Home » Opini » Mengembalikan Republik Bulutangkis

Mengembalikan Republik Bulutangkis

Bulutangkis adalah olahraga yang secara rutin menyumbangkan piala kemenangan untuk Indonesia dari masa ke masa. Indonesia lebih dikenal dunia berkat prestasi olaharaga ini. Olahraga yang konon lahir di Tiongkok ini memunculkan beberapa nama atlet pengharum bangsa Indonesia. Di era 70-an, nama Rudy Hartono Setiawan tidaklah asing di telinga pecinta bulutangkis Indonesia. Berhasil meraih juara All England sebanyak delapan kali dan Piala Thomas empat kali, membuat namanya tercatat dalam Guiness Book of Records pada tahun 1982 silam.

“KING” adalah sebuah film yang terinspirasi dari generasi emas kedua bulu tangkis Indonesia, Liem Swie King. Ia berhasil mempersembahkan piala All England sebanyak tiga kali dan terkenal dengan julukan The King Smash alias raja smes. Pada 1992, Indonesia untuk pertama kalinya berhasil meraih medali emas Olimpiade Barcelona. Saat itu, tunggal putra Alan Budikusuma dan tunggal putri Susi Susanti berhasil mengandaskan lawannya di partai puncak. Mereka yang saat itu menjalin hubungan asmara, membuat masyarakat menjuluki mereka “Pengantin Emas Olimpiade”.

Generasi emas Indonesia tidak berhenti disitu saja. Pada kejuaraan Olimpiade Athena 2004, Taufik Hidayat mencuat kepermukaan setelah meraih emas.        Memasuki periode 2008, prestasi Indonesia di cabang bulutangkis menurun begitu signifikan. Tercatat hanya ada beberapa nama yang muncul kepermukaan. Pada ajang Olimpiade 2008, Maria Kristin Yulianti berhasil membawa pulang medali perunggu. Walaupun hanya medali perunggu, hal tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa, karna minimnya prestasi yang didapatkan di sektor tunggal putri beberapa tahun belakangan.

Terlepas dari rentetan prestasi yang di raih, bulutangkis Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah. Banyaknya atlet pelatnas Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia yang gugur di beberapa ajang menghasilkan kemunduran perbulutangkisan di Indonesia. Sebenarnya sepak terjang pelatih bulutangkis Indonesia tak perlu di ragukan lagi. Akan tetapi, teknik serta pengalaman yang di turunkan pelatih kepada pemainnya tidaklah cukup untuk mengembangkan skill pemain tersebut. Hal tersebut di tegaskan oleh pengamat olahraga Mahfudin Nigara di Kompas.com, yang menagatakan persoalan regenerasi atlet terjadi karena tak setiap atlet memiliki kesempatan bertanding yang sama. Pada cabang olahraga tertentu, pelatih cenderung bermain aman dan hanya menurunkan atlet yang telah berprestasi demi meraih atau mempertahankan medali emas.

Faktor mental merupakan salah satu kunci kesuksesan seorang atlet.  Mental yang lemah membuat sang atlet tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Sehingga sering melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dilakukan. Kesalahan tersebut lah yang dimanfaatkan lawan sehingga dengan  mudah memenangkan pertandingan. Sebuah fenomena yang sering kita lihat saat pebulutangkis Indonesia sedang bermain. Faktor lain yang menonjol adalah lambatnya regenerasi atlet-atlet bulutangkis Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan atlet-atlet senior yang selalu menjadi tumpuan diberbagai ajang. Dampaknya akan terlihat jelas pada atlet-atlet muda yang minim jam terbang. Berbeda dengan negara Tiongkok dan Korea Selatan yang berani memasang pemain-pemain muda di ajang bergengsi dunia. Hasilnya tidaklah begitu buruk. Beberapa diantara mereka berhasil menorehkan sejarah. Sebut saja Chen Long, pemain muda Tiongkok yang berhasil merangsek ke urutan 10 besar ranking dunia Badminton World Federation dan menjadi unggulan di beberapa turnamen dunia.

Di sisi lain peran Pemerintah tidak kalah penting. Dengan kucuran dana dari Pemerintah seharusnya dapat memotivasi atlet maupun staf pelatih untuk berbenah. Dana yang sebagian digunakan untuk memfasilitasi atlet dalam hal sarana dan prasarana masih dinilai kurang memadai. Buruknya fasilitas-fasilitas serta perawatan yang minim membuat gairah untuk berlatih atlet berkurang. Pengembangan dalam hal fasilitas sangatlah penting. Mengingat fasilitas yang berkualitas, akan menunjang prestasi-prestasi kearah yang lebih baik. Lagi-lagi kita kalah dari Tiongkok bahkan negara serumpun Malaysia dalam segi fasilitas. Pemerintah China dan Malaysia lebih peduli dengan olahraga di negara mereka. Mereka sadar akan fungsinya sebagai fasilitator serta perlunya pengembangan olahraga yang dicintai di masyarakat. Untuk masalah dana, Tiongkok menanggung seluruh kebutuhan atletnya. Dari urusan perumahan, makanan dan pelatih adalah urusan pemerintah.

Publik Bulutangkis nasional tentu merindukan sosok-sosok seperti Susi Susanti, Alan Budikusuma dan Liem Swie King terlahir kembali. Dengan permainan yang indah membuat penonton berdecak kagum. Serta mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan di berbagai belahan dunia. Suatu mimpi yang mungkin saja terjadi beberapa tahun kedepan. Jika semua elemen diatas sadar akan pentingnya pembinaan usia dini. Dengan tujuan untuk mengembangkan potensi serta proses regenerasi, agar tidak ada lagi garis pemisah antara atlet senior dan atlit junior. Hal tersebut tentu saja harus di imbangi dengan fasilitas yang memadai. Peran pemerintah akan terlihat nyata dengan adanya fasilitas-fasilitas yang menunjang proses latihan atlet Indonesia. Dengan demikian bulutangkis Indonesia akan kembali diperhitungkan di kancah dunia.

Muhammad Sukron

Check Also

Kembalikan Militer ke Barak

Dikuasai rezim militeristik Orde Baru selama lebih dari tiga dekade membuat bangsa ini dirasuki ideologi-ideologi …