Home » Resensi » Musik » Sinestesia, Enam Warna Pengaduk Jiwa

Sinestesia, Enam Warna Pengaduk Jiwa

Artis: Efek Rumah Kaca

Genre: Pop

Label: Jangan Marah Records

Rilis: Desember 2015

Efek Rumah Kaca (ERK) akhirnya mengeluarkan album ketiga berjudul Sinestesia setelah 7 tahun sejak Kamar Gelap (2008). Album ini diawali dengan rilisnya single berjudul Biru dan Putih sebagai pembuka menuju keseluruhan album. Keduanya memiliki durasi yang panjang dan menjadi daya tarik tersendiri dikarenakan beberapa fragmen merupakan potongan dari lagu-lagu lama ERK. Durasinya yang panjang membuat rasa penasaran tentang apa makna yang ada pada setiap lagunya. Enam lagu pada Sinestesia seluruh judulnya adalah warna yaitu: Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, dan Kuning. Konsep album ERK menjadi sangat berbeda dibanding dua album sebelumnya.

Dibuka oleh Merah dengan dentuman drum juga teriakan Cholil Mahmud sang vokalis, lagu ini berisi tiga fragmen yang berbeda. Gabungan dari Ilmu Politik, Lara di Mana-mana, dan Ada-ada Saja ini menceritakan tentang kemirisan politik dan bagaimana penyikapan dari beberapa sudut pandang terhadapnya. Langsung diketahui dari awal lirik, “politik terlalu najis, dan kita teramat miris/dan kita dorong mereka, padu jadi kepala/politik terlalu dramatis, dan kita teramat praktis.”

Dilanjutkan dengan lagu Biru yang merupakan gabungan dari Pasar Bisa Diciptakan dan Cipta Bisa Dipasarkan menjelaskan bagaimana sebuah “pasar” itu bisa diciptakan, hal yang sama terjadi pada citra manusia. Jika anda sudah pernah mendengarkan lagu tentang orang hilang pada tahun 1998 berjudul Hilang, maka anda akan menemukannya lagi di salah satu bagian lagu selanjutnya dalam album ini. Lagu yang telah dirilis ERK pada tahun 2010 tersebut dipasang sebagai pembuka lagu Jingga dengan penambahan pengiring vokal di tengah lagu. Jingga merupakan lagu yang penuh emosional, gabungan antara Hilang dan Nyala Tak Terperi. Instrumental yang berjudul Cahaya, Ayo berdansa.. di bagian akhir lagu menambah kesan gelap. Durasi 13 menit 29 detik membuat Jingga menjadi lagu paling panjang di album ini.

Dilanjutkan dengan Hijau, gabungan lagu Keracunan Omong Kosong dan Cara Pengolahan Sampah menjadi trek favorit saya. Dengan irama yang catchy nan cepat, lagu ini seperti sedang bercerita tentang seorang intelektual dengan argumen yang tidak masuk akal. Isinya hanya melulu tentang kebencian. Juga tentang masalah sampah yang dikemas dengan apik.

Gabungan lagu Tiada—yang didedikasikan untuk Adi Amir Zaitun—dan Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan) dibawakan dengan sangat syahdu dan terpadu dalam lagu Putih. Menceritakan bagaimana kematian dan kelahiran dengan sudut pandang aku berikut makna kematian dan kelahiran itu sendiri. Tercermin dalam lirik, “lalu pecah tangis bayi/ Seperti kata wiji/ Disebar biji-biji/ Disemai menjadi api.

Terakhir Kuning, gabungan lagu Keberagamaan dan Keberagaman dimulai dengan intro yang panjang. Lagu dengan tempo lambat ini menceritakan tentang konsep dasar keagamaan dan dilanjutkan tentang keberagaman. Dibuka dengan lirik, “Terjerembap demi akhirat/ akalnya lenyap, hati berkarat/ hati berkarat, cacat, pekat, jahat,” yang terus diulang-ulang.

Seluruh lagu dalam Sinestesia mencoba memberikan rasa petualangan yang sarat makna tentang kehidupan dan membawa kita pada ruang yang mengaduk jiwa pada setiap liriknya. Kumpulan warna ini membahas masalah politik, pasar, keadilan, citra, kematian, kehidupan juga pada hal-hal yang belum selesai. Sudah tentu butuh beberapa kali petualangan dan tenaga ekstra untuk itu.

Danang Suryo Laksono

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …