Home » Resensi » Darmaning Sang Kacanegara: Potret Pemimpin Bangsa

Darmaning Sang Kacanegara: Potret Pemimpin Bangsa

main resensi teater

 

Darmaning Sang Kacanegara, sebuah repertoar yang dihadirkan oleh rekan-rekan Unit Kegiatan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa  Seni Tradisi, Universitas Negeri Yogyakarta (UKM Kamasetra UNY) yang memiliki substansi dan ambisi eksistensi. Substansi yang ranum  dalam perbincangan seni dan budaya juga perenungan diri, selain untuk memvisualisasikan garapan yang tak sekadar enak dipandang ketika diatas pentas. Eksistensi yang berarah pada mengetengahkan seni tradisi diderasnya arus dunia digital yang semakin akut menjangkiti generasi muda.

Tak ada yang berbeda dan aneh ketika pertunjukkan ini dipresentasikan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Kamis, 31 Maret 2016. Karena memang TBY adalah rumah bagi setiap pementasan yang menghiasi Jogja dengan barometer kebudayaanya. Namun, menjadi terlalau berani dan istimewa ketika mementaskan pagelaran wayang kulit dengan sasaran generasi muda. Generasi muda urban yang memiliki suara mayoritas akan makna “kekinian”. Hal ini menantang sebab kekinian berkiblat pada modernitas, gaya hidup, bahkan kelatahan akan sosial media, sedangkan seni tradisi seolah menjadi antitesisnya. Hal ini merupakan tantangan tersendiri untuk mewujudkan ambisi pencapaian tersebut. Lantas, berhasilkah produksi UKM Kamasetra UNY ? di usianya yang sudah 35 tahun? dilirik oleh mereka yang katanya mandeg akan gagasan dalam konteks kesenian tradisi?

Sekilas Cerita

Syahdan pementasan ini berlatar di Kahyangan Jonggring Saloka, dimana terjadi pertempuran yang disebabkan oleh seorang raksasa dari Kahyangan Giling Wesi yang ingin mempersunting Dewi Suprabawati. Bethara Guru lantas mengutus Bethara Narada untuk segera mencari seorang yang mampu mengalahkan raksasa tersebut. Pilihan tersebut jatuh kepada Sang Kacanegara, yang tak lain adalah Gatot Kaca, putra dari Werkudara dan Dewi Arimbi. Gatot Kaca pun mampu mengalahkan Giling Wesi. Namun, dengan menangnya Gatot Kaca belum menjadi akhir dari segalanya.

Tantangan demi tantangan silih berganti. Ketika Gatot Kaca akan dinobatkan sebagai Raja di Pringgondani, ia harus diuji dengan berbagai macam cobaan. Dengan menjalani rintangan dan hambatan yang silih berganti, membuat Gatot Kaca menjadi ksatria yang teteg, tatag, dan tanggon. Klimaks dari pementasaan ini adalah di peperangan Bharata Yudha  yang maha dahsyat di Padang Kurusetra.  Gatot Kaca mengemban tugas menjadi senopati. Ia harus melawan Pamannya sendiri, yang tak lain adalah saudara tertua Pandawa, yakni Basukarna.

Peperangan berlangsung begitu dramatis, sebenarnya Gatot Kaca mampu untuk menghalau senjata Kunta Wijayadanu yang telah di lesatkan oleh Basukarna, bahkan senjata itu tak mampu sampai kepadanya. Akan tetapi, ia harus rela menyempurnakan laku ksatrianya karena ia memang ditakdirkan oleh Dewata untuk purna dengan senjata tersebut. Akhirnya, Gatot Kaca gugur. Gugur bukan karena ketidakcakapan dalam bertempurnya, tetapi keikhlasan dirinya dalam menjalani takdir yang telah digariskan oleh Dewata.

Renungan

Kisah ini memberikan arti yang mendalam bagi perenungan kita bersama. Bagaimana mungkin seorang yang telah berjuang demi kebaikan dan kebenaran lantas rela begitu saja untuk dicabut nyawanya oleh Sang Maha Kuasa. Jika dinalar lebih jauh padahal Gatot Kaca adalah seorang senopati yang harus terus melawan musuh. Keikhlasanlah yang memberi ruang akan kebesaran hati seseorang. Begitu juga dengan kebesaran hati sang Kaca Negara yang mampu memberi dimensi arti lain akan sebuah kekuasaan dan memberi nilai pengorbanan. Bahwa ia memiliki spiritualitas yang tinggi akan kedekatannya dengan Sang Maha Esa, tak larut dengan kesaktian dan keampuhannya. Ia mengetahui kapan harus berhenti tanpa membawa kedigdayaan dirinya, lantas luruh dan moksa dengan keharuman namannya. Ternyata begitu dalam nilai yang dapat kita renungi dalam pengorbanan yang dilakukan Gatot Kaca.

