Home » Resensi » Buku » Perempuan di Persimpangan Kiri Jalan

Perempuan di Persimpangan Kiri Jalan

leila_bigJudul                : Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina

Pengarang      : Sarah Irving

Penerbit          : Marjin Kiri

Penerjemah   : Pradewi Tri Chatami

Tahun terbit  : Februari 2015

Tebal                : vii + 198

“Kau tak bisa pensiun dari perjuangan atau keterlibatan” -Leila Khaled

Haifa pada tahun 1854 merupakan komunitas yang plural, walaupun tetap didominasi oleh penganut Islam dengan 1200an jiwa, sedangkan sisanya adalah penganut Kristen Ortodoks, Protestan, maupun Katholik, serta Yahudi. Dari kesekian komunitas, Yahudi lah yang paling kecil, hanya berjumlah 39 orang. Namun sejak awal tahun 1920an, komunitas Yahudi menjadi semakin banyak, hal ini tak terlepas dari sokongan dana Jewish National Fund dan organisasi-organisasi Zionis Amerika. Sejak itu, komunitas Yahudi semakin berkembang pesat. Hal ini berujung pada pecahnya ketegangan antara warga Yahudi dan Palestina.

Sepanjang tahun 1939, terjadi dua kasus bom yang didalangi oleh Yahudi dan menewaskan 60 orang Palestina. Di sisi lain, beberapa orang Arab dan Yahudi juga menjadi korban atas serangan balik yang dilakukan orang Palestina. Pada 1946, organ bawah tanah Yahudi, Palmach, menyerang sebuah kereta di Haifa yang menyebabkan ditangkapnya 3000an orang Yahudi. Orang Yahudi tak tinggal diam, setahun kemudian, Irgun (bersama Haganah nantinya merupakan cikal bakal militer Israel) menyerang pemukiman komunitas Arab di sekitar Haifa dan tak lama kemudian, komunitas Arab menyerang balik mereka. Sampai 1948, penduduk Haifa mengungsi untuk menghindari ketegangan yang terjadi, begitu pula Leila dan keluarga.

Sarah Irving, dalam bukunya, menjelaskan bahwa persoalan agama bukan pemicu utama dalam konflik Palestina-Israel. Paling tidak, tak sesederhana seperti sering diperdengarkan: lebih dari sekadar Islam, Yahudi, Tanah Yang Dijanjikan, dan orang Palestina menjadi korban. Irving, selain mengkisahkan Leila sebagai  perempuan pejuang, juga berusaha mengubah pandangan awam tentang konflik Palestina-Israel.

Tak banyak yang tahu bahwa dalam perjuangan Palestina, organ sayap kiri mempunyai andil besar. Paham revousi macam Che Guevara dan aksi angkat senjata adalah tiang-tiang dari perjuangan Palestina itu sendiri. PFLP (Popular Front of Liberation Palestine) adalah satu di antara sekian organ sayap kiri yang turut mengangkat sejata dalam upaya kemerdekaan. Organ ini adalah tempat Leila bernaung. Maka, melihat perjuangan melalui kacamata politik kiri menjadi penting adanya demi memahamkan kita akan konflik Palestina itu sendiri.

Leila, ikon perjuangan

29 Agustus 1969, di bandara Damaskus, Leila bersama rekannya, Sallim Iswaawi, melancarkan aksi pembajakan pesawat. Pembajakan pesawat tersebut semata-mata agar dunia tahu bagaimana situasi Palestina. Pada waktu itu, media komunikasi tidak semudah sekarang, maka untuk menarik perhatian internasional, pembajakan pesawat yang masih tergolong peristiwa baru dianggap sebagai cara yang tepat.

Misi pembajakan tersebut berhasil dilakukan dengan lancar, setali tiga uang, bagi PLFP, selain misi beres, Leila juga dikenal luas berkat penuturan para saksi dan pemberitaan media lokal maupun internasional. Hal ini menguntungkan, karena dengan adanya ikon, konflik Palestina akan lebih diekspos media. Syahdan, kesuksesan yang sekaligus permasalahan bagi Leila dalam perjuangannya.

Buku ini tak hanya mengisahkan konflik Palestina-Israel dan perjuangan Leila, tetapi juga menyuguhkan permasalahan-permasalahan gender yang dihadapi pejuang-pejuang wanita lainnya. Leila, setelah tak lagi mengangkat senjata, dan tentu setelah berkeluarga, aktif dalam isu-isu perempuan dengan tetap berlatar belakang pembebasan rakyat Palestina. Pemikiran Leila akan memahamkan kita, bahwa standar persoalan-persoalan gender, atau feminisme, juga perdamaian, bagi rakyat Palestina itu berbeda, atau setidaknya belum seperti warga merdeka lain.

Satu hal penting lainnya dapat kita temukan dalam pernyataan Leila ketika diinterogasi penjaga keamanan Israel ketika ingin kembali ke kota Haifa. Penjaga keamanan Israel mendakwa Leila adalah teroris dan tidak menjunjung perdamaian. Dengan sigap Leila menjawab, “Perdamaian adalah ketika kami tidak kalian interogasi untuk memasuki rumah kami.” Itu akan membuat banyak orang memikirkan ulang pertanyaan: sebenarnya apa yang disebut sebagai teroris, dan apakah setiap yang mengangkat senjata adalah teroris?

Selain organ kiri yang nyata-nyata dibahas dalam buku ini, kita juga akan mengenal organ lain dengan tujuan yang sama: pembebasan Palestina. Irving, dengan data yang memadai, menyajikan sekaligus mengurai persoalan kompleks yang terjadi dalam konflik Palestina, pun dalam organ pejuangan pembebasan itu sendiri.

A.S. Rimbawana

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …

  • Prasetyo Wibowo

    Jika “…… agama bukan pemicu utama dalam konflik Palestina-Israel. Paling tidak, tak sesederhana seperti sering diperdengarkan: lebih dari sekadar Islam, Yahudi, Tanah Yang Dijanjikan, dan orang Palestina menjadi korban.” Trus opo masalahe, Ris?

  • Mahasiswa Apatis

    Masalah Politik dan Ekonomi menurutku. Agama hanya dijadikan topeng untuk menggapai berbagai tujuan.