Home » Resensi » Buka Layar: Realitas dalam Tiga Bidang

Buka Layar: Realitas dalam Tiga Bidang

Pentas Buka Layar  dengan jargon “Menuju Sampai, Menggenggam Selesai”, dipekikkan oleh anggota baru Unit Studi Sastra dan Teater (Unstrat), masih terngiang-ngiang. Pasalnya, pentas yang digelar di Stage Tari Tedjokusumo, Fakultas Bahasa dan Seni, UNY, Sabtu (16/4) memang cukup memikat hati penonton. Dari awal memasuki Stage Tari Tedjokusumo sudah diawali dengan musikalisasi puisi yang merdu karya mereka. Lampu-lampu  kecil mirip senthir yang membuat suasana semakin syahdu, di samping kanan dan kiri penonton.

Pentas Buka Layar sebenarnya adalah pentas yang disajikan oleh anggota baru Unstrat. Selain untuk memperlihatkan eksistensi Unstrat, pentas ini sebagai wadah bagi anggota baru belajar menyajikan pementasan. Pentas ini menampilkan tiga bidang yang berbeda di Unstrat, yaitu Sinematografi, Sastra, dan Teater.

Di bidang Sinematografi menghadirkan film pendek yang diberi judul Hitam, Putih. Film pendek garapan Agung Lilik tersebut berkisah tentang seorang perempuan yang mengagung-agungkan cinta, hingga akhirnya ia disadarkan oleh teman barunya untuk belajar mencintai Sang Maha Pemilik Cinta. Proses pencarian cinta dikemas secara sederhana, tetapi mengena. Mulai dari percakapan antar tokoh, musik, sampai pengambilan angle kamera sangat mereka perhitungkan. Untuk ukuran mahasiswa memang hasilnya tidak mengecewakan.

Selama pemutaran Hitam Putih, para penonton benar-benar fokus menonton. Sampai-sampai mereka terhanyut dalam cerita. Ketika seorang tokoh mengucapkan “Assalamu’alaikum” untuk pertama kali, serentak penonton menjawab “Wa’alaikum salam” sambil tertawa. Akan tetapi, pada adegan akhir ketika tokoh tersebut mengucapkan salam lagi, penonton sudah tak menjawab salamnya karena suasana dalam film sudah berubah menjadi sedih. Dari situ kita bisa mengetahui kalau penonton benar-benar dalam cerita. Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari film pendek ini, yakni kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak pantas menyalahkan-Nya walau seberapa pun besar cobaan yang diberikan kepada kita.

Lalu, di bidang Sastra menampilkan sajian eksperimentasi sastra. Berangkat dari sebuah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Pelajaran Mengarang. Cerpen tersebut pertama kali dimuat di harian Kompas 5 Januari 1992 dan terpilih sebagai cerpen pilihan Kompas pada tahun 1993. Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini, menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar bernama Sandra yang sangat membenci pelajaran mengarang. Karena ketika Ibu Guru Tati memberikan tiga pilihan judul kepada 40 muridnya, ia meresa tidak punya  pilihan. Ia harus benar-benar mengarang. Sandra merasa teman-temanya tidak memiliki kendala apa pun dalam mengarang, tetapi tidak bagi dirinya. Sampai akhirnya waktu mengarang pun telah habis, kertas yang tadi hanya dipandang oleh Sandra sekarang tertulis:

 Ibuku Seorang Pelacur…

Begitulah isi cerpen Pelajaran Mengarang. Unstrat mementaskan cerpen tersebut oleh empat pementas yang semuanya perempuan dan satu figuran laki-laki. Empat tokoh perempuan tersebut, yaitu Sandra (dua pemeran), Ibu Guru Tati, Mama Sandra, dan Laki-laki Hidung Belang. Sebenarnya pesan yang terkandung dalam cerpen berhasil tersampaikan. Akan tetapi, sangat disayangkan vokal beberapa pemain tidak terdengar jelas di area penonton. Jadi, penonton hanya mampu menangkap inti-intinya saja. Tidak hanya penampilan pada eksperimentasi sastra ini saja, vokal pemain yang tenggelam juga terjadi pada penampilan berikutnya.

Apresiasi yang tidak boleh terlewatkan adalah konsep dimunculkannya tokoh Sandra menjadi dua pemain. Pemain pertama, tokoh Sandra sebagai anak-anak. Pemain kedua adalah tokoh Sandra yang bermonolog menyampaikan isi hati dan pikirannya. Hal ini sebenarnya yang membuat makna dalam cerpen dapat tersampaikan. Jika tokoh Sandra hanya dimainkan sebagai tokoh anak-anak saja, belum tentu keseluruhan makna dalam cerpen dapat tersampaikan dan belum tentu berhasil membuat tepuk tangan penonton bergemuruh.

Berikutnya di bidang Teater mementaskan Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi adaptasi naskah Gusmel Riyadh yang diperankan oleh delapan tokoh. Di antaranya empat Ibu-ibu, Hansip, Pak RT, Suami, dan tokoh perempuan benama Zus. Pementasan yang dikemas secara realis ini mengundang banyak tawa. Dari backsound musik yang menggelitik sampai tata setting yang menggambarkan masyarakat urban pada kenyataan membuat kesan lucu tersendiri dalam pemantasan ini. Tawa penonton semakin meledak ketika salah satu tokoh Ibu-ibu masuk untuk memerankan penjaja sayuran dengan logat Betawi sambil menuntun sepeda onthel.

Tawa penonton pada pementasan ini bisa dibilang tidak berjeda. Setelah tawa sebelumnya selesai disambung dengan tawa-tawa berikutnya yang membuat perut semakin sakit. Sampai puncak kelucuan pementasan ini adalah ketika para pemain menuruni panggung dan menuju ke area penonton untuk mencari tokoh Zus yang sedang asik mandi sambil bernyanyi. Sontak penonton kaget karena tidak menyangka akan ada adegan tersebut. Ternyata Zus muncul dari salah satu bilik kamar mandi di area penonton. Itu adalah salah satu trik buat penonton biar penonton tidak bosan dengan suatu pementasan drama walau pementasan tersebut berkonsep realis komedi.

Akhirnya, pementasan ini bisa dibilang seru. Secara keseluruhan pentas Buka Layar tahun ini seru dan sangat menghibur. Apalagi tidak dipungut biaya. Seharusnya, pementasan-pementasan seperti ini sangat diperbolehkan memumut biaya. Memang ketika ada pemungutan biaya akan berdampak pada kuantitas penonton. Akan tetapi, jika kita melihat penyelenggara sebuah pementasan tidak ada imbal balik dari kita, rasa-rasanya kita sebagai penonton sangat egois. Kita hanya mau menikmati manisnya saja tanpa mempedulikan ada yang telah menelan pil pahit demi sebuah “manisan” yang telah kita nikmati.

Ghozali Saputra

Check Also

Memotret Sisi Lain Dunia Fotografi Indonesia

Judul buku: Photagogos: Terang-Gelap Fotografi Indonesia Penulis: Tubagus P. Svarjati Tebal: xxix + 201 halaman …