Home » Opini » Sepakbola, Sebuah Budaya Populer

Sepakbola, Sebuah Budaya Populer

Repro oleh Arci.

Tak peduli olahraga apa yang menjadi favorit Anda, hanya akan ada sedikit perdebatan dalam pernyataan bahwa sepakbola merupakan olahraga paling populer di planet ini. Anda boleh saja berlatih bulu tangkis saban Senin malam, tapi Anda juga pasti pernah mendengar bahwa Diego Maradona adalah seorang legenda sepakbola. Meskipun Anda menghabiskan akhir pekan dengan bermain tenis meja bersama kawan-kawan, Anda pasti tahu bahwa Brasil, selain pengekspor kopi utama dunia, juga pengekspor pemain bola kelas dunia. Kendati Anda sangat jago dalam melakukan lay up, sangat kecil kemungkinan Anda tidak tahu bahwa Barcelona dan Real Madrid merupakan seteru abadi. Singkatnya, sepakbola adalah olahraga paling masyhur.

Lagipula, sepakbola merupakan olahraga yang sederhana. Olahraga yang konon ditemukan Inggris ini dapat dipahami hampir semua kalangan, dan mudah diadaptasi/dimainkan hampir di seluruh penjuru bumi. Maka, tidak salah jika menyebut sepakbola sebagai budaya populer. Kepopuleran sepakbola dapat dibuktikan dengan fakta bahwa hingga Juli 2011, 193 negara tergabung dalam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Bandingkan dengan FIFA (Federasi Internasional Sepakbola) yang memiliki 208 negara sebagai anggota.

Kapitalisasi Sepakbola

Sepakbola kini tak hanya tentang sebelas orang melawan sebelas yang lain memperebutkan satu bola dan berusaha mencetak gol. Sepakbola yang dulunya hanya untuk kebugaran jasmani dan kesenangan, telah menjelma sebuah industri. Ada banyak sekali hal yang bersinggungan, langsung maupun tidak, dengan sepakbola. Baik itu politik, bisnis, sosial budaya, teknologi, dll.

Segala hal yang ada di sepakbola saat ini bisa dijual. Mulai dari siaran televisi, pemberitaan, pernak-pernik klub, seragam kebanggaan, gaya rambut, bahkan hingga kecintaan terhadap klub yang didukung. Ini semua merupakan konsekuensi logis dari pemilik klub yang telah mengeluarkan uangnya untuk berinvestasi di suatu klub kemudian belanja pemain bintang.

Ketika Sheikh Mansour membeli Manchester City, kemudian membeli Sergio Aguero hingga Raheem Sterling, tentu saja itu menguras banyak sekali “uang jajannya”. Namun, tak berselang lama “uang jajannya” tersebut kembali lagi melalui banyak jalan: sponsor, hadiah juara kompetisi, hak siar, bahkan melalui kaos dengan nama Sergio Aguero/Raheem Sterling di bagian punggung.

Adanya kapitalisasi ini berdampak pada pola hubungan klub dengan suporter. Yang sekarang sudah lebih tampak seperti produsen dengan konsumen daripada klub kebanggan dengan pendukung setia.

Contoh paling konkret yaitu mahalnya harga tiket. Bukan benar-benar bermaksud membandingkan, tetapi ini hanyalah sebuah gambaran. Seorang Brigata Curva Sud—pendukung PSS Sleman—untuk menyemangati klub kebanggaannya di tribun kuning Maguwoharjo hanya butuh merogoh kocek sebesar 20.000 rupiah. Sedangkan seorang warga lokal London Utara, ketika ingin menyaksikan Arsenal berlaga di Emirates Stadium harus mengeluarkan uang hingga 1,8 juta rupiah per pertandingan.

Belum lagi karena pasar Liga Inggris yang begitu menjanjikan di Asia, jadwal pertandingan pun diubah menyesuaikan penonton di Asia. Maka, agar warga Yogya, misalnya, bisa melihat The Northwest Derby pada pukul tujuh malam, para pemain Liverpool dan Manchester United pun harus bermain pada pukul 12 siang. Belum lagi apabila laga tersebut tidak diselenggarakan pada akhir pekan. Pasti para Manchunian dan Liverpudlian bakal melewatkan laga tersebut karena masih memiliki kegiatan lain, seperti bekerja atau bersekolah.

Atas dasar inilah lama kelamaan suporter sepakbola menjadi muak. Mereka menyuarakan protesnya, salah satunya melalui semangat “Against Modern Football”. Kampanye ini membawa prinsip bahwa kepentingan pemilik modal tidak boleh lebih berkuasa dari kepentingan pendukung setia.

Bahkan para penggemar setia Manchester United membuat klub tandingan setelah “Setan Merah” diakusisi oleh konglomerat asal Amerika Serikat. Klub itu bernama FC United of Manchester. Tak perlu waktu lama, klub ini langsung mendapat simpati dari banyak pihak. Terutama dari para suporter yang merasa diperas oleh klub kesayangannya.

Klub tak Populer paling Populer

Di tengah ingar-bingar klub-klub populer Eropa seperti Duo Manchester, Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, Juventus, PSG, dll yang kian rakus, ternyata masih ada sedikit oase. Oase ini berupa klub-klub yang jauh dari lampu sorot. Namun, jika Anda mengharapkan pembahasan tentang Leicester City, Atletico Madrid, atau bahkan Nottingham Forest, maaf, Anda sedang tidak beruntung.

Ketika klub-klub mainstream hanyut dalam arus kapitalisasi, ternyata masih ada klub-klub kecil yang peduli dengan masalah sosial. Klub-klub ini bukannya tidak terkenal, mereka malah memiliki basis pendukungnya sendiri. Sehingga untuk ukuran klub kecil mereka justru terhitung sangat populer.

FC St. Pauli. Klub yang bermarkas di kota Hamburg, Jerman, memiliki pendukung hingga 20 juta, untuk menyebut             contoh pertama. Jumlah yang fantastis ini bukannya tanpa alasan. Klub dengan lambang tengkorak ini dikenal aktif dalam kampanye antihomofobia, antirasisme, antiseksisme, antikapitalisme, hingga antifasisme—yang mana di masa lalu, Jerman justru sangat terkenal sebagai penganut fasisme.

Klub berikutnya yaitu Dulwich Hamlet FC. Klub ini berdomisili di London Selatan, Inggris, dan bermain di liga kasta ke tujuh dalam piramida liga Inggris. Mungkin jika klub dengan seragam biru-merah muda ini berdomisili di Indonesia, mereka hanya akan bertanding di Lapangan Sidokabul, Sorosutan.

Namun jangan salah, beberapa tahun terakhir, Dulwich Hamlet mengalami peningkatan jumlah pendukung yang sangat pesat. Di stadion yang hanya berkapasitas 500 orang, pada pertandingan terakhir di musim 2014-2015 mereka ditonton oleh sekitar 3000 penonton. Alasan popularitas ini tidak jauh-jauh dari apa yang dilakukan St Pauli, dengan aktif dalam menanggapi isu-isu sosial. Alasan berikutnya adalah para pendukung muda mereka yang bebas berekspresi, dan diperkirakan akan terus bertambah. Contohnya adalah, The Rabbles—sebutan pendukung Dulwich Hamlet FC—memiliki slogan “For Future Football” yang dinilai lebih membawa pesan positif daripada “Against Modern Football”.

Dua klub tersebut merupakan contoh dari klub yang populer dengan caranya sendiri. Dan seiring muaknya para pendukung klub mainstream terhadap klubnya yang semakin rakus, bukan tidak mungkin mendukung dua klub tersebut bisa menjadi tren dan kemudian dapat menjadi budaya populer.

Nazlan Syahputra

Check Also

Choirul Huda dalam Pelukan dan Hati Masyarakat Lamongan

Pemain Semen Padang FC (SPFC), Vendry Mofu menerima umpan lambung tepat di kotak penalti Persela, …