Mereka yang Dicap Pembangkang

Siang itu, matahari begitu terik menyinari langit. Peluh keringat mahasiswa baru semakin nampak, menandakan siksa sinar matahari. Mereka begitu setia mengantri di depan loket-loket yang sudah disediakan birokrasi kampus yang menasbihkan dirinya sebagai kampus pendidikan, untuk melakukan proses verifikasi bagi mahasiswa baru. Loket yang hanya tersedia tujuh tersebut, begitu disesaki oleh calon mahasiswa baru, yang datang dari seluruh penjuru tanah air. Mulai dari Sabang sampai Merauke, mereka rela datang ke kota yang disebut-sebut sebagai kota pelajar untuk mendapatkan gelar sarjana.

Proses verifikasi di perguruan tinggi yang menurut mereka begitu njlimet ini, harus dilakukan untuk mengukuhkan dirinya sebagai mahasiswa. Tak tanggung-tanggung, banyak dari mereka yang datang dari luar Jawa, sudah berkorban dengan mencari tempat tinggal yang paling strategis di dekat kampus. Alhasil, bisa dilihat pemukiman penduduk di sekitar kampus semakin hari semakin sesak oleh para pemburu gelar sarjana tersebut.

Pasca proses verifikasi, mereka harus menunggu kurang lebih satu bulan untuk melalui jembatan menuju titel mahasiswa, yaitu Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Segala persiapan, yang lagi-lagi njlimet ini perlu dilalui oleh mahasiswa baru, agar mendapatkan sertifikat OSPEK, yang kata senior mereka dijadikan sebagai salah satu syarat untuk lulus dari perguruan tinggi.

Doktrin dari senior yang mengatakan bahwa OSPEK ini wajib diikuti membuat mereka begitu patuh pada setiap perintah seniornya. Laksana prajurit yang diperintah komandannya, mereka mengikuti segala penugasan yang diberikan oleh seniornya.

Para senior seakan lupa, atau bahkan menutup telinga bahwa tujuan OSPEK adalah untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru. Pandangan konvesional yang mereka emban, nyata-nyata kurang memiliki esensi bagi mahasiswa baru. Lihatlah, bagaimana mereka mencoba memermak mahasiswa baru seperti badut penghibur di acara ulang tahun.

Namun, harus diakui bahwa semua penugasan tersebut, juga ada yang bermanfaat. Misalnya saja, pembuatan artikel, dengan mengambil tema tentang nasionalisme. Sebenarnya, hal inilah yang seharusnya mendapatkan lebih banyak, daripada hanya sekadar membuat penugasan yang sekali pakai tersebut. Pembuatan artikel, ditujukan untuk melatih kepekaan mereka terhadap kondisi bangsa Indonesia ini. Timbulnya rasa kritis tersebut bisa saja, membuat mereka mulai tertanam kepedulian terhadap bangsa Indonesia.

Mengingat, bangsa Indonesia memiliki karakteristik nasionalisme yang berbeda dengan bangsa lainnya, maka kiranya mahasiswa melihat kembali nasionalisme Indonesia. Jika saat ini sudah banyak kritikan terhadap mahasiswa yang sudah mulai luntur semangat nasionalisme. Maka perlu dijabarkan bagaimana nasionalisme Indonesia.

Menurut, Sukarno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, nasionalisme Indonesia berbeda dengan nasionalisme Jerman yang chauvinistik. Berbeda pula dengan nasionalisme barat, yang cenderung saling serang menyerang untuk mendapatkan kekuasaan. Nasionalisme seperti itu hanya akan menimbulkan kolonialisme. Menurutnya, nasionalisme Indonesia adalah sosio-nasionalisme, yang berarti nasionalisme yang mencari selamatnya masyarakat dan bertindak menurut wet-wet-nya masyarakat.

Dengan mengingat kembali nasionalisme Indonesia, tentunya mahasiswa baru akan menyadari bagaimana problematika yang saat ini menimpa masyarakat Indonesia. Selain itu, penanaman kembali nation and character building juga bisa dilakukan melalui pembuatan artikel yang bertemakan nasionalisme tersebut.

***

Pagi itu, mentari mulai keluar dari peraduannya. Mahasiswa baru, telah menantikan hari dimana mereka akan melewati jembatan untuk menjadi mahasiswa yaitu OSPEK. Sejak semalam, tidur hanya beberapa jam saja mereka lalui. Pagi sekitar pukul 06.00, mereka harus tiba di kampus. Baju putih dan celana hitam sudah mereka kenakan. Almamater biru tua juga sudah melengkapinya. Aksesoris pemanis pun sudah melekat dalam diri mereka.

Hidup mahasiswa, hidup rakyat! Teriakan menggema di seluruh ruangan. Para pemandu sorak, memandu para mahasiswa baru untuk digiring layaknya bebek yang harus mengikuti apa yang diperintahkan seniornya tersebut. Kegaduhan tersebut mulai mereda, laksana paduka rektor yang mulia sudah berdiri di atas podium.

Saat-saat sakral seperti in lah, yang membuat suasana hening dalam ruangan tersebut tercipta. Orasi yang dilakukan oleh pimpinan tertinggi kampus tersebut dimulai. Seperti biasa, ia mulai melakukan indoktrinasi terhadap mahasiswa baru tentang menjadi mahasiswa ideal versinya. Mahasiswa baru, harus bisa menjadi agent of change, dengan cara lulus cepat, mendapatkan Indeks Prestasi Akademik yang tinggi, dan tentunya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginan pasar.

Jargon seperti ini lah, yang dimanfaatkan untuk memproduksi mahasiswa boiler yang tentunya harus mengikuti narasi yang diciptakan oleh birokrasi kampus. Dalam telaah ilmu Sosiolinguistik, politik bahasa menempati posisi penting terutama setelah munculnya posmodernisme dan pos-strukturalisme dalam epistemologi modern. Bahasa dalam dirinya sendiri tampil sebagai representasi dari pagelaran (deployment). Bahasa pada akhirnya dipahami sebagai salah satu ruang di mana konflik berbagai kepentingan, kekuatan, proses menguasai, dan mempertahankan kekuasaan terjadi.

Bahasa politik membawa ideologinya sendiri yaitu kepentingan penuturnya. Bahasa politik seringkali multitafsir, ambigu, bahkan menipu. Apa yang terjadi bisa jadi merupakan apa yang sebaliknya dari yang diungkapkan. Bahasa politik tidak hanya digunakan untuk mengungkapkan sesuatu tapi juga untuk menyembunyikan sesuatu.

Strategi tersebut digunakan oleh petinggi kampus, untuk mengisi bejana kosong yang tersemat dalam diri mahasiswa baru. Proses indoktrinasi, saat OSPEK kiranya sangat berhasil untuk menciptakan suasana kampus yang kondusif, dan mempersempit ruang gerak mahasiswa, karena mereka telah dibutakan, dan digiring menjadi mahasiswa ideal versi.

Proses pengisian bejana yang diisi sesuai dengan kepentingan birokrasi tersebut yang nantinya akan membuat mahasiswa melupakan jati dirinya. Ia hanya akan berpikir tentang dirinya sendiri sebagai individu, tanpa mempedulikan bagaimana kondisi lingkungan di sekitarnya.

***

Euforia OSPEK sudah berlalu. Kini mereka sudah menasbihkan diri sebagai mahasiswa seutuhnya. Mereka sudah bersiap-siap untuk masuk ke ruang-ruang kelas, guna mendengarkan ceramah dari dosen pengampu perkuliahan. Kali ini, ada yang berbeda, di kampus yang memiliki banyak organisasi mahasiswa. Membuat mereka kebingungan mau memilih organisasi yang mana untuk menggembleng diri mereka. Hal itu hanya sebagian kecil saja dari seluruh mahasiswa baru, yang memiliki kesadaran untuk mengikuti organisasi. Rata-rata dari mereka memiliki beberapa alasan kenapa harus mengikuti organisasi.

Pertama, mereka berorganisasi hanya ikut-ikutan saja. Fenomena ini yang sedang menjamur di kalangan mahasiswa. Mereka adalah mahasiswa baru yang mengikuti organisasi karena teman-temannya juga mengikutinya. Hal inilah yang disebut sebagai barisan penggembira dalam organisasi. Sebagian besar dari mereka tidak menyadari, tentang pentingnya mengikuti organisasi, esensi yang didapat hanya sebatas dapat mengisi waktu luang semata.

Kedua, mahasiswa yang sudah memiliki kesadaran, dan kehendak untuk mengubah dirinya maupun lingkungannya dengan jalan mengikuti organisasi tersebut. Kuantitas dari mahasiswa ini jauh kalah banyak dengan mahasiswa yang hanya sekadar menjadi barisan penggembira. Bisa dikatakan, bahwa barisan ini adalah barisan kader yang nantinya siap menjadi penggerak roda organisasi di masa yang akan datang.

Yang disebut terakhir adalah barisan minoritas dan kritis yang acapkali dicap sebagai pembangkang oleh birokrasi kampus. Narasi besar yang sudah ditanamkan oleh birokrasi kampus ternyata tidak mampu membendung rasa kritis dari sebagian kecil mahasiswa kader organisasi tersebut. Hal inilah yang membuat birokrasi senantiasa mawas diri, dengan pergerakan dari mahasiswa ini. Kebijakan kampus yang dirasa tidak berpihak pada mahasiswa langsung menjadi santapan empuk untuk dikritisi.

Kebijakan macam Uang Kuliah Tunggal, Kuliah Lima Tahun, fasilitas kampus yang tidak memadai, menjadi tema-tema yang selalu menjadi bahan diskusi mereka. Jika kebijakan tersebut tetap diterapkan, tidak segan-segan mereka turun ke jalan melakukan demonstrasi.

Misalnya saja, saat di tetapkannya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di perguruan Tinggi Negeri. UKT yang diterapkan mulai tahun ajaran 2013 mendapatkan sorotan dari mahasiswa kritis tersebut. Mereka menilai, kebijakan ini tidak berpihak kepada mahasiswa, lantaran Uang kuliah semakin mahal.

Coba hitung, jika sebelum ada kebijakan ini rata-rata perguruan tinggi negeri menetapkan uang persemester hanya dikisaran 1 juta sampai 2 juta, setelah adanya UKT bisa membengkak sampai 3 juta sampai 7 juta. Ini yang menjadi landasan mereka untuk membuat gerakan menolah UKT. Musyawarah yang dilakukan berkali-kali dengan birokrasi kampus tidak pernah menghasilkan kesepakatan. Walhasil, cara mereka melakukan tekanan adalah dengan cara demontrasi.

Aksi turun ke jalan tidak serta merta dilakukan dengan aksi yang merusak fasilitas kampus. Aksi ini biasanya dilakukan dengan aksi damai dan tetap santun. Mereka hanya berusaha menyampaikan aspirasi melalui orasi. Tidak lupa, lagu Darah Juang, juga dikumandangkan untuk memompa spirit mereka agar tetap menuntut dibatalkannya UKT.

Walaupun pada akhirnya UKT masih berjalan sampai sekarang. Hal itu tidak akan pernah melunturkan semangat mereka dalam menegakkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan mahasiswa. Kejadian tersebut, semakin mengukuhkan predikat “pembangkang” dalam diri mereka, itu penilaian dari birokrasi kampus.

***

Kesadaran dalam berpihak dari tahun ke tahun semakin menurun dalam kalangan mahasiswa. Jika Tan Malaka pernah mengatakan “kemewahan terakhir pemuda adalah idealisme”, sekarang kemewahan tersebut telah tercerabut dan digantikan oleh pragmatisme. Sebagian besar mahasiswa sudah dininabobokan oleh sistem yang selama ini membelenggu perguruan tinggi membuat mereka melupakan kodratnya sebagai aktivis yang berpihak segalanya pada kepentingan rakyat.

Nilai-nilai pragmatisme dari mahasiswa dapat tercermin dari sikap mereka yang tidak memiliki nafsu untuk peduli terhadap penderitaan rakyat. Sikap pragmatis, yang hanya mementingkan kepentingan individu untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya bagi individu tersebut perlu diluruskan kembali.

Jika penyakit pragmatisme ini, terus menerus menggerogoti identitas mahasiswa yang terjadi adalah semakin langgengnya sistem kapitalisme yang lebih membela hak-hak kapital dan korporasi-korporasi yang bercokol di negeri ini. Kapitalisme yang sangat membutuhkan tenaga kerja murah, sangat diuntungkan dengan banyaknya mahasiswa yang memiliki perilaku pragmatis.

Selain itu, sikap pragmatis juga sejalan dengan terbentuknya individualis. Fenomena yang saat ini menimpa sebagian besar mahasiswa di Indonesia. Bayangkan, cerita-cerita mahasiswa zaman pra-kemerdekaan, yang dengan gagah berani menentang adanya eksploitasi atas manusia, eksploitasi negara atas negara, kolonialiasme, imperalisme, dan bentuk penjajahan yang lainnya kini tak ada lagi.

Lebih dekat lagi, kita bisa melihat lagi bagaimana mahasiswa angkatan ‘74 yang berani menolak adanya investor dari Jepang, sehingga meletuslah peristiwa malapetaka 15 Januari 1974. Saat Perdana Menteri Tanaka Kakuei datang ke Indonesia, mahasiswa mencoba menyambut Tanaka dengan aksi demonstrasi. Hal ini dilakukan karena mahasiswa tidak terima Indonesia dijadikan ladang investasi. Prestasi lebih hebat juga ditorehkan mahasiswa angkatan reformasi. Angkatan ini bisa menggulingkan rezim otoritarianisme Orde Baru dari tampuk kekuasaannya.

Cerita-cerita tentang kehebatan mahasiswa dulu tersebut saat ini hanya menjadi romantisme semata. Mahasiswa saat ini, yang sebagian besar sudah tidak memiliki kepedulian terhadap penderitaan rakyat harusnya mulai sadar tentang identitasnya. Bahkan masyarakat menilai, saat ini mahasiswa sudah semakin mejauh dari realita kehidupan masyarakat.

Lalu bagaimana mahasiswa harus mengembalikan jati dirinya sebagai penantang dari segala bentuk penjajahan? Mengembalikan lagi cap pembangkang yang sedari dulu sudah melekat pada diri mahasiswa adalah hal yang perlu dilakukan saat ini. Pembangkang di sini dapat diartikan sebagai penantang dari segala bentuk kebijakan yang merugikan rakyat. Tak terkecuali kebijakan yang merugikan mahasiswa, karena mahasiswa juga menjadi bagian dari rakyat.

Selain itu, mahasiswa yang sudah memiliki kesadaran untuk menjadi pembangkang, harus mempropagandakan kembali soal identitas mahasiswa yang masih menjunjung idealisme. Cara yang paling sederhana dalam melakukan propaganda adalah dengan membuat tulisan. Seperti diceritakan Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, bagaimana Minke dapat melakukan kritik terhadap kebijakan kolonial Belanda melalui tulisan yang ditulisnya di media cetak di Surabaya.

Selain itu, pembuatan Studi Club, juga menjadi penting saat ini. Jika Prof. Suminto A Sayuti pernah mengatakan bahwa kampus di malam hari terasa seperti kuburan. Pernyataan begitu menggelitik bagi mahasiswa. Maka dari itu pembuatan Studi Club, untuk meramaikan kampus, dan juga sebagai ajang menempa diri mahasiswa harus dilakukan. Kampus sebagai kawah candradimukanya para pembangkang perlu hidup di malam hari. Dua hal tersebut, yang bisa dijadikan langkah awal guna membangunkan mahasiswa dari tidur panjangnya.

Agil Widiatmoko

Check Also

Pemilwa dan Perburuan Massa

Sesaat lagi kita akan merayakan pesta tahunan organisasi mahasiswa (ormawa): pemilihan ketua dan wakil ketua …