Home » Opini » Sumpah Pemuda itu Puisi

Sumpah Pemuda itu Puisi

Repro. Aziz/EKSPRESI

Soempah Pemoeda

Pertama:Kami poetra dan poetri Indonesia,

Mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedua: kami poetra dan poetri Indonesia,

mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia,

 mendjoendjoeng bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Djakarta, 28 Oktober 1928

Kalimat sakral tersebut, jika kita cermati, memang sedikit banyak mirip puisi. Dan ternyata, bait-bait sumpah pemuda itu memanglah sebuah puisi. Rumusan puisi “Sumpah Pemuda” tersebut lahir dari tangan penyair, yang selama ini lebih dikenal sebagai tokoh pahlawan, sosok itu bernama Muhammad Yamin. Ia merupakan tokoh yang hidup di zaman di mana begitu banyak bertebaran syair, pantun, dan puisi. Jadi tidaklah mengherankan, jika hal tersebut nantinya mempengaruhi bentuk “Sumpah Pemuda”. Karena secara diam-diam, kesusastraan begitu lekat pada diri Yamin.

Jejak puisi “Sumpah Pemuda” dapat ditelusuri dari puisi-puisi Yamin sebelumnya, seperti puisi yang berjudul “Tanah Air” yang dimuat di Jong Sumatra (1920), puisi “Bahasa, Bangsa” (1921), puisi “Tanah Air” (1922) yang baitnya lebih panjang dari puisi sebelumya, dan juga puisi “Indonesia, Tumpah Darahku” yang ditulis dua hari sebelum puisi “Sumpah Pemuda”.

Tak dapat disangkal, roh puisi-puisi Yamin lah yang kemudian hari menjiwai “Sumpah Pemuda”. Ia telah mempunyai konsep-konsep tanah air, bangsa, dan bahasa sebagai persatuan, jauh sebelum masyarakat Indonesia benar-benar menyadarinya. Dan konsep itu lahir dalam bentuk puisi, yang pastinya dibidani oleh penyair.

Bangsa ini begitu bhinneka, terdiri dari keanekaragaman suku bangsa, agama, budaya, dan bahasa. Dengan keberagaman keagamaan, bahasa yang beraneka, suku-suku yang belum menyatu, budaya yang berbeda-beda. Tentu kaum muda pada saat itu sangat berharap, “Sumpah Pemuda” bisa menjadi alat pemersatu itu semua. Tak sekedar puisi biasa, tentunya puisi “Sumpah Pemuda” mempunyai dasar pemikiran yang jelas, sajaknya berdasarkan faktor geografis (tanah air), sosiologis (bangsa), dan historis (bahasa persatuan).

Selain itu, menurut Yamin, “Sumpah Pemuda” bisa dikatakan sebuah janji ketiga yang diucapkan bangsa ini untuk sebuah persatuan. Janji yang diproklamirkan oleh pemuda-pemuda pada masanya, sebut saja: Janji pertama, yaitu Soempah Seriwidjaja (686) yang berisi agar bangsa ini (Nusantara: Indonesia) berbakti pada kesatuan. Janji kedua, yaitu janji Patih-Mangkoeboemi Gadjahmada (+ 1340) yang berusaha mempersatukan kepulauan Nusantara (Indonesia). Dan tentu saja, seperti yang disebutkan sebelumnya, janji Sumpah Pemuda (1928) yang bertumpah darah, berbangsa satu dan berbahasa Indonesia yang berujung kemerdekaan.

Sekilas tampaknya memang terlihat berlebihan, jika mengatakan bahwa penyair mempunyai peran sangat penting dalam perjuangan bangsa ini. Apalagi puisi seringkali diartikan sebatas romantisme pribadi penyair. Dianggap sebuah kata-kata hasil lamunan kosong atau kata-kata yang dibalut keindahan dan seringkali dituduh sebagai sebuah kata tanpa kenyataan. Bahkan peran penyair dalam perjuangan bangsa ini pun dianggap tidak jelas bagi sebagian orang.

Akan tetapi, seorang filsuf bernama Muhammad Iqbal, yang juga seorang penyair terkemuka asal Pakistan mengatakan bahwa sebuah negara terlahir dari tangan para penyair. Bukanlah sekadar sebuah candaan yang diseriuskan. Sebagai bukti di Indonesia, “Sumpah Pemuda” merupakan sebuah deklarasi perjuangan bangsa ini yang berbentuk puisi—mungkin peran penyair sama halnya dengan peran pujangga dalam sebuah kerajaan. Tanpa kita sadari, banyak kata-kata yang mempunyai roh perjuangan, kata peristilahan, pepatah atau mungkin percakapan sehari-hari yang kita sering gunakan adalah sajak-sajak yang dilahirkan oleh para penyair.

Peristilahan yang sering kita pakai saat ini, seperti: Tanah Air, Tumpah Darah, persatuan dan kesatuan, bersatu kita teguh bercerai kita jatuh (runtuh), bahasa Indonesia bahasa persatuan, dan Ibu Pertiwi pun merupakan hasil pemikiran penyair—lagi lagi ini peran Yamin.

Tentu saja sudah sangat jelas, peran sastrawan atau penyair dalam mengobarkan rasa cinta tanah air, untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Namun, masyarakat Indonesia saat ini (khususnya pemuda), entah sengaja atau tidak, mulai menjauh dari kesusastraan yang pada dasarnya berstatus sebagai Ibu Kandung bangsa ini.

Pemuda saat ini mulai mengabaikan hasil renungan, pemikiran, imajinasi, dan peran sastra(wan). Bahkan mulai mengkhianatinya, menganggap sastrawan tidak punya andil apa-apa bagi bangsa, menganggap puisi—seperti yang dikatakan tadi—hanya lamunan kosong atau kata-kata yang dikemas dengan keindahan, atau bahkan menuduh puisi dengan sinis: kata-kata tanpa kenyataan. Selain itu, budaya membaca pun tidak dijadikan bagian penting dari pendidikan di Indonesia—jika hal itu tidak, bagaimana mungkin membudayakan menulis sebagai salah satu alat perjuangan?

Indonesia terlahir dari tangan penyair, sastrawan, pemikir dan para pejuang. Melihat Indonesia saat ini, mungkin benar keluhan penyair yang mengatakan—tapi semoga saja salah. “Indonesia” anak kandung sastra, tapi Indonesia cenderung durhaka pada puisi yang telah bersusah payah melahirkannya, yaitu Sumpah Pemuda.

Imam Ghazali

Check Also

Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

Pemain Semen Padang FC (SPFC), Vendry Mofu menerima umpan lambung tepat di kotak penalti Persela, …