Home » Expedisi » Di Tengah Keterbatasan Dana

Di Tengah Keterbatasan Dana

Tidak adanya dana khusus untuk menjalankan berbagai kegiatan mahasiswa Bidikmisi membuat Bangun Tri Sudianto harus memutar otak.

Fomuny tetap bisa menjalankan berbagai kegiatannya dengan dana yang belum jelas, terkadang pengurus Fomuny menggunakan dana pribadi meski keuangan mereka terbatas. Begitulah ungkapan Bangun Tri Sudiatno, koordinator Family Of Mahadiksi UNY (Fomuny) 2016.

Bangun baru saja mengikuti kegiatan uji coba computer based test (CBT) yang akan digunakan untuk tes SBMPTN tahun ini dan dihadiri oleh para mahasiswa Bidikmisi kala ditemui awak EXPEDISI, Kamis (19/5) di sekretariat Fomuny. Sekretariat itu terletak di gedung Menwa lantai dua sayap timur. Bangun mempersilakan duduk untuk menunggu di depan ruang UKM Kewirausahaan terlebih dahulu sebelum berbincang dengannya. Saat itu Bangun sedang sibuk membaca sebundel kertas.

Koordinator Fomuny yang juga terdaftar sebagai mahasiswa aktif Teknik Otomotif 2014 tersebut lalu menghampiri, bersebelahan persis dengan sekretariat Fomuny. Bangun kala itu menggunakan batik dan celana bahan sederhana. Dia kemudian mengajak berpindah tempat di depan sekretariat Fomuny. Di dalam, terlihat beberapa pengurus Fomuny sedang mengadakan rapat.

Fomuny, menurut Bangun tidak jauh berbeda dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) karena anggotanya berasal dari berbagai fakultas. Bedanya, anggota Fomuny hanya dari mahasiswa Bidikmisi. “Fomuny tidak bisa disebut organisasi karena cuma komunitas,” tambah Bangun.

img20160519170401

Bangun Tri Sudiatno. Foto oleh Danang/EXPEDISI

Komunitas yang terbentuk pada 5 Januari 2013 ini berfungsi sebagai penyalur informasi dari birokrasi ke mahasiswa Bidikmisi terkait hal yang berhubungan dengan Bidikmisi. “Seperti kemarin tentang mahasiswa Bidikmisi susulan. Fomuny diminta menyalurkan informasi bahwa masih terdapat 200 kuota untuk mahasiswa Bidikmisi,” jelas Bangun.

Divisi Public Relation dan Media Fomuny yang bertugas mencari informasi perihal Bidikmisi atau beasiswa di Dikti dan kemahasiswaan lalu menyebarkan pemberitahuan tersebut melalui grup mahasiswa Bidikmisi. “Jadi, ada grup sendiri. Tidak cuma memberitahukan lewat Facebook saja, karena teman-teman bidikmisi tidak semua selalu membuka Facebook,” katanya.

Kepengurusan Fomuny tidak jauh berbeda dengan kepengurusan dalam organisasi. “Intinya, Fomuny sebagai pelayan mahasiswa Bidikmisi dan Fomuny juga menyediakan formulir untuk teman-teman penerima Bidikmisi menyampaikan keluhannya di situs Fomuny,” ungkap Bangun. Situs yang dimaksud adalah bidikmisi.student.uny.ac.id. Selain itu Fomuny juga memilki agenda kegiatan tersendiri seperti kumpul antar pengurus untuk meningkatkan kerjasama, pelatihan bahasa Inggris, English Conversations Course dan upgrading.

Pendampingan Fomuny untuk mahasiswa Bidikmisi saat ini adalah berfokus pada kegiatan perlombaan. Namun, tidak melupakan masalah perihal kerancuan dana Bidikmisi yang terdapat pada dana KKL FIS. Bangun juga menjelaskan, “Pihak Fomuny sudah menanyakan ke bagian kemahasiswaan, tetapi bagian kemahasiswaan tidak tahu mengenai dana-dana yang keluar untuk Bidikmisi.” Menurut Bangun, Fomuny juga belum mendapatkan kejelasan dana untuk kegiatan-kegiatan lomba.

Bangun lalu membandingkan dengan sistem di UKM. “UKM kan sudah jelas mendapatkan dana sekian untuk kegiatan apa, di Fomuny tidak seperti itu. Belum ada dana khusus. Sehingga membuat pihak Fomuny bingung ketika mau mengadakan kegiatan,” ujarnya.

Ketika Fomuny ingin mengadakan kegiatan tetapi tidak mendapatkan dana, Bangun juga sering menanyakan kepada pengurus lain di Fomuny apakah tidak keberatan jika semisal menggunakan dana pribadi untuk mengadakan kegiatan. “Kalau misalkan seperti itu ya mau tidak mau menggunakan dana sendiri meski dari segi finansial mahasiswa Bidikmisi juga sangat terbatas,” terang Bangun.

