Home » Berita » Proyek Pertama IDB Dinilai Haram

Proyek Pertama IDB Dinilai Haram

Kantor sekertariat IDB di Rektorat lantai 3, sayap selatan

Kantor sekertariat IDB di Rektorat lantai 3, sayap selatan. Foto oleh Triyo

Ekspresionline—Dalam pidato laporan tahunan rektor pada Upacara Peringatan Dies Natalis ke-52 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Sabtu, (21/5) di Auditorium UNY, Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. mengatakan bahwa pembangunan pertama proyek Islamic Development Bank (IDB) dinilai haram oleh pihak IDB. Bangunan pertama tersebut adalah Laboratorium Seni Musik dan Tari yang terdapat di Fakultas Bahasa dan Seni. Label haram tersebut mengakibatkan pembiayaan dari IDB untuk Laboratorium Seni Musik dan Tari menggunakan dana pendamping pemerintah yang bersumber dari  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia (APBN ).  “Menurut orang Arab itu haram sehingga tidak dibiayai dengan dollar atau real, akhirnya kita biayai dengan rupiah,” ungkap Rochmat.

Hal itu diamini oleh Dr. Slamet Widodo, S.T., M.T. selaku Direktur Eksekutif IDB UNY ketika ditemui di sekretariat Proyek IDB pada Rabu, (25/5). Ia mengatakan bahwa semua proyek pinjaman, entah yang berasal dari badan multilateral seperti IDB dan IMF ataupun dari negara tertentu, mensyaratkan adanya dana pendamping yang besarnya sekitar 20%. Proyek IDB sendiri komposisi pembiayaannya sebesar 80% berasal dari pinjaman dan 20% merupakan dana pendamping dari pemerintah. “Itu yang disebut rupiah murni, jadi asalnya dari APBN murni,” jelas Slamet.

Dirut IDB

Dr. Slamet Widodo, S.T., M.T. menjelaskan pendanaan proyek IDB di sekretariat Proyek IDB pada Rabu, (25/5). Foto oleh Triyo

Menurut Slamet, pihak IDB melihat nama laboratorium yang dibangun sebagai proyek pertama IDB ini tidak layak untuk didanai karena terkait dengan syar’i. “Karena bunyinya Music and Dance Laboratorium, mereka tidak berkenan. Dalam Islam hal seperti itu dianggap tabu,” tambahnya.

Lebih lanjut, Rochmat pun berpesan kepada pegiat seni di UNY agar seni yang ditampilkan tidak terlalu vulgar, “Tidak pakai baju yang hanya sampai dada, di sini mohon maaf ya dipaksa harus brukut sithik (tertutup sedikit, .red).” Rochmat mengakui bahwa hal itu memang agak aneh tetapi sesuai dengan visi UNY yang menempatkan ketaqwaan sebagai nilai penting.

Pada mulanya proyek IDB ditujukan untuk universitas-universitas di bawah Kementerian Agama, namun pada perjalanannya, universitas umum mulai mengupayakan proyek ini. UNY sendiri mulai mengupayakan pada 2006 dan baru terwujud pada 2014 lalu. Untuk selanjutnya, 13 pembangunan yang juga termasuk proyek IDB rencananya akan dimulai pada bulan Oktober-November 2016. Pembangunan itu akan dilaksanakan serentak di semua fakultas.

Triana Yuniasari

Check Also

Aliansi Mahasiswa Proklamasi Yogyakarta Menuntut Pencabutan Surat Drop Out

Massa Aliansi Mahasiswa Proklamasi (AMP) Yogyakarta di gedung DPRD DIY. | Sunardi/EKSPRESI Massa yang tergabung …