dalam Mimpi Seorang …