Home » Resensi » Buku » Ketika Kita Pulang Melawan Lupa

Ketika Kita Pulang Melawan Lupa

Judul: Demi Damai

Penulis: Zubaidah Djohar dan Andy Yentriyani

Cetakan Pertama: 2015

Penerbit: Jalasutra

Tebal: 328 Halaman

Menurutmu, perbedaan itu laknat?

Konflik itu petaka?

Tidak

Berbeda menjadi laknat, ketika

Kita sibuk menyeragamkan manusia

Konflik menjadi petaka, ketika

Kita menawarnya dengan darah dan kematian

(Bila berani, ~Dalam Zikir Duka~)

Sepenggal bait dari puisi berjudul “Bila Berani” karya Zubaidah Djohar di atas kiranya menjadi refleksi ketika manusia dikekang oleh suatu sistem kontrol dan kuasa yang tidak adil. Bukannya melahirkan kedamaian dan keseimbangan dalam hidup, melainkan akan membawa konflik sosial yang luar biasa. Zu, sapaan akrab Zubaidah Djohar melalui puisi-puisinya ia menyuarakan perjuangan perempuan Aceh dalam melawan ketidak adilan, baik fisik maupun psikis. Antologi puisi Zubaidah Djohar “Pulang Melawan Lupa” yang dirangkum dalam buku “Demi Damai” memandang secara kritis situasi Aceh tempat ia bermukim dan bekerja sebagai fasilitator perdamaian.

Buku Demi Damai tak hanya berisi kumpulan puisi saja, buku ini juga berisi dua puluh lima esai yang mendedahkan kumpulan puisi “Pulang Melawan Lupa”. Esai-esai yang ditulis melalui berbagai sudut pandang penulisnya yang memang memiliki latar belakang profesi yang beragam, mulai dari penyair, sastrawan, filsuf, kritikus sastra, pegiat budaya dan sebagainya. Kumpulan esai ini membuat pembaca tak hanya menafsirkan makna dari puisi Zubaidah Djohar dari satu sisi, melainkan dari berbagai perspektif. Kumpulan esai ini tak hanya menyoroti isi dari puisi Zubaidah Djohar. Melainkan juga saling terkait dengan permasalahan seperti pemenuhan Hak Asasi Manusia, perdamaian, dan demokrasi. Puisi Zubaidah mengacu pada perjuangan rakyat Aceh pada masa konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah.

Buku Berjudul “Demi Damai” bisa sebut sebagai buku antologi yang komplit. Berbeda dari antologi puisi pada umumnya, buku ini tak hanya berisi kumpulan puisi. Mulai dari pengantar editor oleh Andy Yentriyani yang sedikit banyak mengulas isi dari permasalahan yang diangkat dalam puisi-puisi Zubaidah, juga analisis terhadap esai-esai yang mendedah puisi Zubaidah. Pengantar dalam buku ini bisa dibilang merangkum isi dari kumpulan esai dari isi buku “Demi Damai”.

Bagi saya yang tak terlalu mendalami puisi, Kumpulan Puisi “Pulang, Melawan Lupa” dari sisi pemilihan kata/diksi cukup mudah dinikmati dan dicerna. Dalam salah satu esai yang menelisik kumpulan puisi ini, Gadis Arviana salah seorang dosen filsafat Universitas Indonesia menjelaskan kata-kata dalam puisi Zubaidah Djohar bukanlah untuk dianalisis ataupun dikritisi. Namun, lebih untuk dinikmati dan dirasa. Dan mendedah puisi-puisi yang lahir dari seorang feminis tidak hanya sebatas menggunakan teori sastra, tidak hanya semiotik. Melainkan melalui sebuah proses terbentuknya budaya itu sendiri.

Setelah perjanjian Helsinki dan disepakatinya negosiasi damai, Aceh menjadi daerah yang memiliki otonomi khusus, tentang kewenangan pelaksanaan syariat Islam sebagai identitas kota yang khas. Sayangnya, perempuan menjadi subjek pengaturan yang utama dan menjadi pihak yang paling dirugikan akan adanya otonomi tersebut. Berbagai persoalan tentang perempuan, baik verbal maupun fisik mengincar mereka yang dicap menyimpang dari aturan.

Kondisi yang sebenarnya tak banyak beranjak ketika Aceh menjadi Daerah Operasi Militer (DOM). Saat menjadi DOM para perempuan beserta anak-anaknya menjadi penjaga rumah dan menjalankan fungsi ekonomi rumah tangga. Sedangkan para suami mereka berjuang di hutan, bukit, ataupun sekadar bersembunyi. Perempuanlah yang terkadang harus berhadapan dengan moncong senjata api ketika para tentara mencari suami mereka. Dan lantas apakah Aceh benar-benar telah damai?

Arde Candra Pamungkas

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …