Home » Sastra » Cerpen » Dia, Si Musuh

Dia, Si Musuh

“Aku sangat membenci orang yang memiliki banyak rahasia. Mereka makhluk yang penuh dengan kejutan karena rahasia yang mereka miliki. Mereka bukan teman atau sahabat, mereka dengan rahasianya adalah musuh.”

Aku menangis di koridor rumah sakit, dengan buku catatan berwana coklat yang kudekap. Aku memandanginya dari jendela kaca, pintu rumah sakit. Dia masih saja berbaring di atas ranjang pesakitannya dan dengan semua rahasia yang dia miliki.

***

Aku melihat sesuatu dalam dirinya, entah apa itu. Sesuatu yang menawan, menggoda, dan menyimpan misteri. Aku terpikat dengan segala gagasannya, aku tertarik dengan gaya berbusananya, aku juga tertarik dengan lekuk tubuhnya, dan sungguh aku sangat memujanya.

Dia sangat bisa mengendalikan orang lain, terutama orang-orang sepertiku yang sudah tertarik pada apapun yang dia miliki. Tetapi, mulianya sang Dewi satu ini karena dia tidak pernah memanfaatkan hal tersebut. Aku baru sadar alasan kenapa dia tidak melakukan itu, karena dia pun tidak mau dikendalikan oleh siapapun.

Aku masih ingat betul ketika masih duduk di bangku kuliah pada semester awal, semua mahasiswa di Fakultas Merah, yang terkenal dengan fakultas pergerakan melakukan aksi turun ke jalan untuk memeringati hari buruh. Semua mahasiswa ikut berpartisipasi turun ke jalan karena himbauan pihak BEM, bahkan aksi kala itu termasuk aksi dengan massa terbanyak dalam sejarah Fakultas Merah. Seribu mahasiswa baru dari Fakultas Merah melakukan long march dari kampus ke gedung DPD, terkecuali dia.

“Tubuhku secara otomatis tidak menerima perintah dari siapapun keculi diriku sendiri,” gumamnya padaku saat kami menghabiskan makan siang di kantin kampus. Kala itu aku mengajaknya untuk bergabung denganku melakukan aksi memperingati hari buruh.

Hari buruh pun tiba dan aku menjadi salah satu orator pada aksi itu, aku berteriak meneriakkan “hidup rakyat!” dan “hidup mahasiswa!” yang diikuti ribuan orang lainnya. Aku kemudian meneteskan air mata saat di akhir menyayikan lagu Indonesia Raya. Saat itu aku ingin dia ada, ingin kudekap tubuhnya yang indah, merasakan pula debar jantungnya karena lagu Indonesia Raya, tapi dia tidak di sana bersamaku.

Aku dan beberapa orang lainnya duduk di trotoar bawah pohon dengan peluh yang bercucuran, saat itu matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Tiba-tiba tercium wangi harum yang menusuk hidungku. Aku terpejam menikmati wangi yang semakin menyengat.

“Boleh minta foto ya kak?” Seorang gadis dengan wangi harum itu mengagetkanku. Wajah itu tidak asing, aku sering melihatnya wara-wiri di kampus Merah. Siang itu si gadis ternyata megikuti long march dari kampus, meski berjalan sejauh tiga kilometer riasannya masih terlihat, terutama parfumnya.

“Kok bengong kak? boleh minta foto bareng?” tanyanya lagi sambil mengangkat telepon genggamnya.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Untuk saya upload di instagram kak.” jawabnya sambil merajuk.

Lagi-lagi gadis dengan wangi harum itu mengingatkanku pada dia, bukan karena mereka memiliki kemiripan, tapi karena benar-benar bertolak belakang. Temanku satu perjuangan pernah mengatakan, bahwa aktivis mahasiswa sekarang sudah menjadi tren gaya hidup, bukan lagi social movement. Itu tercermin pada gadis dengan wangi harum itu.

Beruntung aku mengenal dia, sang Dewi yang menjadi barang antik kala wanita-wanita lain telah disibukkan dengan tubuh dan media sosial. Dia yang lewat kacamata kecilnya lebih sering membaca buku-buku di rak perpustakaan. Dia yang dengan tubuh indahnya wara-wiri kamus ke yayasan untuk membacakan dongeng bagi Anak Berkebutuan Khusus.

Masih ingat pertama kali aku mengenalnya. Kami bertemu di toko buku, waktu itu awal bulan dan seperti kebanyakan mahasiswa mendapat jatah uang saku dari rumah, termasuk dia. Tidak heran dia membelikan uang sakunya. Dia membelikan setengah dari uang sakunya untuk buku dongeng anak-anak di Yayasan Anak Berkebutuhan Khusus itu.

Dia tidak pernah menceritakan soal yayasan, soal dia yang gemar membaca padaku, tapi aku yang mencari tahunya. Aku diam-diam mencuri-curi pandangan lewat bayangan di perpustakaan, di jalan, di toko buku, di tempat makan dan di mana pun.

Aku dan dia beberapa kali tidur dalam satu ranjang, menghabiskan malam bersama, tapi aku tidak pernah mengenalnya. Semua orang di Kampus Merah mengetahui bahwa aku dan dia sepasang kekasih, tapi aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Dia memiliki dan menyimpan banyak rahasia, bahkan jika aku bisa meminta sesuatu padanya, maka aku akan meminta dia memberitahukan apa isi kepalanya.

***

Sekarang di sini, di hadapan wanita yang kucintai, aku tidak lebih seperti seorang musuh, yang tidak tahu bahwa selama ini dia mengidap kangker pembuluh darah. Aku tidak habis pikir bagiamana bisa dia menyimpan kesakitan itu di balik senyum tipisnya.

Seperti dia menganggapku musuh yang tidak boleh tahu kesakitan dan kelemahannya. Sampai akhir hayatnya dia musuh yang tangguh, yang menyimpan sepinya sendiri.

Rizpat Anugrah

Yogyakarta, 4 Oktober 2015

Untuk Wisnu dan Mas Tofik yang memberi nyawa pada ide cerita ini.

 

 

Check Also

Jazz Untuk Nada

Kota gelap mendung seperti gerhana Dan angin turun dari gunung tengah kota Berhembus menuju selatan …