Home » Margin » Perayaan (Seolah Dicap) Sastrawan Dwi Raharyoso

Perayaan (Seolah Dicap) Sastrawan Dwi Raharyoso

Dwi Raharyoso sewaktu diwawancara seusai menjadi pembicara dalam Malam Susastra #2 KMSI di Depan Pusat Layanan Akademik (PLA) FBS, Rabu (28/10). | Foto: Kuki/EKSPRESI

Selesai membedah buku Antologi Puisi dan Cerpen dari Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) “Buku Nasib”, Rabu (28/10), Dwi Raharyoso menyempatkan berbincang dengan repoter EKSPRESI. Di Pendapa Tedjakusuma, lulusan S2 Ilmu Sastra UGM ini membagikan pandangan mengenai puisi masa kini. Berikut petikan wawancaranya.

Apa yang sebenarnya menjadi persoalan mendasar dalam puisi masa kini?

Berbicara mengenai puisi, persoalan mendasarnya adalah kembali kepada sebuah perayaan seolah-olah mereka ingin dicap sebagai sastrawan, itu yang pertama. Yang kedua, ada yang tidak bisa dibendung ketika kita harus mengendalikan sebuah puisi, artinya mengapa ia harus menulis puisi, dan kenapa puisi itu harus muncul? Konon ya, apa yang tidak bisa kita sampaikan, kita tulis dalam bentuk karya sastra.

Saat ini, kontribusi puisi sudah bergeser dari awal. Pada mulanya tradisi lisan, lalu mulai mengenal tulis-menulis, masuk ke Pujangga Baru, Angakatan 45, Angkatan 66, dan seterusnya. Semua itu sudah mengalami fase tersendiri dengan membentuk kredo dan sebagainya. Nah, sekarang sikap puisi bisa dikembalikan ke penulis. Ini menyinggung posmodern ya, dengan narasi-narasi besar yang ditawarkan oleh barat, maka puisi bebas, tak ada batas karena tidak ada hegemoni tunggal. Nah, persoalannya sekarang adalah kita dibesarkan oleh era seperti itu, dan di situlah mulai terjadi pergeseran terhadap sikap-sikap yang kritis.

Mengenai perayaan seperti yang sudah disinggung, apa penyebabnya?

Puisi saya sebut sebagai perayaan, artinya kamu bisa nulis puisi karena ada Facebook, catatan di sosial media, bahkan kalau kamu punya modal kamu bisa menulis puisi, coretan-coretan tidak karuan bisa diterbitkan. Sekarang sudah marak, contohnya grafiti, mereka itu kan gerakan yang menolak hegemoni koran nasional, seperti Kompas dan Tempo yang telah menjadi raksasa bagi sastra Indonesia. Nah, di posmodern itu kan ditolak dengan alasan itu semua difasilitasi. Berhak jadi penyair karena fungsi estetik itu dialami pribadi, interpretasi orang mengenai suka dan tidak suka kan relatif jadinya.

Hal-hal seperti itu tadi juga difasilitasi, bahaya atas kemudahan semacam ini bisa berupa pendangkalan mengenai puisi yang berkualitas atau tidak. Lomba puisi coba kita amati di sosial media, banyak sekali, ada yang bayar dan sebagainya. Itu menunjukkan bahwa masyarakat kita bergerak bukan dengan kondisi yang benar-benar sadar, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa yang terpenting bagi mereka adalah merayakan. Bahayanya posmodern itu ya tadi, kita semakin dangkal dan tumpul.

Menyemarakkan puisi-puisi dengan fasilitas yang sudah melimpah bisa membuat kita semakin dangkal dan tumpul, maksudnya?

