Home » Berita » Film Penumpasan PKI Diputar Terbuka di Yogyakarta

Film Penumpasan PKI Diputar Terbuka di Yogyakarta

nobar-g30s-pki-elemen-merah-putih

Salah seorang berseragam loreng Pemuda Pancasila berada dalam kerumunan penonton pemutaran film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta, Jumat (30/9). Foto oleh Fahrudin/EKSPRESI

Ekspresionline.com – Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI diputar terbuka di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta pada Jumat (30/9). Acara layar tancap film ini diinisiasi oleh tiga puluh tiga organisasi masyarakat yang tergabung dalam Elemen Merah Putih. Saifudin, salah seorang anggota Pemuda Muhammadiyah yang ikut mengadakan acara ini mengaku ingin mengingatkan masyarakat tentang bahaya komunis di zaman sekarang. Menurutnya banyak orang-orang partai politik pemikirannya berpandangan komunis. “Memang saya bukan orang pintar, tapi saya melihat banyak di partai politik itu berpandang komunis,” ungkapnya.

Menurutnya saat ini Partai Komunis Indonesia sudah kembali muncul, “Mereka tidak nyata tapi ada dampaknya.” Pergerakannya adalah gerakan bawah tanah melalui penyebaran pemikiran dan simbol komunis di buku-buku dan media sosial. Sehingga orang-orang yang tidak tahu akan mudah merasa simpati dan nantinya memutarbalikkan fakta. “Simbol bahasa proletar, wong cilik, dan kaum marhaen itu jargonnya PKI. Kita sebagai orang politik pasti mengerti tentang istilah-istilah seperti itu,” ungkapnya.

Pemutaran film ini, dikatakan Saifudin, sekaligus memperingati peristiwa 30 September 1965 dan mengingatkan ke anak-anak muda bahwa pemberontakan PKI tidak hanya di tahun itu. “Pada tahun 1948 pemberontakannya juga besar yang dipimpin oleh Muso di Madiun,” jelasnya. Salah satu pengunjung yang datang, Agus, menilai acara ini bagus untuk mengenang sejarah.

Setelah reformasi, film ini memang tidak lagi ditayangkan di layar kaca karena terdapat banyak adegan kekerasan di dalamnya. Selain itu, terdapat permintaan dari Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI) untuk menghentikan penayangan ini karena dinilai terlalu mendiskreditkan beberapa golongan dan mengultuskan Soeharto.

Fahrudin

Check Also

Wakil Rektor III: Tidak Ada BEM, Tidak Masalah

Sumaryanto, Wakil Rektor III (WR III) Universitas Negeri Yogyakarta mengatakan garis antara Badan Eksekutif Mahasiswa …