Home » Opini » Siapa Berhak Jadi Pejuang Lingkungan?

Siapa Berhak Jadi Pejuang Lingkungan?

Sebelum pergantian abad 20 ke abad 21 berlangsung, tepat pada 4 September 1998, perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) terbesar di Indonesia secara resmi mengumumkan penyatuan dua perusahaan: Danone dan Aqua (PT. Tirta Investama). Di alaf pertama, perusahaan multinasional asal Perancis ini meningkatkan kepemilikan saham PT. Tirta Investama dari semula 40% menjadi 74%. Peningkatan saham PT. Tirta Investama ini menimbulkan dampak semakin besarnya pengelolaan air yang dipegang oleh perusahaan asing karena Danone menguasai sebagian besar saham Aqua-Danone.

Marwan Batubara, sekaligus perangkat Indonesian Resources Studies (IRESS) dan Komite Penyelamatan Kekayaan Negara (KPK-N) pernah menulis bahwa Aqua-Danone menguasai 80 persen penjualan AMDK berbentuk galon. Sedangkan untuk keseluruhan bisnis AMDK di Indonesia, Aqua menguasai 50 persen pasar.

Saat ini Aqua memiliki 17 pabrik yang tersebar di Jawa, Sumatra, Bali, dan Sulawesi. Pabrik yang ke-17 ini baru diresmikan tanggal 20 Juni 2013 terletak di Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Sampai saat ini, Aqua-Danone terus melakukan ekspansi eksploitasi sumber daya air ke seluruh pelosok negeri.

Dalam laporan Pemantuan Dampak Eksploitasi AMDK “AQUA” Terhadap Lingkungan, Pabrik, dan Penduduk Sekitar Pabrik oleh KRuHA, masyarakat harus membayar karena dampak eksploitasi yang dilakukan Aqua-Danone. Berkurangnya ketersediaan air bersih untuk keperluan rumah tangga maupun pertanian menjadi masalah utama.

Peringatan kembali akan laporan KRuHA dan Marwan Batubara untuk menunjukkan bagaimana jarak waktu dua dekade lebih eksploitasi air menjadi penting dan mendesak. Peringatan dihapuskannya Undang-Undang No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air juga penting di saat masyarakat dengan gempita merayakan penjualan air berbasis AMDK. Padahal, bisnis tersebut mengendarai air yang seharusnya menjadi barang sosial sebagai piranti lunaknya.

Aqua-Danone sebagai pelopor dan pemain utama bisnis AMKD telah merontokkan hak-hak masyarakat untuk mendapatkan air.

Apa yang dilakukan secara “revolusioner” Aqua-Danone itu selama dua dekade hanya direspons sekadar angin lalu. Tak ada tanggapan secara sistematis dan menyeluruh oleh negara. Alasan yang kerap dimunculkan: negara belum mampu mengikuti gaya konsumsi orang banyak. Dan perusahaan AMDK lah yang mampu membaca dan “menyediakan” air bagi masyarakat banyak.

Yang menarik adalah pergerakan yang ekstensif dari tata niaga air berbasis AMDK terkini justru dilakukan akar rumput dan baru direspons organisasi masyarakat. Dengan caranya yang alamiah, masyarakat akar rumput ini menyapa AMDK.

Semisal warga Padarincang, Banten menyapa kehadiran Aqua-Danone di wilayahnya dengan menolak secara tegas di tahun 2008.  Mereka meyakini kehadiran perusahaan itu akan berdampak pada rusaknya lingkungan dan kerugian warga.

Warga menyapa kehadiran Aqua-Danone dengan memasang spanduk bertuliskan sikap warga Padarincang yang menolak perusahaan tersebut beroperasi di wilayah mereka. Spanduk yang terpasang di tempat-tempat strategis tersebut merupakan bagian masyarakat Aliansi Peduli Lingkungan (APL).

Mereka berseliweran di Jalan Palima Padarincang untuk memberitahu bahwa dampak di Sukabumi dan Delanggu sudah cukup untuk mengamati dan menunggu bagaimana pola perniagaan air yang adil dan emansipatif tidak dilakukan oleh Aqua-Danone. Bahwa penguasaan air oleh perusahaan AMDK yang juga didukung undang-undang waktu itu hanya akan membuat masyarakat lungkrah. Dan pola pembagian dan distribusi dalam tata niaga air itu bukan bersandar pada hubungan menguntungkan, melainkan direbut melalui pelegalan undang-undang dan pembodohan terhadap masyarakat.

Sebagaimana frasa “Salam Lestari” yang dibajak oleh Aqua-Danone dijadikan sebagai dalih bahwa mereka peduli lingkungan. Aqua mencoba merealisasikan dan melaksanakan berbagai inisiatif program sosial dan lingkungan. Inisiatif Aqua-Danone tersebut berdiri di bawah empat pilar: Pelestarian Air dan Lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk, serta Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Namun ada ambivalensi di sana, dampak yang terjadi di Kampung Kuta, Desa Babakan Pari, Cidahu Sukabumi menjadi tamparan nyata bagi pihak Aqua-Danone. Pelestarian Air dan Lingkungan yang digadang-gadang mampu menutupi dampak buruk eksploitasi air ternyata tak berhasil.

Tinggi muka air sumur milik kebanyakan warga Babapan Pari maksimal hanya tinggal sejengkal (15 cm). Di desa Kuta bahkan kering sama sekali. Warga harus berjalan sejauh dua kilometer untuk mendapatkan air menuju kebun yang namanya Kebun Enau. Padahal sebelumnya, warga tak perlu berjalan ke Kebun Enau ketika sumber air belum dieksploitasi.

Yeyen (63), selaku Ketua RT Kampung Kuta bahkan sampai meminta Aqua-Danone untuk membuatkan instalasi air. Aqua-Danone pernah membuatkan dua instalasi sumur, namun dua-duanya tak berfungsi sampai saat ini. Bahkan kedalaman sumur yang digali mencapai 50 meter. Sampai saat ini, Yeyen masih berjibaku dengan susahnya mendapatkan air dan menengahi konflik warga dengan pihak Aqua-Danone.

Laku yang ditunjukan Aqua-Danone dengan slogan maupun jargon dalam setiap iklanya ternyata mampu meluluhkan hati masyarakat. Jika itu yang terjadi, seluruh wilayah yang memiliki cadangan air bakal diserobot tanpa ampun, kasar, namun dengan kejadian biasa-biasa saja di negeri tanpa hukum yang adil.

Mungkin seperti itulah potret mereka yang berdiri untuk lingkungan. Kita tinggal memilih siapa yang lebih berhak kita tasbihkan sebagai pejuang lingkungan. Aqua-Danone dengan “Salam Lestarinya”, atau masyarakat APL di Padarincang, maupun Yeyen selaku ketua RT Kampung Kuta.

Prasetyo Wibowo

Analisis mengenai Air Minum Dalam Kemasan secara lengkap akan tersaji dalam Majalah EKSPRESI Edisi XXVIII – Memburu Aliran Emas Biru yang akan terbit bulan ini.

Check Also

Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

Pemain Semen Padang FC (SPFC), Vendry Mofu menerima umpan lambung tepat di kotak penalti Persela, …