Home » Sastra » Cerpen » Siapapun Itu, Sama Saja Untukku

Siapapun Itu, Sama Saja Untukku

Dok. Istimewa

Senja tahu, ada yang sedang menikmati keindahannya menyatu dengan samudera. Ia tau, sehingga ia tak lekas berpamitan. Ia tahu ada sepasang kupu-kupu tengah mengintipnya di balik kelopak bunga. Ia tahu, sehingga ia berlama pamerkan pesonanya. Sungguh indah kebersamaan sepasang insan yang tengah dimabuk cinta, berdua di tepi pantai kala senja.

“Ica!” aku menoleh pada sosok apik di sampingku yang selalu bisa membuatku nyaman mendengar panggilannya.
“Iya, Don?” balasku dengan lembut.
“Meskipun hanya menikmati senja, jika kau tetap disampingku aku selalu merasa bahagia, Ca. Tetap seperti ini, ya!” ucap Doni seraya menggenggam tanganku.
“Kalau kamu ingin seperti itu, jangan pernah membuatku menangis karena sakit hati ya, Don. Buat aku meneteskan air mata karena bahagia bisa memilikimu.” Doni langsung memelukku dengan hangat.
“Aku berjanji, Ca.”
Kami pun saling mnyematkan jari kelingking sebagai tanda sebuah ikrar.

Indah rasanya setiap hariku. Kesepian tidak pernah menyapaku karena Doni selalu ada menemaniku.
Namun, semua terasa sangat berbeda ketika tiba-tiba ayahku memasukkanku ke dalam sebuah pesantren yang jauh dari tempat tinggalku. Aku bahkan tidak tahu rencana ayahku. Sejak saat itu, aku tidak tahu bagaimana kabar Doni.
Empat tahun aku di pondok dan tidak pernah pulang sama sekali. Pada awalnya, aku hanya menangis ingin pulang dan bertemu Doni. Tetapi, aku tidak bisa menahan kehendak ayahku. Selama aku menjalani kehidupanku di pondok, aku semakin terbiasa. Bahkan 2 tahun terakhir aku sudah tidak terlalu mengingat Doni. Meskipun terkadang hatiku bertanya, sedang apa dan di manakah dia?

Akhirnya, empat tahun telah kulalui. Sekarang sudah banyak yang berubah dengan diriku. Aku sekarang mengenakan pakaian tertutup, yang sebelumnya selalu mengenakan dress mini. Cara berbicaraku pun berbeda. Aku lebih banyak diam dan mendengarkan. Sesekali aku berbicara jika memang diperlukan dan bermanfaat.

Aku sudah meninggalkan kehidupanku yang dulu. Kehidupan yang penuh dengan hura-hura. Kehidupan yang sering kujalani berdua dengan Doni. Pergi kemana-mana berdua meskipun belum ada ikatan halal di antara kita.
Kini, aku tidak tahu Doni ada di mana dan bagaimana keadaannya. Apakah dia masih mencintaiku, masih mengingatku, mengingat perkataannya dulu untuk selalu bersamaku? Entahlah, justru sekarang yang aku inginkan adalah seorang pendamping hidup yang berani memintaku secara halal kepada orangtuaku.

Siapakah dia? Dan dari manakah dia berasal? Aku berharap secepatnya mendapatkan imam untuk diriku. Sehingga aku tidak merasakan sendiri lagi.

Indah rasanya setiap hariku. Kesendirian tidak pernah menyapaku., karena aku mempunyai seorang yang sangat aku cintai dan akan selalu aku jaga. Ica, selalu terlihat sempurna untukku. Apapun bisa kulakukan untukknya.
Namun, tiba-tiba hariku berubah kelam, saat aku tahu dia dimasukkan ke sebuah podok pesantren oleh ayahnya. Parahnya, aku tidak tahu di mana Ica dipesantrenkan. Selama setengah tahun aku menunggu kabar, bertanya kepada keluarganya. Tetapi mereka tidak pernah memberitahuku di mana kekasih tercintaku itu. Ayahnya begitu keras menutupi semua informasi tentang Ica.

Ketika suatu saat kakiku menuntunku masuk ke sebuah pesantren. Aku berharap di sana ada Ica. Beberapa hari aku tidur di masjid pondok itu, tetapi tidak kutemukan Ica di sana. Suatu saat, aku hendak pulang dari pondok itu, tetapi seseorang mengajakku berbicara dan mengajakku mondok di sana. Aku yang waktu itu hanya terpikir untuk bertemu Ica, memutuskan menerima tawarannya dengan harapan suatu saat aku menemukan Ica di sana. Karena banyak santriwati di sana dan belum aku temui semuanya.

Setelah sekian lama aku berada di pondok itu. Aku tiba-tiba merasakan kenyamanan, dan semakin hari aku semakin rajin mengikuti kegiatan di sana. Pikiranku sekarang telah teralihkan dari sosok Ica. Aku menetap di sana dan tidak pulang selama tiga tahun.

Ketika aku sudah kembali ke rumah, aku merasakan butuh seseorang untuk menemani hidupku. Sempat terpikir untuk menemui keluarga Ica, tetapi aku belum berani kembali. Aku takut mereka masih seperti dulu, menutup telinga dan tidak memberikan penjelasan tentang Ica.
Yang saat ini aku pikirkan adalah bagaimana menata kehidupanku setelah lepas dari pesantren. Aku mulai mencari pekerjaan halal untuk mengisi waktuku dengan hal bermanfaat sebelum aku siap untuk mencari pasangan hidup.
Beberapa waktu terakhir ini, banyak undangan pernikahan dari teman-temanku sewaktu di pesantren. Aku ikut bahagia mereka telah menemukan sosok imam yang akan menuntun mereka. Aku sendiri sering meminta diberikan yang terbaik kepada Yang Di Atas.

Terkadang aku merasa iri kepada mereka, apalagi ketika ada yang bertanya, ”Ica kapan nyusul?” aku hanya bisa menjawab dengan senyuman penuh harapan.

Suatu hari ayah mengajakku berbicara. Aku terkejut ketika beliau mengatakan bahwa ada seseorang yang telah meminta restu ayah untuk menemuiku dan menanyakan kesanggupanku untuk menikah dengannya. Tentulah aku sangat bahagia, meskipun ayah tidak mengatakan siapa orang itu. Tapi ayah yakin dia baik untukku. Aku turuti saja ucapan ayah, karena aku tahu diapun menginginkan yang terbaik untukku. Aku sudah tidak sabar mengetahui siapa dia. Dua hari lagi aku akan bertemu calon imamku dan keluarganya.

Aku bekerja sudah lumayan lama di sebuah perusahaan besar, dan tak kusangka aku mendapat posisi sebagai wakil direktur. Sebuah prestasi yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Direkturku mengatakan bahwa ia sangat menyukai metodeku karena menyelipkan nilai-nilai kerohanian dalam pekerjaanku. Syukur, Alhamdulillah.
Suatu saat, direkturku mengajakku bersenda gurau dengan pertanyaan yang membuatku sedikit tersipu. Dia bertanya kapan aku menikah. Katanya umurku sudah pantas memiliki seorang istri apalagi melihat prestasi kerjaku yang membanggakan. Akupun mulai menimbang-nimbang wanita mana yang pantas menjadi istriku. Aku pun berdoa supaya diberi petunjuk oleh Allah.

Ketika doaku mendapat jawaban, hatiku diberikan keyakinan terhadap seorang wanita yang aku yakin akan bisa menemani sisa hidupku. Akupun menemui keluarganya, khususnya ayahnya untuk meminta dipertemukan bersama keluargaku. Ayahnya menyetujuinya. Entah apa yang membuatnya berbeda dari beberapa waktu lalu. Tetapi aku sangat bahagia karena dua hari lagi aku akan bertemu calon istriku.

Akhirnya waktu untuk bertemu seseorang yang dipilihkan ayahku pun tiba. Aku dan keluargaku menunggu kedatangannya di ruang tamu. Hatiku rasanya tak menentu, aku sangat gugup, siapakah pria baik itu dan mampukah aku menerima dan membahagiakannya kelak?

“Ting-tong!” suara bel berbunyi, mungkin itu pria yang diceritakan ayah. Hatiku semakin tidak karuan, ketika ayahku menemuinya di pintu dan berbincang sebentar, kemudian ayah mempersilakan dia dan keluarganya masuk.
Masih dengan hati yang bergetar, aku tertunduk, masih belum kuasa melihat sosok calon imamku. Setelah berhasil menguasai hatiku, aku coba untuk melihat sosok itu. Betapa terkejut sekaligus bahagianya aku, ternyata sosok yang berada dihadapanku adalah sosok yang beberapa tahun mengisi hari-hariku. Ya, dia Doni Saputra, yang sekarang sudah sangat berbeda. Aku tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah dan tanpa sadar bertekad untuk menjadi istri yang baik bagi Doni.

Kala Tuhan sudah menakdirkan, tiada satupun tangan yang dapat merubah keputusan. Sepanjang dan sesulit apapun kita terpisahkan, pada akhirnya kita akan dipertemukan.

Sri Endang Maulani (Mahasiswa UNY)

Check Also

Masak dalam Mimpi

Oleh Muhammad Lutfi (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)   Masak dalam Mimpi Seorang …