Sumber dana Fomuny tahun ini menggunakan kas peninggalan pengurus tahun lalu saat koordinator Fomuny masih Teguh Arifin. Selain itu, dari pembina Fomuny, Bangun juga mendapat info kalau ada tambahan dari uang pembinaan Bidikmisi tahun ini sebesar Rp12.500.000,00. Namun, Bangun masih menyangsikan adanya dana tersebut, “Fomuny mau mengkaji lagi, apakah benar seperti itu atau tidak,”

Bangun menceritakan Fomuny sebelumnya mendapat kunjungan dari komunitas mahasiswa Bidikmisi (Universitas Negeri Semarang) UNNES. Mereka berbicara banyak hal mengenai Bidikmisi. Menurut Bangun, pembinaan Bidikmisi di UNNES bagus sekali terlebih kegiatan mahasiswa Bidikmisi di UNNES bekerja sama dengan bagian Kemahasiswaan. “Di sana uang Bidikmisi sudah ada pemotongan untuk acara yang berkaitan dengan Bidikmisi langsung. Sehingga kegiatan untuk mahasiswa Bidikmisi UNNES selalu ada. Uangnya bersumber dari sana,” jelasnya.

“Kalau di UNY, misal hendak menarik dana dari uang Bidikmisi untuk kegiatan khusus mahasiswa Bidikmisi, takutnya ada yang tidak berkenan,” imbuh Bangun. Bangun mengakui bahwa Fomuny sempat mengusulkan kepada pihak Kemahasiswaan UNY untuk melakukan pemotongan dana Bidikmisi seperti di UNNES. Namun, hal tersebut tidak diizinkan. “Tidak tahu alasannya apa, mungkin karena dari tahun ke tahun tidak pernah dilakukan pemotongan,” kata Bangun menambahkan.

Wakil Rektor (WR) III Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes. mengungkapkan perihal dana yang ditujukan kepada Fomuny mempunyai jatah tersendiri. “Kalau kurang, nanti akan diambilkan dari luar dana tersebut,” tuturnya. Dana yang dimaksud adalah dari manajemen kemahasiswaan, bukan dana ormawa. “Kalau kesulitan keuangan, Fomuny menggunakan dana perjalanan dinas wakaf WR III atau staf ahli,” tambahnya.

Sumaryanto juga menerangkan sumber dana Fomuny. Katanya, “Diambil dari dana pembinaan mahasiswa Bidikmisi, bantuan dari kemahasiswaan, iuran anak-anak Fomuny sendiri, dan mencari sponsor ketika ada kegiatan.” Kepedulian birokrasi terhadap Fomuny nampak dengan adanya ruangan khusus untuk komunitas tersebut pada tahun 2015. Kegiatan-kegiatan forum mahasiswa Bidikmisi juga diikutsertakan dengan mengirim perwakilan dari UNY semisal untuk pertemuan forum mahasiswa Bidikmisi se-Indonesia dan membantu lomba yang melibatkan anak-anak Fomuny.

“Kalau di UNY, misal hendak menarik dana dari uang Bidikmisi untuk kegiatan khusus mahasiswa Bidikmisi, takutnya ada yang tidak berkenan,”

Sumaryanto juga menjelaskan bahwa Fomuny bukanlah badan semi otonom di bawah kementrian kesejahteraan BEM UNY. Sumaryanto menerangkan ke depannya bahwa mahasiswa penerima beasiswa juga akan memiliki koordinator seperti Fomuny. “Untuk semua penerima beasiswa saya fasilitasi harus ada koordinatornya. Untuk beasiswa apa saja, tidak hanya penerima Bidikmisi saja,” tandasnya.

Bangun sendiri menyayangkan belum adanya koordinasi dari pihak BEM UNY perihal penjelasan sistem kerja dalam Fomuny. Hal tersebut juga ditujukan kepada pihak birokrat. Keaktifan pihak BEM UNY dalam memberikan informasi terkait mahasiswa Bidikmisi tidak seaktif BEM UNY tahun lalu menurut Bangun.

BEM UNY sebagai penampung aspirasi mahasiswa melalui Menteri Kesejahteraan Masyarakat, Muhammad Syaiful Ardans, senada dengan Sumaryanto berkata bahwa Fomuny adalah badan semi otonom bukan bagian dari Kesejahteraan Masyarakat BEM UNY.

Tentang penyebaran informasi Bidikmisi tersebut Syaiful menambahkan, “Apabila secara fungsional Fomuny lebih memiliki hak terkait dengan informasi bidikmisi tetapi, BEM juga memiliki hak untuk menyebarluaskan informasi yang ada di UNY. Dikarenakan hal tersebut merupakan salah satu fungsi dari BEM.” Sebelumnya Syaiful mengungkapkan Fomuny sebagai mitra kerja dan akan saling bersinergis. “Itu pembagiannya sudah tertera dalam surat keputusan (SK) yang dibentuk dan diberikan pada Fomuny”.

Terkait dengan kemitraan kerja dengan Fomuny, pihak Kesejahteraan Mahasiswa sudah mengoordinasikan dengan beberapa pengurus Fomuny. Pihak Kementrian Mahasiswa juga menginginkan agar Fomuny dijadikan lembaga yang resmi sehingga mahasiswa Bidikmisi di UNY bisa didayakan dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. “Mahasiswa Bidikmisi itu harusnya mahasiswa yang memiliki kemampuan dibandingkan dengan yang lain, karena sudah diberikan tanggungan oleh pemerintah,” tandas Syaiful.

Redaktur: Danang Suryo

Reporter: Fahrudin, Heni, Meida

*Tulisan ini dimuat juga di rubrik Tepi Buletin EXPEDISI Edisi II September 2016 – Nyala Akademik Setelah Petang

Check Also

Penyelamat Arsip Musik Indonesia

David Tarigan adalah pendiri Aksara Records, juga salah satu inisiator pengarsipan digital rilisan fisik piringan …