Home » Berita » Susu Jadi Favorit di Kineidoscope 2015

Susu Jadi Favorit di Kineidoscope 2015

Ekspresionline.com – Film pendek berjudul Susu yang disutradarai Mochammad Bayu Seto menjadi film favorit penonton pada acara Kineindoskop yang digelar Sabtu (19/12) oleh MM Kine Club UMY. Salah seorang penonton yang hadir, Ralibi Al Hafsi mengatakan “Ada makna tersendiri yang menarik dari film ini. Kita diingatkan bagaimana peran ibu dulu kepada anak-anaknya.”

Pernyataan Ralibi juga diamini Arif Aulia, penonton dari Festival Film Screen UII. Ia mengatakan film Susu menjadi film yang paling disukainya. Arif mengungkapkan, “Jalan ceritanya cukup bagus tapi masih perlu ditingkatkan lagi dari segi teknik dan detailnya.”

Pemutaran film "Susu" saat Kineidokop, Sabtu (19/12). | Dok. Loop Station
Pemutaran film “Susu” saat Kineidokop, Sabtu (19/12). | Dok. MM Kine Klub UMY

Film berdurasi kurang dari 10 menit tersebut berkisah tentang seorang laki-laki bernama Danang yang kebingungan memilih antara kewajibannya sebagai kepala keluarga atau sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Dikisahkan pada film tersebut, pada suatu hari Danang didatangi oleh sang ibu yang meminta bantuan finansial. Hanya saja, kondisi ekonomi Danang yang sedang tidak baik membuatnya sulit memutuskan untuk membantu sang ibu atau tidak. Danang yang memiliki seorang anak bayi harus memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri, terutama untuk membeli susu untuk anaknya.

“Uang buat beli susu”

Bayu menjelaskan film yang rampung digarap selama 3,5 bulan tersebut mengambil tema ekonomi-sosial dan mengambil latar kehidupan banyak keluarga di Indonesia. Ditanya perihal pemilihan judul film, Bayu mengatakan, “Kita sering sekali dengar ungkapan uang buat beli susu, dari kata-kata itu kami bikin jalan ceritanya dan susu jadi semacam benang merah dari film kami.” Mahasiswa Hubungan Internasional UMY tersebut menambahkan awalnya memang ingin membuat film bertema ibu namun dikemas dengan hal lain.

Film ini menurut Bayu juga mewakili rational choice yang sering harus dihadapi oleh banyak orang dan kebanyakan orang akan kebingungan karena setiap pilihan memiliki risiko masing-masing. Oleh karena itu, sebelum penggarapan, Bayu, dkk. telah mengadakan riset lapangan. “Jalan ceritanya dibangun seiring riset,” kata Bayu. Dalam riset tersebut, Bayu, dkk. menanyakan ke laki-laki yang belum berumah tangga bagaimana sikap mereka bila dihadapkan pada pilihan membantu ibu atau memenuhi kewajiban ayah terhadap anaknya. “Mereka dengan mantap dan mudah menyebut pasti pilih ibu.” Namun, ketika pertanyaan tersebut dihadapkan kepada pria yang telah berumah tangga hasilnya mereka lebih memilih kewajiban terhadap keluarga.

Dalam proses pembuatan film, Bayu mengaku tidak mengalami banyak kesulitan. Hanya saja, ia merasa belum terlalu maksimal dalam pembuatan detail-detail cerita. Selain itu, “Sebenarnya kemarin mau eksperimen make-up dan bikin special effect tapi hasilnya masih belum maksimal,” ungkap Bayu. Hal tersebut juga dirasakan oleh Ralibi, ia mengatakan “Pengambilan gambarnya harus bisa lebih dieksplorasi. Mungkin bisa ditambah beberapa efek agar penggambaran suasananya lebih bagus.”

Dalam gelaran acara tersebut, selain Susu juga ditayangkan film pendek lain berjudul Dito Belajar karya Arizal Fikri dan Pamali karya Imam Yudhanto. Berbeda dengan Susu, Dito Belajar mengambil tema pendidikan dan kejujuran.  Sementara itu, Pamali yang bergenre horor berkisah tentang mitos yang berkembang di masyarakat Sunda. Sutradara Pamali, Iman Yudhanto mengatakan, “Konon di Sunda tidak boleh memotong rambut ketika malam hari, kalau dilanggar akan kedatangan makhluk halus yang jahat. Dari situ kami bikin naskah film ini.”

Hesti Pratiwi Ambarwati

Check Also

Aliansi Mahasiswa Proklamasi Yogyakarta Menuntut Pencabutan Surat Drop Out

Massa Aliansi Mahasiswa Proklamasi (AMP) Yogyakarta di gedung DPRD DIY. | Sunardi/EKSPRESI Massa yang tergabung …