Home » Margin » Seolah Budaya Harus Teralienasi dari Agama

Seolah Budaya Harus Teralienasi dari Agama

Sarasehan budaya bertemakan "Jalan Sunyi Menuju Religiusitas" dihadiri oleh ketiga pembicara; KH. Abdul Muhaimin, Prof. Abdul Munir Mulkan, dan Prof. Suminto A. Sayuti. Berlangsung di Stage Tari FBS, Sabtu (7/11). | Foto: Winna/EKSPRESI

K.H. Abdul Muhaimin, salah satu pembicara dalam Sarasehan Budaya BEM FBS, menuturkan persoalan agama dan budaya yang muncul dalam masyarakat dewasa ini. Sabtu (7/11), dengan mengusung tema “Jalan Sunyi Menuju Religiositas”, di awal perbincangan ia menyampaikan satu kritik terhadap pemilihan tema. Mestinya menggunakan kata “hening” bukan “sunyi” tanpa alasan panjang lebar ia lanjut dengan penyempurnaan, “Harusnya menggunakan Jalan Hening Menuju Religiositas,” tuturnya setelah dipersilahkan Moderator, Arda Sedyoko untuk menyampaikan pertama persoalan agama dan budaya.

Persoalan budaya pada mulanya dibahas dari sudut khasanah Nusantara. Menurut Kyai, “Semua yang ada dalam budaya masih dalam bentuk satu bulat utuh, belum ada yang terpisahkan antara kehidupan spiritual dengan kehidupan yang profan.” Terjadinya pemisahan antara keduanya diperkirakan setelah hadirnya paham-paham kapitalisme. Paham tersebut kemudian mengomoditaskan budaya dan seni menjadi bagian dari intertainment yang ditransaksikan sedemikian rupa.

Kalau kita mencoba merunut, minimal sesuai dengan yang Kyai amati, semua hal mengenai musik-musik etnik pada dasarnya merupakan pengantar ritus itu sendiri. “Tidak heran kalau musik tersebut kemudian sangat monoton, sehingga dalam ritus-ritus keagamaan juga banyak yang monoton,” terang Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede ini. Kita tidak bisa memandang nada-nada itu dari perspektif yang ada hadisnya, karena memang persoalan budaya lokal tidak selalu bisa dikaitkan dengan hadis. Ada ketidaktepatan dalam memandang fenomena budaya dan seni, dari fiqih atau hukum, bahkan dari perspektif teologis yang kemudian menghadirkan vonis pada masyarakat lokal dengan pandangan sesat atau kafir.

Warna-warna keagamaan yang puritan kini sudah makin keliatan karena ada intervensi transnasional. Menyebabkan seolah-olah budaya dan seni adalah musuh dari agama. Dan bahayanya sekarang agama dianggap sebagai musuh peradaban. “Kita bisa memahami Islam dari sudut sufisme yakni agama justru punya sisi kemanusiaan. Sekarang juga agama sudah jadi musuh gender, seolah gender itu Barat, dan Barat itu Kristen dan lain sebagainya,” tegas Kyai. Sementara kalau diamati secara menyeluruh, kehidupan dalam keagamaan memiliki penghormatan terhadap perempuan yang sangat luar biasa. Contohnya, ketika masa sebelum nabi, perempuan dianggap sebagai rumput yang dapat diinjak dan diberikan untuk orang lain. Nabi memberikan penghormatan yang sangat teologis, yakni surga berada di telapak kaki ibu.

Sejak masa awal, Islam mengadopsi budaya bagian dari ritus, dan dari ajaran-ajaran agama. Persoalannya kemudian kajian keagamaan sekarang menjadi ahistoris, terjebak pada pemaknaan yang tekstual. Akhirnya menjadikan agama sangat simbolis. Agama menjadi culture atau local wisdom, bahkan sekarang divonis menjadi budaya lokal yang sebenarnya mengotori agama itu sendiri. Kasus-kasus itulah yang sebenarnya menjadikan agama sangat formalistik. “Kalau tidak jenggoten kurang kafah katanya,” jelas Kyai. Ia melanjutkan lagi, “Saya kemarin diundang di Masjid Raya Jambi, ada yang mengikuti seusai keluar masjid, terus bilang ‘Bapak ini kan ustad kenapa tidak mengikuti sunnah nabi yang mestinya memelihara jenggot, maka nanti bakal digandoli malaikat-malaikat bergelantungan.’ Saya bilang saya ini sudah tua, tidak ada genetika, jadi kalau jenggot itu tumbuh dan malah jadi kayak kambing etawa,” candanya.

Menurut Kyai, style keagamaan seperti itu akan menjadikan warna keagamaan semakin kering dan keras. Bahkan, anti kehidupan lokal yang memang sudah diakui oleh masyarakat. Kalau kita melihat keberhasilan dakwah Islam oleh para punggawa dan para wali di Indonesia justru itu yang paling efektif dan soft, karena mereka menggunakan sentuhan budaya. Hanya saja dulu para wali atau para sesepuh kita ketika mengajarkan agama selalu dengan bahasa-bahasa simbol. Kenapa ada ketan kolak apem? Karena bagi Islam, memasuki bulan Ramadhan merupakan bulan suci. Itu disimbolkan dengan ketan dari kata khataan yang berarti ‘kesalahan’, kolak dari kata kholaqo yang berarti ‘mencipta’, dan apem dari kata afwun yang berarti ‘permintaan maaf’.

“Coba sekarang simbol-simbol itu diganti hamburger dan pizza, artinya jadi lain,” canda Kyai lagi diiringi tawa penonton. Semua itu sudah ditanamkan dari para wali untuk menanamkan ajaran-ajaran keagamaan. Kenapa orang Jawa tangkai cangkul diberi nama doran? Karena Jawa merupakan daerah agraris maka kerjaannya mencangkul, sehingga ketika mencari rezeki istilahnya doran diartikan ‘dungo nang pangeran’. Kalau mantenan kenapa di depan ada tebu ‘antep ing kalbu’. Adat cengkir ‘kenceng ing pikir’ artinya mawaddah, pisang rojo juga simbol warrahmah. “Itu simbol-simbol oleh penganut puritan, kalau mau nyari di hadist ya tidak ada, bodoh banget,” tuturnya.

Bahasa Jawa tidak sekedar bahasa komunikasi, tetapi juga bahasa etika dan bahasa rasa. Orang Inggris, jatuh itu ya fall, jatuh cinta ya fallin in love. Tapi kalau orang Jawa bisa nyekakar, ngguling, ngglimpang, kruntep, kejlungub, nah itulah yang digunakan oleh para wali mengenai rasa budaya Jawa. Kyai mengatakan kalau “Orang Jawa susah diajak bicara, wali dengan mudah memberi pengaruh, becik ketitik ala ketara, lah di dagadu diganti becik ketitik ala rupamu.”

Jadi kekayaan lokal Jawa merupakan konseptualisasi budaya karena di dalamnya terdapat muatan-muatan etika, filsafat, dan ketuhanan yang menyatu dalam bentuk budaya Jawa. Ternyata konsep kepemimpinan di Jawa memberikan istilah bahwa pemimpin tidak boleh menjadi hamba kesenangan dan hedonis. Bahasa-bahasa yang digunakan para wali ternyata disalahpahami, kidung itu bukan mantra, kidung dari kata ‘iki dungo’, kidung tolak balak yang dipuitisasi Jawa. “Pelacaan-pelacaan historis inilah yang sekarang mulai hilang, sehingga seolah kita menghayati budaya dengan agama menjadi sangat kontradiktif. Agama menjadi tidak soft, seolah budaya harus teralienasi dari agama,” ujar Kyai sembari mengakhiri pembahasannya dalam sarasehan yang bertempat di Stage Tari Tedjakusumo FBS UNY.

Winna Wijayanti

Check Also

Penyelamat Arsip Musik Indonesia

David Tarigan adalah pendiri Aksara Records, juga salah satu inisiator pengarsipan digital rilisan fisik piringan …