Dengan hadirnya pertunjukkan ini, seolah UKM Kamasetra UNY ingin kembali menggaungkan nilai-nilai yang terdapat di setiap pementasan wayang berikut dengan latar suasana dan yang terkandung didalamnya. Bahwa dalam pementasan wayang tak hanya berbicara mengenai peperangan di Bharata yudha, tetapi juga berbicara lebih pada sisi-sisi karakter tiap tokohnya. Ketika kita menyelami dan memaknai lebih dalam, tentu akan menambah rasa spiritualitas di dalam diri kita dalam manjalani laku hidup ini.

Sepertinya pertunjukkan Darmaning Sang Kaca Negara ini jika kita kaitkan dengan Indonesia saat ini maka relevan. Bagaimana Indonesia merindukan sosok pemimpin ideal seperti Gatot Kaca. Dimana Gatot Kaca adalah seorang yang ditakdirkan lahir menjadi ksatria dan purna dengan jiwa ksatria. Ia tidak larut akan kedigdayaan dirinya maupun kekuasaan yang telah berada digengamannya. Ketika memang sudah waktunya untuk purna, ia rela melepas semua yang telah ada digengamannya bahkan nyawanya sendiri sebagai wujud baktinya terhadap apa yang ia perjuangkan, yakni kebajikan dan kebenaran.

Kolaborasi

Dalam pementasan kali ini UKM Kamasetra UNY menepati janji tertulisnya. Pentas yang bertajuk “Pentas Kolaborasi Wayang Kulit Wong” menyajikan wayang kulit dan wayang wong secara bersamaan. Namun, seolah ada yang janggal dengan pertunjukkan ini. Karena wayang kulit dan wayang wong adalah dua hal wujud pementasan yang berbeda. Wayang kulit menggunakan kelir sebagai panggungnya dan wayang kulit sebagai lakonnya,   sedangkan wayang wong menggunakan pemeran orang sebagai tokoh-tokohnya dan benar-benar panggung sebagai media pentasnya. Kolaborasi yang dimaksud disini ternyata mengolaborasikan antara wayang kulit dengan wayang wong dalam satu ruang dan waktu yang bersamaan. Selain itu, ternyata juga terdapat wayang sandosa.

Kejutan dalam pementasan ini tidak hanya terletak pada kekuatan kolaborasinya. Ternyata pementasan ini terdapat dua Dhalang dan dua kelir. Masing-masing menggunakan gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Masing-masing kelir ditempatkan pada sisi kanan dan kiri panggung. Kejutan tidak berhenti di situ, di tengah panggung terpasang kelir besar dengan enam dhalang sekaligus untuk memainkan wayang sandosa. Sementara panggung utama digunakan sebagai media  wayang wong berikut dengan garapan tarinya. Sebuah garapan kolosal yang komplit dengan menggabungkan antara seni pedhalangan, seni karawitan, seni tari,  dan teater tradisi. Nampaknya hal inilah yang coba ditawarkan UKM Kamasetra UNY dalam menjadikannya magnet pemikat bagi para generasi muda untuk datang mengapresiasi pertunjukkan ini.

Benar saja, pementasan ini dihadiri lebih dari 600 pengapresiasi seni tradisi dengan mayoritas penonton adalah dari generasi muda. Bahkan mereka juga harus membeli tiket untuk menyaksikan pertunjukkan ini. Dengan demikian ada kesadaran generasi muda untuk mengapresiasi sebuah pertunjukkan seni tradisi, meski mereka harus membeli tiket sekalipun.  Secara eksistensi,  pencapaian pertunjukkan ini berhasil.

Tidak hanya itu, secara substansi, UKM Kamasetra UNY sekali lagi mampu  menampilkan dan mengetengahkan suguhan seni tradisi yang mampu menarik minat generasi muda. Tentu saja suguhan yang tak hanya menampilkan estetika diatas pentas, tetapi perenungan setelah pentas. Akhirnya, semoga dengan pemantik yang telah dipresentasikan oleh UKM Kamasetra UNY, semakin banyak para penikmat seni tradisi dari generasi muda. Harapan terbesar setalah mereka mampu mengapresiasi, lantas tergugah untuk menekuni seni tradisi.

Arda Sedyoko (Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNY  2009)

 

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …