Home » Sastra » Cerpen » Obrolan Mahasiswa

Obrolan Mahasiswa

Pukul 5 sore di tahun 2015, terdengar rintihan hujan bernyanyi di atas genteng kampus, ruang 2.12, sedang ada mata kuliah agama Katolik, dari Pak Yosef, tentang kehidupan berdampingan pluralisme, untuk saling menghargai antara umat beragama. Sesi berikut tentang gender, kesetaran antara laki-laki dan perempuan, dalam hidup sebagai mahluk sosial di alam ini.
Saat keluar ruangan, ketika jam agama usai, rintihan hujan tetap berlari di atas genteng kampus. Memberhentikan langkah kami untuk kembali ke kos. Dingin mengerogoti tubuh kami, terasa tak tahan menahan derasnya aliran dingin yang mendera tubuh ini.

Terdengar ajakan dari Mei, “Bagaimana sambil menunggu hujan reda, kita menghangatkan badan di kantin basement, mungkin sambil ngobrol gitu!”

“Ya, bagus itu! Mungkin ada yang mau curhat. Kebetulan hujan, biasanya musim jatuh cinta, menurut orang sih.”

“Hmm. Ya, betul itu.”

“Bunga bermekaran di taman bunga, cinta tumbuh dalam dekapan perasaan terdalam. Hahaha.”

“Sore, Bu. Aku pesan kopi hitam, pakai gelas kecil, sedikit gula. Agar terasa sedap kopinya ketika mengalir dalam tengorokanku, sama rokok Gudang Garam Surya 16 sebungkus, pasangan yang serasi dalam dunia nongkrong, hmm.”

“Mei, kamu pesan apa?” tanya ibu.

“Aku Good Day gelas kecil, karena hari akan menjadi indah bersama Good Day. Rokok Malboro sebungkus, Bu.”

“Kamu rokok juga mei?”

“Ya, Bu. Tidak ada larangan bagi perempuan untuk tidak merokok, karena dengan merokok dapat memberi rasa ketenangan dan memacu insiprasi untuk saya, Bu.”

“Oh. Memang zaman berubah, perubahan gaya hidup pun berjalan mengikuti perubahan tersebut. Merokok bagi perempuan dianggap hal yang wajar. Kalau zaman ibu, pasti diberi stigma negative bagi perempuan yang merokok, ataupun keluar rumah lebih dari jam 9 malam, pasti dianggap perempuan kurang baik.”

“Ya, zaman telah berubah, fajar baru telah menyingsing dari dunia barat ke timur. Dunia telah maju, tidak mungkin kembali pada masa ibu dulu, perempuan sekarang sudah mulai sejajar dengan laki-laki.
Perempuan memang telah ada yang menjadi presiden, ada yang menteri, legislator perlemen, gubernur, bupati, walikota, aktivis, wartawan, TKW, maupun ada yang jadi ojek, sopir dan maupun kondektur pada busway, ataupun bis kota, ini dulu adalah pekerjaan yang identik dengan laki-laki. Sedangkan kami kaum perempuan hanya menanti di dapur atau di kasur pada malam hari.
Tradisi itu telah berubah, perempuan juga bisa. Sekarang juga banyak perempuan yang lebih memilih untuk mandiri, untuk tidak tergantung pada suami seperti anak kecil yang selalu tergantung pada orang tua. Karena dengan bebas, tanpa ikatan, akan mengalirkan perempuan untuk berkembang dalam mengejar cita-cita maupun impiannya.”

“Betul itu, Bu. Air tak pernah berhenti untuk menunggu kita. Air selalu mengalir dalam perkelanaanya. Perempuan juga butuh perkelanaan bukan hanya laki-lak. Era kebebasan bagi perempuan saat ini, bukan era Siti Nurbaya, bukan juga era ibu, tetapi sekarang era kami, perempuan yang berpikiran untuk selalu maju dalam hal yang dulu hanya menjadi tempat duduk nyaman bagi laki-laki. Tetapi, sekarang laki-laki berpikir ulang untuk mengangap bahwa perempuan tidak bisa. Perempuan juga memiliki khas yang besar untuk kelak bisa mengantikanya, karena sekarang juga banyak perempuan yang berperang sebagai kepala keluarga dalam kehidupan. Tanpa laki-laki pun, perempuan bisa untuk otonom dan mandiri. Pikiran yang dulu bahwa laki-laki di atas, sekarang sudah tidak memiliki tempatnya lagi. Mungkin tempatnya hanya dalam mimpi.”

“Ya, kalau mimpi ndak papa, itukan pemikiran orang dahulu kala. Hahaha. Radikal sekali kamu Mei.”

“Radikal apa? Steven, memang itu kenyataanya.”

“Aku ndak mau berdebat dengan kamu, kalau soal feminisme, aku no comment.”

“Karena itu, hak setiap perempuan untuk maju dan berkembang sejajar bersama laki-laki,untuk menghilangkan tradisi patriarki yang sekarang masih kuat di Indonesia. Tetapi, kadang perempuan juga menikmati penindasan tersebut.”

“Gila kamu perempuan bodoh saja yang mau menikmati penindasan, masa sudah tertindas tetapi ingin ditindas ulang. Gila betul memangnya binatang yang tidak bosan untuk di pukul?”

“Tetapi ingat, hewan juga bisa membalas. Apalagi perempuan yang memiliki akal, dan juga memiliki perasaan untuk selalu membela diri!”

“Mei, kamu itu selalu keras kepala dan ndak mau dengar orang lain punya pendapat. Kamu ini aliaran apa? Faeminism radikal?”

“Mau aliran apa kek, tidak jadi masalah buat aku! Perjuangan perempuan untuk kesetaraan harus terwujud itu yang penting. Bagaimana, Bu?”

“Sepakat, itu nak Mei. Perempuan harus berpikir untuk selalu maju dan mandiri, karena perempuan bukan seekor burung yang selalu harus di kurung di sangkar. Perempuan juga adalah manusia bebas, untuk terbang seiring angin berhembus.”

“Mei, aku setuju karena itu kehendak Tuhan. Untuk mahluk ciptaannya untuk saling berdampingan. Saling mengisi kata kejadian. Bukan aku, ya…”

“He?”

“Ya bisa Pak Pastor,” sambil menunjuk Steven.

“Gila kamu! Emangya aku pastor, apa?”

“Karena Tuhan juga patriarki, pastor juga patriarki.”

“Wah, radikal sekali pikiranmu.Hm.”

“Perempuan itu indah, seperti taman bunga yang penuh dengan keindahan, tetapi kadang tangan nakal yang menghancurkanya. Liat saja tempatnya steven di Kalimantan hancur alamnya, karena perselingkuhan antara penguasa dengan pengusaha. Lalu, dilindungi oleh militer yang memakai pakaian seperti terlihat warna hutan, tetapi merekalah yang turut untuk menghancurkan hutan. Perempuan yang masih polos dihancurkan sehingga seolah tanpa busana lagi. Harga dirinya kini telah hilang, martabatnya telah dirampas, masa depan anak-anaknya tak menentu. Terkadang semua ini seolah terlihat omong kosong, seperti mimpi bangun pagi telah terjadi perubahan. Seakan tertidur dalam dunia mimpi. Dunia yang dulu polos, kini suram, seakan air putih terisi tinta hitam dalam gelas, yang terlihat hanya bayangan kematian. Dahsyat sekali,perilaku elit-elit kita!”

 

Steven termenung sejam membayangkan kematian yang dipaksakan. Saking pusing karena tak menemukan jawaban, angin berhembus memberi tanda, namun soal ini, sulit!

Ia memesan kopi hitam, bersama rokok Djisamsum untuk menenangkan sakit kepalanya. Terkesan dari raut wajahnya ada rasa marah, ingin memberontak, namun itu hanya tanda tanya.

Tempatku sudah hancur, yang ada hanya kuburan-kuburan kosong, yang lebarnya seluas lapangan bola kaki, bola volley, maupun sirkut balapan. Kuburan kosong yang memakan korban, beberapa minggu lalu adek sepupu yang duduk kelas 4 SD, meninggal di kuburan kosong yang di genangi air kematian. Sedangkan mereka para elit, pengusaha, militer menikmati pondi-pondi uang, menikmati hidup yang mewah.

“Lalu kami apa?” tanya Steven.

Kami hanyalah barang bekas yang menjadi tempat sampahan, tak ada nilai lagi, tingal di buang saja semaunya.
Aku termenung, membayangkan tanah kita tanah madu dan susu, lalu yang ada seperti burung pemangsa yang menanti kapan kita mati, lalu dijadikan santapan lezatnya. Anak ayam mati di lumbung padi, anak elit mati bersama alkohol dan paha gadis montok. Hahaha. Dunia ini seakan terlihat lucu. Tawa dalam hati.

“Sudah jam berapa ini, Mei?

“Sudah jam 18.30 ini.”

“Wao sudah malam, kayanya hujan belum reda, alam lagi menangis atas penderitaan umat manusia, yang di ekploitasi demi kepentingan ekonomi politik segelintir predator haus uang,dan darah.”

Tak terasa kami uda 2 jam di angkringan Bu Rini, di bawah basment tempat parkiran motor, semakin malam semakin sesaak parkiran motor. Mantel hujan mengantikan payung, demi sebuah tujuan, mengejar masa depan untuk memperbaiki nasib kata orangtua maupun guru.

Kantin Bu Rini kini mulai ramai. Sambil menunggu kuliah mulai, mahasiswa kelas malam ada yang pesan kopi, teh, white kopi, susu jahe, mie rebus, untuk menghangatkan badan,s ebelum berperang melawan dingginya AC di ruangan. Mata bergentayangan mencari jam, mulai menghilang satu per satu mahasiswa kelas malam. Jam memanggil mereka untuk masuk kuliah, menghilang satu per satu seperti menghilang ditelan bersama kabutnya dingin. Kini tingal kami bersama Bu Rini.

“Gimana? Balik, yuk!”

“Gerimis hujan mulai reda, gimana Steven?” tanya Mei. “Ayo aku belum mandi ini!”

“Emangya kamu tau mandi juga Mei?”

“Emangya kamu pikir aku ini malas mandi? Ya biar radikal dalam prinsip pikiran soal emansipasi tetapi aku juga harus terlihat feminine dikitlah.Hahaha.”

“Berapa semua, Bu?”

“Rp.46.000” kata Bu Rini sambil menerima uang Rp.50.000. “Ini kembalianya Mei, Rp.4.000,”

“Oke sampai jumpa besok, di kampus. Say good bye tommorow again!”

Ishak Bofra (Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Universitas Janabadra)

Check Also

Masak dalam Mimpi

Oleh Muhammad Lutfi (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)   Masak dalam Mimpi Seorang …