Home » Sastra » Cerpen » Setelah Subuh

Setelah Subuh

https://id.pinterest.com/pin/392094711289924600/

“Galau?” tanya Tuti.

“Enggak,” jawabku.

“Itu lagunya kok diputer terus?”

Aku mengernyitkan dahi.

kata orang rindu itu indah

namun bagiku ini menyiksa

sejenak kufikirkan untuk kubenci saja dirimu

namun sulitku membenci…

Denting-nya Melly mengalun begitu sendu, tapi aku enggak galau. Heran saja kalau Tuti barusan menanyakan.

“Kamu galau?” tanyanya lagi.

“Hih, enggak,” kataku.

“Itu lho lagumu…”

“Ya kenapa?”

Melow banget.”

Aku ketawa saja. Memang lagunya melow, tapi kan aku enggak galau, batinku.

rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini

kita menari dalam rindu yang indah

sepi kurasa hatiku saat ini oh sayangku

jika kau di sini aku tenang…

“Kok ya pas banget sih, pas lagi gerimis. Lagumu itu lho…” Tuti masih ngoyak.

“Kamu kali yang galau! Komen terus,” tuduhku.

Ia ganti ketawa.

Ini waktu sudah mendekati fajar. Baru saja adzan subuh, beberapa teman di banyak kamar terdengar memainkan keyboard laptop. Masih terjaga, sepertinya. Dan udara terasa dingin diiringi gerimis yang awet sedari kemarin. Tuti membaca sambil tiduran di lantai beralas karpet. “Mbok ya pindah ke kasur biar nggak masuk angin,” kataku. Tapi ia diam saja. Menghayati bacaannya, mungkin. Atau malah jadi tertidur.

“Eh lagunya diputar lagi, dong!”

Yaelah! Tuti ternyata menghayati lagunya. Langsung aku play lagi, masih, masih di Denting-nya Teh Melly.

“Kamu galau, Tut?” aku balik tanya.

Ia meringis. Aku merenggut buku yang ia baca, Perempuan di Titik Nol karangan Nawal El-Sadawi. “Ngerinya bacaanmu,” ujarku seraya membalik-balik cover bukunya.

“Kok ngeri, sih? Asik tau ceritanya!”

“Tentang apa?”

“Pelacur gitu. Yang tangguh dan berpendirian. Pokoknya enggak cemen.”

“Enggak cemen bagaimana maksudnya?”

“Ah.. gitulah pokoknya,” direnggutnya lagi buku dari tanganku.

Ya, ya, ini jam sudah menunjukkan titik lelah. Tidak asik lagi untuk bercerita, dan herannya, suara-suara hampir sama datang dari kamar-kamar. Ada yang cekikikan, ngetik sambil muter lagu-lagu, dan srak-srek gesekan buku yang dibolak-balik. “Kok tumben ya, sudah kelewat subuh belum pada tidur,” ujarku. Tuti diam saja.

Gerimis makin pelan menyuara, bersentuhan dengan talang yang mengucur ke bak mandi di depan kamar. Beberapa teman terdengar keluar bergantian. Saling menyalakan keran, mengambil wudhu, mencuci piring, dan ada yang menguap di depan pintu. Aku tergerak keluar dari kamar juga, ingin menghirup udara basah. Dan ya, dinginnya… Langsung saja aku refleks masuk, segera menelungkup di kasur. Menutupkan selimut ke sekujur badan.

“Malah tidur,” kata Tuti mulai lagi.

“Emang sudah jamnya tidur.”

“Sholat dulu sana.”

“Kamu saja.”

Aku memiringkan badan ke tembok. Tuti sudah tahu, itu tandaku bersiap tidur  dan tidak ingin diajak ngomong lagi. Karena sudah saking ngantuknya, kubiarkan lagu menyala.

“Bentar, bentar,” tiba-tiba Tuti mengagetkan tidurku yang hampir mimpi. “Nanti sarapan di ibu-ibu murah itu ya.” Aku malas jawab. Terdengar Tuti ngotak-atik playlist, ternyata lagunya diulangi lagi. Woalah

Di luar terdengar ada yang menyalakan motor, makin lama makin keras suaranya. Tidurku benar-benar terganggu. Yang awalnya satu orang memanaskan motor, sekarang sudah ada tiga motor dipanaskan bersamaan. Tuti cekikikan. Aku menyingkap selimut. Terasa di kepala pusing otomatis.

“Sudahlah enggak usah tidur sekalian. Bentar lagi berangkat ke kampus.”

“Enak saja. Tidur itu perlu biar badan fresh.”

Sementara suara motor semakin, ngenngggggggg….. ngeeennnnggggggg….. ngeeeennnggggg….

“Aku ngantuuuukk!”

“Ya sudalah tidur, ribet!”

“Berisik! Itu lagunya matiin saja. Dan kamu enggak usah omong.”

“Ya.”

Laptop di shutdown. Lampu kamar dimatikan. Kelambu yang menutup diikat, dan nampak embun berderet menempel di kaca. Jendela ia buka sedikit sambil diganjal sisir yang sudah tidak terpakai. Rasanya oksigen masuk memenuhi ruangan, segar. Tetapi berisik di luar masih ada. Dan gerimis belum reda juga.

Aku langsung kepikiran, ini hari Senin, ya Tuhan.

“Emang kenapa kalau Senin?”

“Yaampun Tut, ya ini.. hari Senin masak enggak tahu sih.”

“Apaan sih, enggak jelas.”

“Gak jelas bagaimana?”

“Kamu itu. Maksudmu apa hari Senin?”

“Ya ini hari nulis.”

“Nulis apaan?”

“Ya nulis puisi.”

“Hah, puisi?” Tuti mengerutkan dahi.

Aku mengangguk.

“Aneh!”

“Kamu yang aneh.”

“Kok jadi aku yang aneh? Lah maksudmu apa hari Senin hari nulis puisi?”

“Ya pokoknya nulis puisi.”

“Tuh kan, aneh. Sudah lah, kamu itu ngantuk. Ngomong ngelantur. Jangan-jangan ini ngigau lagi.”

You mean, ngelantur?”

Tuti nyelonong keluar ke kamar mandi.

Dan entah bagaimana ceritanya, sewaktu kubuka mata, jam di hape sudah 12.05. Tetapi hawa di luar dingin, sepantasnya matahari memanaskan cuaca. Nyatanya tidak kuasa mengelak dari mendung. Kenapa ini, pikirku. Oktober seperti mata uang baru.***

Winna Wijaya

Check Also

Masak dalam Mimpi

Oleh Muhammad Lutfi (Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret)   Masak dalam Mimpi Seorang …