Iya, teman-teman di sini dengan Buku Nasib ini sebenarnya saya menyinggung, untuk apa esensinya kalian menerbitkan ini kalau hanya sekedar mentasbihkan diri “Wah aku eksis bisa masuk antologi puisi dan cerpen.” Apa penting seperti itu sekarang? Nah, puisi untuk apa? Sebuah keyakinan atau identitas? Saya tidak bisa menghakimi, justru puisi itu pendek dan padat, sehingga disalahtafsirkan dan membahayakan. Jangankan mahasiswa, dosen-dosen FBS ini juga banyak yang menulis seperti orang pipis, hujan, det det det tulis, posting. Ini menunjukkan ada pergeseran sensibilitas, ketika anda diberi ruang yang lebih, kemudian pasti overload, belum di sini, belum di sini, jadi bingung. Yang penting jadinya jumlah dikit asal banyak.

Jelas berbeda dengan para penulis di angkatan-angkatan sebelumnya mengenai tujuan menulis puisi?

Dulu ketika mendapat gelar penyair merupakan beban kultural dan beban moral, memiliki tanggung jawab terhadap zamannya-semangatnya. Terutama menggerakkan masyarakat itu. Kalau sekarang tanggungjawab untuk diri sendiri, sehingga bisa dikatakan puisi-puisi dalam antologi tadi sebenarnya adalah mengambil jarak terhadap realitas, terhadap masyarakat. Karena dia tidak benar-benar tahu, mereka hanya membaca. Ini bisa menjadi persoalan dan bisa juga tidak, dan malah jadi keuntungan. Media banyak, koneksi-koneksi lain. Di situlah kita berada, puisi bisa hidup sekaligus mati. Dikatakan hidup jika puisi itu bisa memberikan spirit, dan dikatakan mati jika puisi itu hanya sekedar untuk menyemarakkan saja.

Bagaimana dengan kebermaknaan puisi sekarang?

Dalam dunia sastra, ada satu hal yang ternyata masing-masing penyair sadar menulis untuk apa. Mereka tahu kapasitas dirinya. Joko Pinurbo sewaktu membaca karya-karya Chairil Anwar, dia tidak sepakat dengan Chairil. Kita hidupnya empiris, jauh dari masanya Chairil yang “Sekali berarti sesudah itu mati”, kan meledak-ledak tinggi. Sekarang tidak bisa, wong yang muncul adalah empiris, makan besok bagaimana, besok juga pulsa, hal-hal yang kita butuhkan saat ini.

Sulit ditemukan klasifikasi puisi yang muncul di masa kini?

Bisa dikatakan sekarang tidak ada klasifikasi khusus, hanya persoalan sensibilitas, teknik, dan sudut pandang saja. Karena semua sudah selesai dalam sastra Indonesia sehingga muncul kegelisahan. Maka banyak penerbit-penerbit mencoba melakukan rekonstruksi upaya konservatif, cagar budaya, dan sastra. Kenyataannya meski banyak skripsi, tesis, dan disertasi yang membahas mengenai sastra dengan teori-terorinya ya cuma nampang, seperti yang dikatakan Afrizal Malna, “Museum penghancur dokumen.” Iya, cuma dihancurkan saja, nampang-nampang di lemari. Di dalam rak untuk apa? Apa yang dikatakan Maman S. Mahayana sewaktu sarasehan budaya di Balai Bahasa (19/10) itu saya tidak sepakat karena ia bicara statistik, kalau memang karya-karya penelitian penting, tolong disebarkan secara meluas, minimal dibaca.

Lantas bagaimana dengan antologi yang marak muncul belakangan?

Sastra diantologikan dan ada di media sosial hanya sebagai alien atau makhluk asing yang hadir di sini. Ketakutan orang-orang modern bahwa kalau kita tidak menulis kita akan hilang dalam sejarah, kan tidak begitu juga. Tertulis atau tidak, sejarah memang ditulis oleh yang berkepentingan.

Winna Wijayanti

Check Also

Dilema Kuliah Sabtu PTSP

Terdampak proyek Islamic Development Bank (IDB), Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan (PTSP) kuliah Senin sampai …